Opini

Stop ‘Ghibah’ Bro!

GHIBAH merupakan satu penyakit sosial yang telah mewabah dalam kehidupan pribadi dan sosial. Kini ghibah

Stop ‘Ghibah’ Bro!
NET
Ilustrasi 

Oleh Adnan

“Jika ingin berbicara berpikirlah terlebih dulu. Jika dikira baik berbicaralah, jika ragu diamlah.” (Imam Syafi’i)

GHIBAH merupakan satu penyakit sosial yang telah mewabah dalam kehidupan pribadi dan sosial. Kini ghibah bukan hanya dipraktikkan secara tatap muka (face to face) saja. Tapi, ghibah dalam praktiknya juga telah berkembang dari layar ke layar (screen to screen). Bermakna, ghibah telah berakulturasi dalam perkembangan teknologi informasi. Di mana media sosial, semisal facebook, twitter, instagram, dan grup WhatsApp menjadi medium suburnya ghibah. Akibatnya, media sosial hanya dipenuhi oleh “sampah” komunikasi verbal.

Saat ini, objek ghibah paling menarik yakni seputar politik praktis, meliputi Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg). Para peng-ghibah di media sosial pun terus meng-update ghibah-ghibah terbaru untuk disebarluaskan (viral). Tak jarang terkadang informasi yang disebarluaskan itu menjurus kepada fitnah. Padahal, ghibah merupakan perbuatan dosa yang dilarang agama.

Perilaku ghibah diumpamakan laksana memakan daging seseorang yang telah mati. Sebagaimana firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk sangka, karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Ayat tersebut sebagai petunjuk jelas (sharih) bahwa ghibah merupakan sebuah kejahatan komunikasi verbal yang menjijikkan. Tapi, terkadang perilaku menjijikkan ini dipraktikkan oleh orang-orang beragama.

Memelihara lisan
Imam Nawawi menguraikan bahwa ghibah yaitu menyebutkan seseorang di belakangnya dengan sesuatu yang tidak disenangi. Hal ini meliputi menyebutkan sesuatu pada seseorang yang berhubungan dengan fisik (semisal pincang, botak, tinggi, pendek, hitam, kuning, buta, tuli dan lain-lain); agama (semisal fasik, khianat, zalim, meremehkan shalat, enggan berzakat dan lain-lain); dunia (semisal punya sikap anti-sosial, tak beradab, banyak bicara, banyak makan dan minum, tidur berlebihan, miskin, tidak duduk pada tempatnya dan lain-lain); pakaian (semisal lusuh, kotor, kepanjangan, kebesaran, murah, tidak mewah, kolot dan lain-lain); akhlak (semisal keras kepala, egois, sombong, mencla-mencle, pembual dan lain-lain); dan yang berhubungan dengan orang tua (semisal berbeda suku, seperti suku Jawa, Batak, orang Afrika dan lain-lain).

Ghibah semacam itu tumbuh subur di media sosial. Harusnya ghibah tidak menjadi konsumsi umat beragama. Pantas profetik berpesan bahwa banyak orang terjerumus ke dalam jurang neraka disebabkan tidak mampu memelihara lisan (hifzul lisan). Sebagaimana sabdanya, “Sungguh seorang hamba yang asal bicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu baik buruknya, dapat tergelincir ke jurang neraka yang dalamnya lebih dari jarak antara Timur dan Barat.” (HR. Bukhari-Muslim).

Sebab itu, Rasulullah saw menjamin surga bagi seseorang yang mampu memelihara lisan. Sesuai dengan sabdanya, “Barang siapa dapat memelihara sesuatu yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisan) dan sesuatu yang ada antara dua kakinya (kemaluannya) karena syariat yang ku bawa, niscaya jaminan surga baginya.l” (HR. Bukhari). Maka seyogianya manusia beriman memelihara lisan dari kejahatan verbal, semisal ghibah.

Bahkan, terkadang materi ghibah menjurus kepada fitnah. Yakni menginformasikan sesuatu bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya. Tapi, hanya bertujuan untuk meruntuhkan reputasi dan nama baik seseorang untuk kepentingan pribadi dan golongan. Fitnah merebak di saat musim politik praktis berlangsung. Di mana para kontestan saling memfitnah satu sama lain untuk memuluskan kepentingan pragmatis pribadi dan golongan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved