Kapolres Minta Korban Calo Proyek Melapor

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa SIK mengimbau apabila ada korban lain

Kapolres Minta Korban Calo Proyek Melapor
RADEN BOBBY ARIA PRAKASA, Kapolres Aceh Barat

MEULABOH - Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa SIK mengimbau apabila ada korban lain dalam kasus dugaan penipuan oleh dua tersangka calo proyek di Aceh Barat agar segera melapor ke polisi.

“Kalau ada korban lain segeralah melapor sehingga dapat sekalian dilakukan pemeriksaan,” kata Kapolres di Meulaboh, Minggu (6/1).

Menurut Kapolres, pihaknya tengah mendalami kelanjutan kasus ini. “Kedua tersangka sudah ditahan. Perkembangan selanjutnya akan kita publikasi,” katanya.

Kapolres menambahkan, kedua orang yang sudah ditangkap itu dijerat dengan dugaan tidak pidana penipuan. “Kita akan usut tuntas. Kalau ada lagi yang merasa menjadi korban segera melapor. Sejauh ini yang sudah melapor baru tiga orang,” katanya.

Sementara itu, Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh Barat mengapreasiasi pihak kepolisian Aceh Barat yang telah menangkap dua orang yang diduga sebagai calo proyek APBK 2018 di kabupaten itu. “GeRAK mendorong kepolisian mengusut tuntas kasus ini hingga akar-akarnya. Apalagi ini berkaitan dengan dugaan makelar atau calon proyek,” kata Koordinator GeRAK Aceh Barat, Edy Syah Putra, kepada Serambi kemarin.

Edy menduga, kasus penangkapan dua pria sebagai calo proyek itu tidak berhenti pada dua orang tersebut. “Patut diingat bahwa peristiwa tersebut adalah perilaku yang menjurus kepada praktik suap-menyuap,” katanya.

Menurut Edy, kasus tersebut dapat dijerat dengan Undang-Undang tentang Tindak Pidana Korupsi. Artinya, kasus calo untuk pemberian proyek APBK 2018 adalah praktik korupsi yang termasuk ke dalam kategori menimbulkan kerugian negara dan pada umumnya dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai jabatan dalam instansi pemerintah. “Mereka mencari keuntungan dengan melawan hukum dan merugikan negara, serta menyalahgunakan jabatannya untuk mencari untung dan merugikan negara,” ujarnya.

GeRAK mendesak pihak kepolisian untuk terus mengungkap praktik rasuah yang menjurus kepada jual beli proyek yang kini mulai terungkap. “Kekwatiran kita ketika proyek ini dimenangkan oleh pihak yang diduga telah menyetorkan uang kepada mereka yang mempunyai hubungan dengan sejumlah pihak maka kita ragukan kualitas proyek tersebut yang nantinya akan dikerjakan asal jadi,” tukas Edy.

Sebagaimana diberitakan kemarin, Polres Aceh Barat, Sabtu (5/1) secara resmi menahan dua pria tersangka calo proyek APBK berinisial Y (38) dan I (42) alias R. Keduanya ditangkap, Jumat (4/1) setelah polisi menerima laporan dari tiga warga yang jadi korban dengan menyerahkan uang Rp 230 juta kepada tersangka.

Ketiga korban yang melapor ke Polres Aceh Barat itu adalah J, M, dan S. Ketiga pria itu merupakan warga Aceh Barat. Mereka sudah menyerahkan uang kepada tersangka yang besarnya bervariasi sehingga totalnya mencapai Rp 230 juta.

Kedua tersangka termasuk sosok terkenal di Aceh Barat karena dekat dengan pejabat pengambil keputusan dan pengurus sebuah partai. Tersangka tercatat sebagai warga Kecamatan Woyla Timur dan menjanjikan akan memberikan proyek swakelola dari APBK 2018 kepada ketiga korban. Namun, hingga akhir tahun janji tidak kunjung terealisasi meski sudah beberapa kali dipertanyakan. Karena janji itu dinilai tak mungkin lagi terealisasi, akhirnya ketiga korban sepakat menempuh jalur hukum.

Mendapat laporan itu, polisi segera membekuk kedua tersangka di rumahnya untuk proses hukum. Polisi memeriksa pelapor dan terlapor serta menggelar perkara. Setelah didalami dan memenuhi unsur sehingga ditetapkanlah Y dan I sebagai tersangka dan ditahan.

Dalam proses hukum kasus ini, polisi menyita tiga lembar kuitansi sebagai barang bukti (BB) penyerahan uang oleh korban kepada pelaku.

J satu dari tiga pelapor yang ikut membuat laporan ke Polres Aceh Barat menyatakan dirinya menyerahkan uang Rp 120 juta kepada kedua pelaku pada Maret 2018. Awalnya dijanjikan proyek akan direalisasikan pada bulan April, kemudian berubah menjadi Juni. “Tapi ternyata, hingga akhir tahun tidak juga terealisasi. Uang korban juga tak dikembalikan, orangnya malah menghilang,” demikian Kapolres Aceh Barat. (riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved