Program Cinta Produk Aceh Harus Digalakkan

Untuk membantu tumbuh dan berkembangnya industri kerajinan tas bordir di Aceh dan mengurangi agar anggaran APBA 2019

Program Cinta Produk Aceh Harus Digalakkan
Rustam Effendi 

BANDA ACEH - Untuk membantu tumbuh dan berkembangnya industri kerajinan tas bordir di Aceh dan mengurangi agar anggaran APBA 2019 tidak banyak beredar ke luar, Pemerintah Aceh perlu membuat dan menggalakkan program cinta produk Aceh dan senang menggunakan produk lokal.

“Kalau setiap penyelenggara pelatihan di Aceh menggunakan produk lokal, maka anggaran pengadaan tas pelatihan senilai Rp 21,3 miliar itu akan beredar di daerah ini, tidak ke luar,” kata Pakar Ekonomi Unsyiah, Rustam Effendi kepada Serambi, Minggu (6/1).

Rustam mengungkapkan, penyebab banyak usaha industri kerajinan tas bordir sulit untuk berkembang, memang ada beberapa faktor. Pertama, pengusahanya kurang inovatif dan kreatif dalam membuat motif maupun desain. Kedua, mereka kurang gigih dalam memasarkan produk kerajinannya. “Yang ketiga pasar lokalnya kurang mendukung. Kalau pasar lokalnya sudah mendukung, industri kerajinan tas bordir kita akan berkembang dengan pesat,” ulasnya.

Jika industri kerajinan bordir tas berkembang, papar Rustam Effendi, maka itu bisa membantu menurunkan penduduk miskin dan pengangguran di desa dan kota. “Semua orang tahu, yang namanya industri kerajinan itu banyak menggunakan orang. Kalau banyak orang yang terlibat di dalamnya dan pasar lokalnya mendukung, maka omset penjualan ikut meningkat,” sebutnya.

Anggaran pengadaan beli tas pelatihan yang terdapat di APBA 2019 senilai Rp 21,3 miliar, tukas Rustam Effendi, nilainya cukup besar dan bisa menghidupi puluhan ribu orang perajin tas bordir di Aceh. Untuk itu, Dinas Perindag Aceh perlu melakukan survei ke kabupaten/kota, berapa banyak usaha perajin tas bordir dan lainnya yang sudah tutup, karena pasar lokalnya kurang mendukung. Pasar lokal yang dimaksud, beber dia, antara lain penyelenggara pelatihan di jajaran Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota yang tidak banyak membeli dan menggunakan produk tas lokal untuk pengadaan tas peserta pelatihannya.

“Jadi, program cinta produk lokal ini harus dimulai dari jajaran Pemerintah Aceh, kabupaten/kota, bersama pengurus PKKnya dulu. Ibu gubernur, wakil gubernur, bupati dan wali kota, serta jajaran muspida lainnya, harus bangga menggunakan produk lokal,” tukasnya.

Kepala Dinas Perindag Aceh, Muhammad Raudhi mengatakan, pihaknya sudah memikirkan dan akan melaksanakan saran pakar ekonomi Unsyiah itu. Langkah pertama, ucapnya, harus buat regulasi lebih dulu. “Untuk jangka pendek, mungkin buat pergub dulu sambil menunggu qanunnya,” tukasnya.

Regulasi yang dibuat, papar Raudhi, adalah aturan yang mewajibkan penyelenggara pelatihan menggunakan produk lokal, termasuk juga pihak restauran, cafe dan hotel, serta unit-unit usaha pariwisata lainnya. “Program dan kegiatannya adalah cinta dan senang menggunakan produk lokal,” ungkap dia.

Raudhi mengaku, gerakan menggunakan produk lokal dalam penyelenggaraan pelatihan sudah dimulai pihaknya pada tahun lalu. Setiap ada kegiatan pelatihan kerajinan industri dan perdagangan, sebut dia, tas untuk peserta pelatihan tetap dibeli dari perajin bordir lokal. “Jadi, ide dari pakar ekonomi Unsyiah, Rustam Effendi itu akan kami jalankan secara bertahap untuk mencapai hasil yang maksimal,” pungkas Raudhi.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved