4 Kecamatan Minim Air

Empat kecamatan di Aceh Besar, yakni Ingin Jaya, Krueng Barona Jaya, Darussalam, dan Baitussalam, minim air

4 Kecamatan  Minim Air
Direktur PDAM Tirta Daroy, HT Novizal Aiyub, menjelaskan sistem distribusi air pada Wali Kota Banda Aceh, H Aminullah Usman saat meninjau pusat distribusi air perusahaan daerah tersebut di Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, 

* Bendung Karet di Lambaro Kembali Bocor

BANDA ACEH - Empat kecamatan di Aceh Besar, yakni Ingin Jaya, Krueng Barona Jaya, Darussalam, dan Baitussalam, minim air. Kondisi ini sudah sejak seminggu terakhir.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, memasak, dan mencuci pakaian, warga harus membeli air dari mobil tangki. Di samping itu adapula yang bergantung pada sumur, meskipun kualitas air kurang.

Informasi ini awalnya diperoleh Serambi dari seorang Ingin Jaya, Jumat (4/1). Dikonfirmasi terpisah kemarin, Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mountala Aceh Besar, Ir Sulaiman, mengatakan terganggunya suplai air ke pelanggan di empat kecamatan itu akibat kebocoran Bendung Karet Krueng Aceh di kawasan Lambaro, Aceh Besar. Meski sudah ditambal pada September 2018, bendung karet itu kembali rusak di tiga sisi titik kebocoran.

Diungkapkan, kondisi Bendung Karet Lambaro hingga saat ini semakin memprihatinkan, yang berakibat pada pengumpulan air baku di kolam intake tidak maksimal. “Air tak bisa dikumpul maksimal karena keluar lagi dari titik kebocoran. Masalah air baku ini yang membuat suplai ke pelanggan terganggu,” ujarnya.

Menurut Sulaiman, kebocoran bendung karet sudah berlangsung sejak setahun lalu, dan selama ini ditambal. Namun akibat tingginya curah hujan serta banjir yang melanda Aceh Besar akhir 2018, membuat tambalan itu bocor lagi. “Kondisi terparah sejak seminggu terakhir, air baku yang dapat ditangkap sangat sedikit. Hal ini menyebabkan suplai air ke sekitar Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Krueng Barona Jaya, Darussalam, dan Baitussalam terputus-putus,” jelas dia.

Selama bendung belum diperbaiki atau bahkan diganti, lanjut Sulaiman, pihaknya sudah berupaya mengorek dasar sungai di lokasi air baku menggunakan ekskavator, agar bisa menampung lebih banyak air. Selain itu, sejumlah pompa irigasi juga dipasang untuk menyedot air ke kolam intake.

“Tapi usaha ini tetap tidak maksimal. Ketersediaan air baku minim karena bendung karet bocor, bukan karena teknis pelaksanaan atau distribusi. Kami mohon perhatian dari dinas terkait, bendung karet itu sudah seharusnya diganti,” pinta Sulaiman, dan mengaku sudah melayangkan surat ke Dinas SDA sejak tahun lalu untuk menangani permasalahan tersebut.

Sementara itu, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I sebagai penanggungjawab Bendung Karet Krueng Aceh di Lambaro belum memberikan keterangan terkait penanganan sarana operasi pembendungan air itu. Kepala BWS Sumatera I, Ir T Maksal Saputra MT yang dicoba konfirmasi hingga tadi malam tidak merespons panggilan telepon maupun pesan singkat yang dikirimkan.(fit)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved