Plt Gubernur Usul Ganti Kepala BPKS

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh yang juga Ketua Dewan Kawasan Sabang (DKS), Nova Iriansyah MT, mengusulkan

Plt Gubernur Usul Ganti Kepala BPKS
IST
Kepala BPKS Sayed Fadhil (dua kiri), Minggu (25/3/2018) bersama Wali Kota Sabang Nazaruddin (tiga kiri), Deputi Teknik, Pengembangan dan Tata Ruang Fauzi Umar (kiri) serta Deputi Umum Muslem Daud (kanan) menunjuk ke arah Teluk Sabang yang menjadi target pembenahan tata ruang. 

BANDA ACEH - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh yang juga Ketua Dewan Kawasan Sabang (DKS), Nova Iriansyah MT, mengusulkan pergantian Dr Sayid Fadhil MHum dari jabatan Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS). Usulan tersebut juga telah mendapat pertimbangan dan persetujuan dari DPRA.

Usulan pergantian itu tidak terlepas dari hasil evaluasi terhadap kinerja manajemen BPKS yang dinilai sangat lemah. Dari informasi yang diterima Serambi, Kamis (10/1), Nova Iriansyah juga telah menyiapkan pengganti Sayed Fadhil, yaitu Ir Razuardi Ibrahim yang akrab disapa Essex sebagai Plt Kepala BPKS.

Salah satu anggota DKS, Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali yang ditanyai Serambi kemarin membenarkan perihal usulan pergantian tersebut. Dia menjelaskan, pergantian itu dilakukan karena selama ini Sayed Fadhil kerap bertindak one man show dalam menjalankan tugasnya.

“Iya benar. Memang berdasarkan permintaan Plt Gubernur setelah dilakukan pembinaan dan teguran terhadap beberapa pelanggaran (yang dilakukan Sayed Fadhil). Plt Gubernur meminta pendapat DPRA sebagai bahan pertimbangan untuk mengganti Kepala BPKS, Sayed Fadhil,” katanya.

Nova mengusulkan pergantian Sayed Fadhil setelah mempelajari hasil evaluasi dari Tim Dewan Pengawas BPKS terhadap kinerja manajemen BPKS. Mawardi mengungkapkan, banyak sekali persoalan di badan tersebut, di antaranya terjadi mutasi tanpa persetujuan DKS dan pelaksanaan kegiatan yang tidak dimusyawarahkan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi dari sumber-sumber terpercaya bahwa Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengirim surat ke DPRA pada 19 Desember 2018 untuk meminta pertimbangan pergantian Sayed Fadhil sebagai Kepala BPKS.

Kemudian, surat Plt tersebut dibalas oleh DPRA pada 26 Desember 2018. Dalam surat yang diteken Ketua DPRA, Sulaiman MSM itu disebutkan bahwa pihaknya tidak keberatan dan dapat mempertimbangkan usulan pergantian Kepala BPKS tersebut.

Mawardi mengungkapkan, pergantian itu akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Menurutnya, Plt Gubernur Aceh juga telah menyiapkan nama pengganti Sayed Fadhil, namun Mawardi tidak menyebutkan nama dimaksud. Tapi, dari sumber terpercaya, pengganti Sayed Fadhil adalah mantan sekretaris daerah Aceh Tamiang, Razuardi Ibrahim. Sebelumnya ia juga memangku jabatan yang sama di Bireuen.

“Saya melihat (pergantiannya dilakukan) dalam waktu yang sangat dekat. Orangnya sudah ada, dalam beberapa hari ini akan diumumkan. Kita juga meminta semua dievaluasi agar manajemennya BPKS berjalan dengan baik,” kata Bupati Aceh Besar ini.

Dia tambahkan, setelah adanya pergantian nanti, Plt BPKS akan melaksanakan tugasnya selama enam bulan sebelum ditetapkan ketua definitif. Untuk jabatan ketua definitif sendiri akan direkrut ulang dan ditetapkan setelah dilakukan fit and proper test.

Sekadar informasi, selama ini manajemen BPKS yang dipimpin Sayed Fadhil mendapat sorotan tajam. Bahkan Plt Gubernur Aceh yang juga Ketua DKS sempat mengeluarkan kekesalannya kepada manajemen BPKS di depan peserta Focus Group Discussion (FGD) yang digagas Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) di Hotel Kryiad Muraya, Banda Aceh, Senin, 17 Desember lalu.

Nova mengungkapkan bahwa selama ini banyak masalah yang terjadi di internal manajemen BPKS. Saat itu, Nova meminta manajemen BPKS untuk tidak antikritik dan bisa bercermin diri pada masalah yang ada. Akan tetapi, dari laporan Dewan Pengawas semua teguran Ketua DKS tersebut tidak ditindaklanjuti oleh Sayed Fadhil.

Saat disindir Plt Gubernur Aceh saat itu, Sayid Fadhil menyatakan manusia tak ada yang sempurna.

“Kalau memang ada sesuatu yang khilaf, salah, atau apa pun namanya, mari sama-sama kita perbaiki. Melalui forum FGD ini kita akan mencari simpulnya di mana yang tersumbat. Jika ada yang perlu dibenah akan kita benah. Manusia itu tidak ada yang sempurna,” ujar mantan dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala ini.

Ia juga menambahkan, “Yang jelas, dengan teguran dan kritikan ini akan menjadi pemicu bagi saya untuk lebih berbenah lagi.” (mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved