Opini

Krisis Ekonomi

PEREKONOMIAN negara merupakan topik yang umum diperbincangkan dan erat kaitannya dengan kebijakan moneter suatu negara

Krisis Ekonomi
EPA/BBC
Para pengunjuk rasa menuding pemerintah Presiden Nicolas Maduro membawa Venezuela kepada kebangkrutan. Kaum oposisi berunjuk rasa setiap pekan, namun kali ini diyakini melibatkan masa paling besar.(EPA/BBC) 

Oleh Raudhatinur

PEREKONOMIAN negara merupakan topik yang umum diperbincangkan dan erat kaitannya dengan kebijakan moneter suatu negara. Perekonomian suatu negara tidak terlepas dari campur tangan pemerintahan (petinggi negara) dalam menyusun regulasi atau kebijakan untuk meningkatkan perekonomian negara yang bersangkutan. Peran eksekutif dan legislatif sebagai pembuat regulasi menginginkan situasi moneter yang meningkat atau stabil dalam konteks positif. Namun pada kenyataannya setiap negara rentan terhadap krisis ekonomi. Hampir seluruh negara di dunia pernah mengalami krisis ekonomi, mulai dari negara berkembang seperti Indonesia, sampai negara maju seperti Amerika Serikat.

Krisis ekonomi tidak hanya merugikan negara yang bersangkutan, namun juga mempengaruhi negara-negara lainnya. Fenomena ini disebut sebagai globalisasi ekonomi. Robert Giplin menjelaskan bahwa globalisasi perekonomian dunia akan terus memberikan dampak terhadap hampir segala aspek dalam bidang domestik dan hubungan internasional. Sehingga globalisasi menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindarkan dan menyebabkan adanya karakteristik saling ketergantungan antara negara satu dengan negara lainnya (Adjie Aditya Purwaka, 2009).

Krisis ekonomi Asia

Pada 1997, krisis ekonomi pernah menimpa negara-negara di Asia. Bermula dari krisis ekonomi yang melanda negara Thailand. Pada saat itu Thailand sedang mengembangkan mata uangnya dengan meningkatkan ekspor. Namun rencana tersebut gagal dan didorong oleh besarnya utang luar negeri Thailand menyebabkan turunnya nilai tukar mata uang Thailand (Bath). Hal tersebut terjadi bukan tanpa sebab, melainkan sedikitnya valuta asing yang dapat mempertahankan jangkarnya ke dolar.

Selain Thailand terdapat beberapa negara lainnya yang terkena dampak krisis ekonomi pada 1997 seperti Indonesia dan Korea Selatan. Negara lain seperti Malaysia, Laos, Hongkong juga berdampak pada menurunnya nilai mata uang negara. Namun terdapat beberapa negara yang tidak berdampak signifikan akibat krisis ekonomi Asia, seperti Taiwan, Singapura, Brunei, Cina, dan Vietnam. Namun negara-negara tersebut juga turut merasakan imbas krisis ekonomi, salah satunya penurunan tingkat kepercayaan investor.

Krisis ekonomi terjadi bukan hanya pada negara-negara berkembang, Amerika Serikat (AS) pernah mengalami krisis keuangan pada 2008. AS dikenal sebagai negara adidaya, dimana negara ini memiliki pengaruh besar kepada negara lainnya baik dari sisi perindustrian maupun teknologi. Krisis ekonomi AS pada 2008 diawali oleh penerapan Subprime mortgage, yaitu program pemberian kredit rumah kepada debitor dengan sejarah kredit yang buruk atau tanpa sejarah kredit sama sekali. Program ini gagal disebabkan banyaknya debitor yang tidak membayar kredit yang diperjanjikan dan menyebabkan AS mengalami krisis ekonomi. Krisis keuangan yang terjadi di AS menyebabkan bangkrutnya perusahaan asuransi raksasa AIG dan lembaga keuangan Washington Mutual (Ali, 2009).

Krisis keuangan yang terjadi di AS bukan hanya berdampak pada lembaga-lembaga di AS, namun juga merambat ke benua Eropa, sehingga mereka mengambil kebijakan untuk menasionalisasikan masalah di beberapa lembaga keuangan. Beberapa negara tersebut di antaranya Inggris, di mana pemerintahnya mengambil alih perusahaan kredit kepemilikan rumah Bradford dan Bingley. Sama halnya yang dialami oleh negara Spanyol, pemerintahnya mengambil alih bisnis KPR tersebut dari Grupo Santander. Bukan hanya itu, perusahaan Fortis yang dimiliki oleh tiga negara sekaligus yaitu Belgia, Belanda, dan Luxemburg dinasionalisasikan secara terpisah. Kebijakan tersebut dilakukan untuk meminimalisir krisis global pada saat itu (Ali, 2009).

Sebuah tanda tanya mencuat akibat isu dari permasalahan perekonomian dunia; apa penyebab dari krisis ekonomi ini? Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan RI memberikan penjelasannya soal penyebab krisis ekonomi khususnya pada 1998. Ia menyebutkan bahwa “penyebab utamanya berasal dari neraca, di mana nilai tukar yang tidak fleksibel, kemudian rekomendasi dengan capital flow yang bebas, sehinggan muncul tidak sinkronisasi dari kurs dan capital flow.” (detikfinance, 2017).

Tidak jauh berbeda dari pendapat Sri Mulyani, dilansir Kompas.com (2015), Mahathir Mohammad (mantan PM, yang sekarang kembali menjadi PM Malaysia-red.) menyatakan bahwa “salah satu faktor terjadinya krisis ekonomi pada 1997-1998 di Asia khususnya (Indonesia-Malaysia), dikarenakan jatuhnya nilai mata uang yang disebabkan oleh pedagang mata uang, mereka menjual uang untuk menurunkan nilai mata uang.” Namun Ia menyatakan ada faktor lain penyebab krisis, yaitu kurangnya kepercayaan pada mata uang tersebut dan masalah internal dari negara itu sendiri.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved