Opini

Milenial adalah Kunci

CORETAN ini dirajut diketinggian 30 ribu kaki di atas permukaan laut, dalam penerbangan yang diselimuti

Milenial adalah Kunci
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Alat peraga kampanye di Tugu Bank Aceh di Pulau Sarok, Singkil, Aceh Singkil 

Oleh Sulthan Muhammad Yus

CORETAN ini dirajut diketinggian 30 ribu kaki di atas permukaan laut, dalam penerbangan yang diselimuti rasa cemas, khawatir dan ketidakpastian menuju kota Manado, Sulawesi Utara. Begitulah suasana kebatinan kita sebagai manusia, ia adalah makhluk yang mendekati sempurna. Ciptaan terbaik Yang Maha Kuasa serta mengemban kepercayaan sebagai penguasa bumi. Dibekali pada diri kita akal disertai hawa nafsu. Keduanya melekat dan dipikul bersamaan tanpa pemisah.

Kekuasaan merupakan hasrat terbesar setiap insan setelah kekayaan, ada beragam faktor pendorong orang untuk memperebutkan kekuasaan. Motivasi untuk dicintai, dihargai, disegani, bahkan ditakuti menyelimuti alam bawah sadar manusia sebagai zoon politicon dan homo economicus. Kondisi ini menggambarkan “cuaca politik” kita belakangan ini.

2018 adalah tahun politik. Tahun pura-pura baik, pura-pura dermawan, pura-pura religius hingga ribuan kepura-puraan lainnya. Spanduk bertebaran, baliho di mana-mana menyaingi masifnya iklan rokok, media sosial penuh dengan gemerlap kesucian. Mendadak muncul manusia religius baru dengan identitas keagamaan yang melekat di sekujur tubuhnya. Mungkin terlalu cepat disimpulkan jika semuanya hanya kepura-puraan. Namun ketidakpercayaan publik secara umum memperkuat tesis bahwa 2018 adalah tahun pura-pura.

Akan tetapi, kita jangan terjebak pada kekeliruan yang menjerumuskan. Banyaknya kepura-puraan tidak boleh mengalahkan kesungguhan. Selalu ada yang putih diantara yang hitam, ibarat senja. Tak semua langit terpapar cahaya kuning kemerahan, tetap ada yang biru mencerahkan.

Coretan kebingunan
Coretan ini berisi kebingungan, pencoret berdiri sebagai manusia dengan akal dan hawa nafsu yang melekat pada dirinya. Namun, penulis merupakan pemilik suara di kantongnya, serupa dengan jutaan manusia lainnya. Dalam demokrasi suara kami disebut sebagai sebagai “suara Tuhan”. Pemilu akan segera menemukan klimaksnya dalam lima bulan ke depan, di mana nasib kita dititipkan untuk lima tahun yang akan datang.

Sadar atau tidak kenyamanan dalam hidup di masa depan ditentukan oleh lima bulan yang akan segera tiba. Saat tiba saatnya, tidak berguna keluhan, cacian, makian, apalagi setengah perlawanan. Semakin modern sebuah sistem, maka semakin ketat aturan hukumnya. Pada akhirnya lima bulan yang akan datang tetap menentukan lima tahun kehidupan.

Terdapat ratusan calon DPRK, DPRA, hingga DPR RI. Sekilas semua tampak sama. Berbeda hanya pada desaian alat peraga. Ada yang keliatan menarik dan iconic, ada pula yang basi lagi membosankan. Tolak ukurnya sederhana, semakin kita tidak melirik lagi spanduk yang tertempel di perempatan jalan, maka semakin jenuh kita dengan keadaan.

Dalam kondisi yang demikian, narasi perjuangan perlu didengungkan. Hingga kini calon wakil rakyat sangat sedikit yang menjelaskan garis perjuangannya secara terbuka dan bertanggung jawab. Dominan sisanya berlindung di balik kesukaan calon pemilih, meskipun ia harus berpura-pura. Belum kelihatan perbedaan konkret dari setiap calon wakil rakyat yang bertarung, hanya usia yang tampak beda, sisanya cenderung sama.

Semakin ke sini, semakin kelihatan fokus basis suara yang digarap oleh sedemikian besar calon wakil rakyat. Kontestasi ini didominasi oleh mereka yang berlomba-lomba menunjukkan siapa di antaranya yang paling cocok dikatakan mewakili basis pemilih milenial. Meskipun jika ditelisik secara usia bukan representasi dari milenial itu sendiri.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved