Penjelasan Peneliti terkait Mengapa Gunung Anak Krakatau Masih Berbahaya

Pada 22 Desember 2018 pukul 21.03 WIB, sebuah bongkah seluas 64 hektare dari gunung api Anak Krakatau di Selat Sunda longsor di lautan setelah erupsi

Penjelasan Peneliti terkait Mengapa Gunung Anak Krakatau Masih Berbahaya
ANTARA FOTO/BISNIS INDONESIA/NURUL HIDAYAT VIA KOMPAS.COM
Foto udara letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12/2018). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) pukul 17.22 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak (sekitar 1.838 meter di atas permukaan laut) 

SERAMBINEWS.COM - Pada 22 Desember 2018 pukul 21.03 WIB, sebuah bongkah seluas 64 hektare (158 are) dari gunung api Anak Krakatau di Selat Sunda longsor di lautan setelah erupsi.

Longsoran ini menciptakan tsunami yang menghantam wilayah pesisir di Jawa dan Sumatra, menewaskan setidaknya 426 orang dan melukai 7.202 orang.

Data satelit dan rekaman holikopter yang diambil pada 23 Desember mengkonfirmasi bahwa bagian sektor barat daya dari gunung api tersebut telah ambruk ke laut.

Dalam sebuah laporan 29 Desember, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan bahwa tingginya Anak Krakatau turun dari 338 meter (1.108 kaki) di atas permukaan laut ke 110 meter (360 kaki).

Baca: Polisi Tangkap Warga Lhok Bugeng Jangka Bireuen, Sita Sabu-sabu dan Uang, Segini Jumlahnya

Baca: Jika Asteroid Ini Menghantam Bumi, Kiamat akan Terjadi pada 2032

Aktivitas vulkanik di Gunung Anak Krakatau terus meningkat. Statusnya menjadi siaga (Level III). - Ricky Martin/National Geographic Indonesia

Suatu simulasi peristiwa gunung berapi menunjukkan potensi gelombang 15 meter atau lebih secara lokal (merah) yang berasal dari situs Anak Krakatau.

Giachetti et al. (2012)

Saya dan kolega saya telah menerbitkan satu riset pada 2012 melihat bahaya yang ditimbulkan situs ini dan menemukan bahwa, meski sangat sulit untuk memperkirakan jika dan kapan Anak Krakatau akan runtuh sebagian, karakteristik gelombang yang dihasilkan oleh peristiwa semacam ini tidak sepenuhnya tidak dapat diprediksi.

Baca: Oknum Dosen di NTT Digerebek Anak dan Istrinya saat Sedang Berduaan dengan Mahasiswinya di Kamar Kos

Baca: 14 Bulan Gaji Dosen tak Dibayar, Mahasiswa UGL Kutacane Demo Kantor Bupati Agara

Dipicu longsoran

Meski sebagian besar tsunami memiliki asal-usul seismik (misalnya, tsunami di Aceh pada 2004 dan tsunami di Tohuku Jepang pada 2011), mereka juga dapat dipicu oleh fenomena yang terkait dengan letusan gunung berapi besar.

Tsunami yang disebabkan oleh gunung berapi dapat dipicu oleh ledakan kapal selam atau oleh aliran piroklastik yang besar–campuran panas gas vulkanik, abu dan balok yang bergerak dengan kecepatan puluhan kilometer per jam–jika mereka masuk ke dalam badan air.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved