Opini

Aceh ‘Lumbung’ Difteri

APAKAH kita semua masyarakat Aceh masih ingat dengan difteri? Sudah pahamkah dengan penyakit mematikan tersebut?

Aceh ‘Lumbung’ Difteri
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Penduduk Pulau Sarok, Singkil, Aceh Singkil, mengikuti vaksinasi difteri yang dilakukan Dinas Kesehatan setempat, Jumat (26/1/2018). 

Oleh Aslinar

APAKAH kita semua masyarakat Aceh masih ingat dengan difteri? Sudah pahamkah dengan penyakit mematikan tersebut? Aceh, daerah tempat tinggal kita ini dilanda wabah penyakit difteri sejak 2012. Puncak kasus yang sangat banyak mulai ada pada 2017. Ketika itu, kita sudah melakukan ORI (Outbreak Response Immunization), yaitu suatu respons pemberian imunisasi massal saat terjadinya wabah.

ORI tersebut dilakukan sebanyak 3x di provinsi Aceh yang ditemukan kasus difteri. Saat itu, selama beberapa bulan difteri menjadi trending topic di media massa termasuk media cetak. Kepanikan juga terasa (terjadi). Yang sebelumnya banyak para orang tua yang tidak mengimunisasi anaknya karena ragu (akibat berbagai isu yang tidak bertanggung jawab) atau tidak sempat karena kesibukan, akhirnya membawa anaknya untuk imunisasi.

Tapi kemudian mulai sepi pemberitaan. Apakah kasusnya sudah menurun atau malah tidak ada? Nol besar jawabannya. Kasus difteri masih terus terjadi dan malah menunjukkan peningkatan. Dan masih saja ada masyarakat yang tidak paham apakah itu difteri. Kembali enggan membawa anaknya imunisasi dengan berbagai alasan. Baru mulai ngeh bila sudah mengenai anggota keluarga sendiri. Apakah mesti jatuh korban dulu dalam keluarga kita, baru mau membawa anak anak imunisasi?

Sangat menular
Difteri merupakan penyakit yang sangat menular, disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian yang disebabkan oleh obstruksi (sumbatan) laring atau karena miokarditis (komplikasi pada jantung). Bakteri penyebab akan mengeluarkan toksin (racun) yang bisa menyebabkan pembengkakan tonsil (amandel) hingga menutup jalan nafas. Toksin yang dihasilkan tersebut juga bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung (miokarditis), sistem saraf (neuritis) dan ginjal (glomerulonefritis).

Penyakit difteri bisa menular melalui kontak dengan pasien atau melalui droplet (percikan) ketika batuk, bersin atau saat berbicara. Muntahan atau pun debu juga bisa merupakan wahana penularan penyakit ini. Kuman yang terpercik akan masuk ke mukosa di sekitar mulut, kemudian akan melekat serta berkembang-biak di bagian permukaan mukosa saluran pernapasan bagian atas. Menghasilkan toksin yang akan disebarkan ke sekelilingnya dan akan dibawa ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

Berat ringannya gejala yang timbul sangat bervariasi dari tanpa gejala sampai yang berat bahkan fatal akibatnya. Faktor yang berperan adalah sistem imunitas orang yang diserang, virulensi dan kemampuan kuman membentuk toksin. Faktor yang lain adalah usia, penyakit yang sedang diderita, dan penyakit yang ada di lokasi saluran nafas atas yang sudah ada sebelumnya. Masa tunas difteri (masa dimulai dari saat infeksi sampai timbul gejala) berkisar 2-6 hari dan biasanya pasien baru dibawa berobat setelah beberapa hari menderita demam.

Proteksi atau perlindungan supaya terhindar dari penyakit difteri adalah harus mempunyai imunitas terhadap kuman tersebut. Imunitas tersebut hanya bisa didapat dari vaksin DPT. Vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) merupakan imunisasi rutin yang diberikan masing masing pada usia 2, 3, 4, 18 bulan. Kemudian dilanjutkan pemberian booster (dosis penguat) pada saat kelas 1 Sekolah Dasar (SD) yaitu vaksin DT dan pemberian vaksin Td untuk anak kelas 2 dan 5 SD. Pemberian imunisasi pada anak sekolah ini disebut dengan kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Jadi dibutuhkan sebanyak 7 dosis vaksin tersebut untuk bisa memberikan perlindungan terhadap serangan kuman penyebab difteri ini. Program imunisasi tersebut sudah lama dijalankan oleh kementerian Kesehatan dan sudah menjadi program imunisasi rutin nasional.

Berbagai faktor yang menyebabkan makin turunnya angka cakupan imunisasi tersebut dan menjadi tantangan bagi program imunisasi di Aceh, karena adanya penolakan dari masyarakat. Baik disebabkan karena ketakutan akan efek demam yang timbul pasca imunisasi ataupun efek lain yang dikhawatirkan terjadi, para orang tua yang tidak membawa anaknya imunisasi karena sedang sakit di saat jadwal imunisasinya tiba, kemudian terlupa sehingga akhirnya tanpa imunisasi sama sekali. Juga berbagai info yang tidak bertanggung jawab sudah banyak menyebar ke masyarakat baik itu melalui media sosial ataupun selebaran atau bahkan berupa buku dan tabloid.

Sebelumnya, penulis sudah pernah mengemukakan beberapa hal yang menyebabkan semakin rendahnya angka cakupan imunisasi di Aceh. Beberapa alasan tersebut merupakan hasil survei dua lembaga di Aceh (PKBI dan Unicef). Dari survei didapatkan beberapa gambaran, yaitu: Pertama, masyarakat masih takut dengan efek samping imunisasi; Kedua, masih adanya tokoh agama, tokoh masyarakat, dan petugas kesehatan yang memprovokasi untuk tidak melakukan Imunisasi; Ketiga, lemahnya informasi yang didapatkan; Keempat, masih rendahnya sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan, dan; Kelima, Berkembang isu vaksin haram yang mengandung enzim babi.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved