Politik bukan Ajang Update Permusuhan
Sejatinya, Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) Tahun 2019 menjadi pesta rakyat dalam berdemokrasi
BANDA ACEH - Sejatinya, Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) Tahun 2019 menjadi pesta rakyat dalam berdemokrasi, bukan ajang mencari permusuhan antarsesama anak bangsa. Tapi yang terjadi malah momentum ini telah menciptakan permusuhan, saling menebar fitnah dan berita hoaks.
Imam Besar Barisan Muda Ummat (BMU) yang juga Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Muhammad Yusuf A Wahab atau akrab disapa Tu Sop Jeunieb mengatakan fenomena politik yang terjadi di Indonesia saat ini karena ada yang melatarbelakanginya dan itu terjadi setiap tahun politik.
“Ajang berpolitik kita adalah ajang bermusuhan dan ajang perpecahan. Artinya, setiap lima tahun kita update permusuhan itu, kita refresh kembali permusuhan itu. Padahal, tujuan demokrasi adalah untuk menghasilkan sesuatu yang baik, bukan kehancuran, ini jadi masalah,” katanya, Jumat (4/1).
Tu Sop menyampaikan hal itu saat bersilaturahmi ke Kantor Harian Serambi Indonesia, Jalan Raya Lambaro, Desa Meunasah Manyang, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Tu Sop datang bersama Ketua Umum DPP BMU Pusat, Abiya Rauhul Mudi Tgk M Yusuf Nasir dan pengurus BMU lainnya.
Kedatangan mereka disambut oleh Sekretaris Redaksi Harian Serambi Indonesia, Bukhari M Ali dan Manajer Multimedia/Koordinator Liputan (Korlip), Zainal Arifin M Nur.
Tu Sop menjelaskan politik Indonesia terlalu bebas untuk rakyat. Sementara, rakyat tidak pernah diberi tahu tentang etika politik dan moral. Akibatnya, setiap aspek kehidupan muncul berbagai persoalan, mulai dari aspek sosial hingga agama.
“Islam itu mengajarkan umatnya etika berbicara, etika berinteraksi, tidak menyakiti. Tetapi sekarang kondisinya tidak seperti itu, apakah selama ini semua umat Islam terjangkau oleh dakwah etika bicara secara memadai?” tanya Tu Sop yang juga Pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, Bireuen.
Selain persoalan politik, persoalan lain yang sedang mendera rakyat saat ini adalah persoalan kepribadian dan degradasi moral, di mana masing-masing pihak mengangkap diri mereka eksklusif. Tu Sop mengatakan, orang yang mengalami persoalan kepribadian sering menyalahi orang lain dan lupa dengan dirinya sendiri.
“Masing-masing elemen eksklusif. Ada yang menuduh yang lain eksklusif, sebenarnya dia sendiri juga eksklusif. Dia mengatakan orang lain tidak mengerti dirinya, sebenarnya dirinya tidak mengerti orang lain. Inilah persoalan kepribadian dan sikap ini akan terbawa ke mana-mana,” ungkapnya.
Meskipun dari kalangan ulama, tapi Tu Sop sudah pernah terjun ke dalam politik ketika mencalonkan diri sebagai Bupati Bireuen pada Pilkada 2017. “Saya berpolitik sebenarnya bukan untuk mengejar jabatan. Hanya (ingin merasakan) sebuah panggung, bagaimana kita sesama umat Islam, sesama saudara berpolitik,” tukasnya.
Pada Pilpres 2019, Ketua HUDA ini mengatakan lembaganya tidak berpihak kepada kandidat mana pun. Dia hanya berharap ajang politik tahun 2019 bisa menjadi momen membangun bangsa yang lebih baik ke depan dengan menghindari permusuhan, apalagi memutuskan tali silaturahmi.
“Tapi jika ada pihak dayah yang mendukung salah satu calon, itu hak pribadinya dalam berdemokrasi. Negeri ini akan baik kalau yang dipilih layak untuk dipilih dan yang memilih layak untuk memilih.Kalau yang milih tidak layak untuk memilih maka kita akan dipimpin oleh yang tidak layak untuk dipilih,” demikian Tu Sop. (mas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tgk-h-muhammad-yusuf-a-wahab-atau-yang-akrab-disapa-tu-sop.jpg)