Opini

Kau yang Berjanji, Kau yang Mengingkari

KALAU tidak ada aral melintang, pada 17 April 2019 mendatang pesta demokrasi akan digelar serentak di Indonesia

Kau yang Berjanji, Kau yang Mengingkari
CALON legislatif (caleg) dari partai politik peserta Pemilu 2019 bersama penyelenggara dan unsur forkopimda Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, melepas merpati pada acara deklarasi kampanye damai di Aula UDKP kantor camat setempat, Sabtu (27/10). 

(Renungan bagi Para Caleg)

Oleh Munawar A. Djalil

KALAU tidak ada aral melintang, pada 17 April 2019 mendatang pesta demokrasi akan digelar serentak di Indonesia. Dari Pemilihan Presiden (Pilpres) sampai dengan Pemilihan Legislatif (Pileg) DPR RI, DPD RI dan DPRA/DPRK. Saat ini, para calon legislatif (Caleg) sedang mempersiapkan diri untuk bertarung dalam kompetisi politik lima tahunan tersebut. Berbagai cara mereka lakukan untuk mendominasi pemilihan nanti. Janji-janji manis yang mereka sampaikan berpotensi akan sangat terpengaruh bagi masyarakat.

Ironi, sebagian besar dari masyarakat pemilih di Aceh belum sepenuhnya mengenal secara pasti para caleg. Mungkin di samping masyarakat bersikap apatis juga disebabkan jumlah caleg yang banyak. Bagi para caleg yang bertarung untuk 81 kursi DPRA saja yang telah diusulkan oleh 20 partai politik (parpol) mencapai 1.298 orang.

Dari jumlah tersebut, menurut data Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh diklasifikasikan, 705 orang lulusan SMA/sederajat termasuk banyak yang berijazah Paket C, 471 orang Sarjana S1, 132 orang S2 dan 5 orang S3 (Serambi, 3/12/2018). Meski demikian, mereka merupakan calon anggota dewan untuk Aceh lima tahun ke depan. Namun harus dingat siapa saja boleh menjadi calon baik dia sarjana maupun bukan. Layaknya ikan, semua merasa berhak menjadi calon, eungkot teri, eungkot cirik, bahkan eungkot bukuem sekalipun juga merasa pantas, sama seperti ikan mujair, lele atau ikan gerapu.

Karenanya masyarakat harus selektif memilih para calon, jangan sampai caleg busuk menjadi pilihan kita. Menurut saya ada beberapa kriteria caleg berkarakter busuk, antaranya, anti-syariat Islam, pelanggar HAM, terlibat KKN, terlibat perbuatan asusila, premanisme, intimidasi dan terlibat politik uang. Menyikapi hal ini, masyarakat harus menutup pintu bagi caleg busuk untuk berkiprah di Aceh. Karena mereka tidak akan bisa memberi manfaat kepada rakyatnya, justru akan menimbulkan kemudharatan yang besar, walaupun mereka telah mengobral janji, memberikan “hadiah” dan sebagainya.

Saya yakin, kalau kita berpikiran cerdas dan objektif, tentunya akan akan mencari sosok anggota dewan yang cerdas dan saleh. Menurut saya, caleg yang saleh itu selalu berbuat tanpa pamrih untuk kemashlahatan umat. Karena, itulah yang menjadi karakter politik ideal anggota dewan masa depan. Namun kalau masyarakat tidak memiliki kecerdasan dalam memilih, maka dikhawatirkan nantinya abra’u juga akan menjadi anggota dewan.

Paling kurang ada tiga kriteria caleg ideal yang menjadi pilihan, yaitu: Pertama, caleg yang kita pilih harus sudah teruji ketaatannya pada ajaran Islam; Kedua, caleg harus mempunyai integritas dan kesalihan pribadi, tidak bermental korup, tidak asusila dan menjadi tokoh panutan, seorang yang muncul dengan komitmen integritas dan kesalihan pribadi tentu yang terukir di hati, terpahat dipikirannya adalah umat serta bertekad untuk tidak mensia-siakan mereka. Dan, ketiga, ia harus berlaku adil, mempunyai komitmen keumatan, mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Mengenal caleg
Kenalilah mereka secara baik, karena para calon yang bertarung dalam Pileg 2019 nanti mudah sekali kita temukan di mana-mana. Tiap meter jalan di Aceh, kini terpampang wajah-wajah para calon, mulai dari yang terkenal, yang dikenal, sepertinya kita kenal, hingga yang tidak dikenal sama sekali.

Wajah-wajah mereka menyapa kita dalam berbagai bentuk dan ukuran, wajahnya ada berjilbab, breokan, berjambang, berkopiah haji, kopiah adat, kopiah nasional dan macam-macam. Bahkan ada di sebuah pohon atau dinding toko beberapa orang caleg tampak “kompak” tampil bareng. Ada calon walaupun berbeda partai dan haluan perjuangan, namun berdampingan buat “iklan” ukuran raksasa. Yang lucunya lagi ada calon “berjalan” di kenderaan umum seperti becak mesin, mobil, dan lain-lain.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved