Lintas Peureulak-Lokop Rusak Berat

Selain masih terdapat badan jalan rusak, lintas Peureulak-Lokop, Aceh Timur, juga terdapat beberapa titik yang rawan

Lintas Peureulak-Lokop Rusak Berat
SERAMBI/SENI HENDRI
Warga menaruh ranting kayu, di lokasi badan jalan yang retak dan amblas. Amatan di lapangan, Badan jalan Peureulak-Lokop, Aceh Timur, tepatnya di Gampong Beurandang, Kecamatan Ranto Peureulak, amblasnya semakin parah, sehingga kendaraan hanya bisa melintas separuh jalan 

IDI - Selain masih terdapat badan jalan rusak, lintas Peureulak-Lokop, Aceh Timur, juga terdapat beberapa titik yang rawan longsor. Di sejumlah titik bahkan terdapat material longsor yang menimpa badan jalan.

Amatan Serambi di lapangan, jalan rusak berat mulai dari Dusun Krueng Tuan, Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, sampai Gampong Peunaron Lama, Kecamatan Peunaron, Aceh Timur, atau mulai dari titik km 26 sampai km 43.

Tokoh masyarakat Serbajadi Lokop, Eje, kepada Serambi, Minggu (6/1) mengatakan, 6 kilometer dari Dusun Krueng Tuan sampai Dusun Sarah Nyala, Gampong Serba Jadi, dilakukan pengaspalan tahun 2014. Sayangnya, lintas ini kini sudah rusak berat.

“Jalan cepat rusak karena diduga pembangunana jalan kurang berkualitas,” ungkap Eje (28), yang didampingi Basri (31), kepada Serambi, Minggu. Keduanya tokoh pemuda Lokop.

Oleh karena itu, ungkap Eje, warga kini meminta kontraktor mengutamakan kualitas untuk membangun jalan Peureulak-Lokop, yang tembus ke Gayo Lues. Dia menyontohkan aspal yang dibangun PT Istaka Karya yang dibangun tahun 1990, sampai saat ini masih bertahan di beberapa titik.

Eje menjelaskan, dari km nol atau dari tepi jalan Medan-Banda Aceh, atau dari Simpang Gampong Beusa ke Kecamatan Serba Jadi Lokop, berjarak 83 kilometer. Sedangkan dari Kecamatan Peunaron ke Kecamatan Serba Jadi Lokop sepanjang 40 kilometer, sebanyak 4 kilometer telah diaspal, yang termasuk ke dalam pekerjaan segmen tiga tahun 2018 dengan dana bersumber dari Otsus. Selebihnya atau sampai perbatasan Gayo Lues telah dilakukan pengerasan.

Untuk diketahui, total jarak dari Simpang Gampong Beusa atau titik nol tepi jalan Medan-Banda Aceh, ke Perbatasan Aceh Timur-Gayo Lues sekitar 106 kilometer. “Kami harapkan jalan ini dilanjutkan aspalnya secara kontinyu dengan kualitas baik untuk memudahkan masyarakat mengeluarkan hasil pertanian dan berbelanja sembako,” ungkap Eje.

Penyebab lain badan jalan amblas, jelas Eje, karena badan jalan tidak kuat. Pada titik tertentu untuk mencegah amblas perlu dibangun talut dan beronjong yang bisa menahan badan jalan. “Selain itu, pemeliharaan jalan sangat penting seperti membangun drainase dan pembersihan rumput liar. Karena membangun jalan tanpa perawatan percuma saja. Saat hujan, air akan mengalir dan membelah badan jalan jika tidak ada drainase,” ungkap Eje.

Jika ada drainase, lanjut Eje, maka air akan mengalir ke anak sungai, sehingga jalan bisa bertahan lama. “Selain itu, untuk mencegah jalan ditimbun material longsor perlu adanya pelebaran jalan, dan pemotongan bukit,” ungkap Eje. (c49)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved