Opini

‘Meunyet-nyet’

ISTILAH meunyet-nyet merupakan satu kosakata dalam bahasa Aceh, yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih

‘Meunyet-nyet’
SERAMBI/M ANSHAR
Demonstran yang menamakan diri Masyarakat Pengawal Janji Politik (MPJP) melakukan orasi di halaman Kantor Wali Kota Banda Aceh, Jumat (26/10/2018). Mereka menuntut realisasi janji politik wali kota saat kampenye diantaranya fasilitas air bersih bagi wali kota. SERAMBI/M ANSHAR 

Oleh Hayatullah Pasee

ISTILAH meunyet-nyet merupakan satu kosakata dalam bahasa Aceh, yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya nyinyir; mengulang-ulang perintah atau permintaan, nyenyeh, dan cerewet (KBBI V edisi online). Ketika seseorang melakukan kesalahan baik dalam ucapan mau tindakan, maka si tukang nyinyir akan terus-menerus membicarakan kesalahan itu berulang-ulang (haba-haba sot). Bahkan, jika perlu kesalahan itu dipelintir agar yang membuat kesalahan tadi benar-benar menyesal dan tidak tenang.

Sebagai contoh, seorang wanita yang sudah lama menjomblo, tiba-tiba mendapatkan pasangan yang lebih muda darinya. Si tukang nyinyir tadi langsung mengatakan, “nyan pane, item karena jai peng (pasti dia mau karena banyak uang)” atau “nyan pasti ipakek mantra (pasti dijampi-jampi agar suka padanya)”. Ungkapan seperti itu terkadang bisa mengarah kepada ghibah.

Manusia merupakan makhluk yang memiliki akal dan perilaku. Perilaku manusia akan berubah seiring berjalannya waktu. Menurut Atkindo (1987) dalam buku Sosilologi Suatu Pengantar menjelaskan, perubahan merupakan kegiatan atau proses yang membuat seseorang berbeda dengan sebelumnya.

Perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat batas geografis menjadi pudar. Informasi dapat diperoleh dan disampaikan dalam jangka waktu yang tak begitu lama. Apalagi di era digital seperti hari ini juga membawa perubahan yang begitu besar terhadap perilaku manusia.

Dulu, sebelum mudahnya mengakses media massa seperti hari ini, media informasi yang digunakan sebatas antara mulut ke mulut. Tetapi sekarang sudah memiliki beragam media, mulai media massa online hingga media sosial.

Alami perubahan
Sifat nyinyir juga mengalami perubahan. Jika dulu nyinyir itu disampaikan di warung-warung kopi ketika berjumpa secara langsung (face to face) atau pertemuan-pertemuan lainnya. Beda dengan sekarang, nyinyir itu dilakukan di dunia maya. Artinya, tidak dilakukan secara langsung di depan orang yang bersangkutan.

Namun nyinyir yang dilakukan secara tatap muka akan lebih berisiko karena bisa berakibat percekcokan, bahkan perkelahian jika ada yang sakit hati dengan sifat tersebut. Maka jika diperhatikan, sekarang nyinyiran kerap dilakukan oleh banyak orang, melalui media-media sosial.

Sifat nyinyir ini bisa disebabkan karena bawaan seseorang selalu sinis dan cerewet. Di manapun ia berada dan kemanapun ia pergi selalu saja ada yang ingin dikomentari. Sehingga muncul postingan status di media yang bernada nyinyir.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neurocase di Amerika Serikat, menjelaskan bahwa ada kerusakan otak yang disebut lapisan sagital yang akan berkorelasi dengan ketidakmampuan seseorang mendeteksi sifat sarkasme yang ada pada dirinya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved