Pengelola Galian C Ditahan

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Aceh, Jumat (4/1), menahan Al (35) Direktur PT USM selaku

Pengelola Galian C Ditahan
Dok Humas Polda Aceh
Polisi memasang garis polisi di lokasi usaha tambang galian C di Pulo Aceh, Aceh Besar 

BANDA ACEH - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Aceh, Jumat (4/1), menahan Al (35) Direktur PT USM selaku penanggung jawab usaha galian C tanpa izin yang selama ini beroperasi di Gampong Paloh, Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar. Sebelumnya, personel Ditreskrimsus menangkap AB (80) selaku pemilik PT USM dan Al (35) yang merupakan direktur perusahaan tersebut

Namun, AB tidak ditahan dengan pertimbangan yang bersangkutan sedang sakit dan tidak dapat meninggalkan rumah. Tapi, proses pemeriksaan terhadap AB tetap dilakukan dan berlangsung sekitar 5 jam dengan cara penyidik mendatangi kediamannya di Gampong Prada Utama, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Jumat (4/1).

Sementara Al selaku penanggung jawab galian C yang diduga ilegal di Gampong Paloh, Pulo Aceh itu, ditahan karena dinilai tidak kooperatif dan sempat mangkir dari panggilan pertama, 24 Desember 2018 lalu. Al ditahan setelah polisi memeriksa dan menyita sejumlah dokumen penting milik PT USM saat personel Ditreskrimsus menggeledah kantor perusahaan itu yang berlokasi di Jalan Tentara Pelajar, Gampong Merduati, Banda Aceh.

Direktur Reskrimsus Polda Aceh melalui Kasubdit IV Tipiter, Kompol Guntur M Tariq, kepada Serambi, Minggu (5/1), menjelaskan, penangkapan kedua pelaku berdasarkan penyelidikan dan fakta di lapangan terkait pemilik dan penanggung jawab dua lokasi tambang ilegal di Pulo Aceh. “Personel Ditreskrimsus dari Subdit IV datang ke lokasi galian C ilegal itu pada Selasa, 18 Desember 2018. Setelah melakukan penyidikan dan mencari bukti-bukti, termasuk menggeledah Kantor USM, diperoleh nama AB dan AI sebagai penanggung jawab operasional galian C tanpa izin tersebut,” ujarnya.

Selanjutnya, sambung Guntur, lokasi galian C ilegal itu ditutup dan dipasang garis polisi, karena diduga tidak memiliki izin usaha pertambangan (minerba). “Lokasi yang ditutup itu masing masing di Desa Paloh, Kecamatan Pulo serta lokasi crusher dan AMP di Desa Gugop Kecamatan Pulo, Aceh Besar,” sebut Kompol Guntur.

Dari lokasi itu, polisi juga menyita sejumlah barang bukti masing-masing satu unit crusher (tidak aktif), AMP (tidak aktif), eksavator merek Komatsu warna kuning, truk interkuler warna hijau, truk fuso warna cokelat, loder warna kuning, compact warna kuning, dan grader warna kuning serta empat truk hercules warna kuning. “Selain mengamankan barang bukti, petugas juga sudah memberi tanda police line di TKP tersebut,” ungkap Kompol Guntur.

Selain Al yang sudah ditahan, personel Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Aceh juga sedang terus mengembangakan kasus usaha galian C tanpa izin yang selama ini beroperasi di Gampong Paloh, Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar. “Besar kemungkinan ada penambahan tersangka dalam kasus ini. Sebab, operasional galian C ilegal tersebut selama ini berlangsung langgeng,” jelas Direktur Reskrimsus Polda Aceh melalui Kasubdit IV Tipiter, Kompol Guntur M Tariq, kepada Serambi, kemarin.(mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved