Puing Besi Bahayakan Kapal

Dua rekanan di Aceh Barat menyatakan keluhannya terhadap puing besi yang tertancap di depan demaga Pelabuhan

Puing Besi Bahayakan Kapal
SERAMBINEWS.COM/RIZWAN
Anggora dewan Aceh Barat turun ke Pelabuhan Jetty 

* Sudah Pernah Makan Korban

MEULABOH - Dua rekanan di Aceh Barat menyatakan keluhannya terhadap puing besi yang tertancap di depan demaga Pelabuhan Jetty di Suak Indrapuri, Meulaboh. Pasalnya, keberadaan puing besi di dalam laut itu kerap membahayakan kapal ketika merapat ke dermaga. “Harapan kita, besi yang tertancap di laut dekat dermaga itu bisa dibersihkan,” kata Nanda Ferdiansyah, kuasa pimpinan PT Krueng Beukah kepada Serambi di Meulaboh, Minggu (6/1) kemarin.

Didampingi Kepala Cabang PT Cahaya Laut Peunaga, Safrizal, Nanda menjelaskan, persoalan puing besi di laut itu sudah lama dikeluhkan pihaknya. Sebab, puing besi tersebut sudah pernah memakan korban, yakni menggores Kapal Pundi Rezeki yang membawa semen hingga bocor saat merapat ke Pelabuhan Jetty.

“Perbaikan kapal yang bocor kala itu menguras uang Rp 100 juta lebih, belum lagi semen juga ikut basah. Padahal, kapal itu membawa semen sebanyak 2.800 ton yang dapat menambah ketersediaan semen di barat selatan Aceh untuk pembangunan serta dapat menjaga stabilitas harga,” jelasnya.

Sebab itu, Safrizal dan Nanda berharap, instansi terkait segera melakukan pembersihan puing besi yang tertancap di laut dekat pelabuhan tersebut. Mereka juga minta perhatian dari Pemkab Aceh Barat selaku pemilik Pelabuhan Jetty Suak Indrapuri yang dibangun Singapura pascatsunami tempo hari.

“Kalau kondisi seperti sekarang, kami ragu dan tidak bisa jamin kapal aman merapat ke pelabuhan. Soalnya, Kapal Pundi Rezeki yang kerja sama dengan kami sudah pernah menjadi korban puing besi itu. Padahal, ini ada pihak yang menghubungi kami dan menanyakan, apakah kapal bisa bersandar di Pelabuhan Jetty,” tukas Nanda.

Dia membeberkan, selain puing besi, di dasar laut depan dermaga itu juga masih banyak bekas batu bara yang tumpah beberapa tahun silam, ketika dua perusahaan di daerah itu masih menggunakan Pelabuhan Jetty sebagai lokasi bongkar muat batu bara untuk PLTU Nagan Raya dan PT Mifa Bersaudara. Oleh karena itu, ucapnya, perlu pengerukan serta pembenahan pelabuhan sehingga bisa dimanfaatkan sebagai aset untuk meraup pendapatan daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Aceh Barat, Jhon Aswir yang ditanyai Serambi, kemarin, mengungkapkan, Pelabuhan Jetty merupakan aset Pemkab Aceh Barat yang saat ini dikelola oleh PT Pelindo. Terhadap harapan pembersihan puing besi itu, terangnya, beberapa tahun silam ketika Dishub dijabat kepala lama, pernah disampaikan ke pihak Pelindo. “Tentu, kita akan sampaikan kembali, termasuk akan berkoordinasi dengan PT Pelindo terkait harapan pengguna pelabuhan ini,” ujarnya.

Jhon mengakui, bahwa Pemkab dan Pelindo juga akan melakukan MoU lanjutan, termasuk soal bagi hasil dari pengelolaan pelabuhan. “Saat ini, kami juga masih menunggu sikap Pelindo yang belum menyetor terhadap bagi hasil yang lalu yakni sekitar Rp 40 juta lebih. Pernah ditagih sekitar bulan Agustus 2018, namun hingga kini belum dilunasi ke kas daerah,” tandas Kadishub Aceh Barat.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved