Wajah Baru Krueng Daroy

SEMILIR angin menciptakan riak di permukaan air. Pepohonan yang ‘memagari’ bantaran sungai, mengembuskan kesejukan

Wajah Baru Krueng Daroy
SERAMBI/NURUL HAYATI
KAWASAN Krueng Daroy, Banda Aceh yang disulap menjadi pedestrian area, Jumat (11/1).SERAMBI/NURUL HAYATI 

SEMILIR angin menciptakan riak di permukaan air. Pepohonan yang ‘memagari’ bantaran sungai, mengembuskan kesejukan sekaligus melindungi pejalan kaki dari sengatan matahari langsung. Sinarnya jatuh membayang di permukaan kanal buatan yang ‘membelah’ dua gampong di Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Refleksi peninggalan kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam yang kini tengah bersolek.

‘Taman Krueng Daroy’, demikian nama yang disematkan pada pedestrian sepanjang 1.800 meter tersebut. Sebuah gapura berwarna tanah dipenuhi ukiran, menyambut pengunjung di salah satu jalur masuk. Dua sisi pedestrian yang mengapit bantaran sungai itu, dihubungkan oleh tiga jembatan berkonstruksi kayu yang dibangun di tengahnya. Dilengkapi taman dengan landmark berdiri gagah berlatar Gunongan. Dipercantik batu-batu khas taman urban, dari pintu gerbang hingga sepanjang jalur yang diperuntukkan bagi pejalan kaki tersebut.

Jalur pedestrian itu membentang mulai Jembatan Putroe Pahang hingga Jembatan Seulawah. Demi kenyamanan pengunjung, sejumlah bangku taman disiapkan untuk tempat rehat. Serambi yang menyambangi Taman Krueng Daroy, Jumat (11/1), mendapati tempat ini masih terbilang sepi sekaligus ramah pejalan kaki.

“Tujuannya menata kembali kawasan Krueng Daroy yang selama ini kumuh untuk menjadi destinasi baru wisata kota,” ujar Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman (Perkim) Kota Banda Aceh, Ir Jalaluddin MT.

Ia menjelaskan, Krueng Daroy adalah salah satu bukti kejayaan Kerajaan Aceh yang mampu membangun sungai yang mengalir di bawah istana. Kini, tempat yang telah berganti rupa dan nama menjadi Taman Krueng Daroy itu dijadikan sebagai wisata sejarah.

Ia menambahkan, rencananya tempat itu akan diresmikan pada pengujung Januari ini. Jalaluddin menyebutkan, pembangunan tahap 1 telah dimulai sejak 2018 dengan menelan dana Rp 14,1 miliar yang bersumber dari APBN Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pembangunan meliputi rabat beton, jembatan kayu, bangku, dan taman. Bagian bangunan yang terbuat dari bilah-bilah kayu berteralis besi menjorok ke arah sungai, menyebar di sejumlah titik sepanjang sisi pedestrian. Menyerupai balkon di depan permukiman warga yang menghadap bantaran sungai.

“Dulu kesannya kumuh kan dengan permukiman. Sekarang terlihat lebih bersih, rapi, dan indah. Cuma bangunan di sepanjang sungai belum mendukung kali,” komentar Mira, warga Ulee Kareng, Banda Aceh.

Ya, tak berlebihan kalau pengunjung dibuat pangling. Potret ini berbanding terbalik dengan wajah kawasan Krueng Daroy sebelumnya yang terkesan kumuh. Kini kawasan Krueng Daroy yang disulap menjadi pedestrian itu, diperuntukkan bagi pejalan kaki, jogging, dan olahraga lainnya, namun tentu saja terlarang bagi mobil. Terlihat lebih apik dan membuat pengalaman berwisata sejarah anda menjadi lebih menyenangkan.(nurul hayati)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved