Citizen Reporter

Di Jepang, Awal Tahun Dapur tak Berasap

Beberapa hari sebelum tahun baru, orang-orang di Jepang sudah libur. Di sini mereka membersihkan rumah

Di Jepang, Awal Tahun Dapur tak Berasap
IST
NIVA ADILLAH

OLEH NIVA ADILLAH, Siswi SMA Negeri 1 Jeumpa Puteh, Aceh, sedang mengikuti program pertukaran pelajar Bina Antarbudaya/Kakehashi Project, melaporkan dari Nagoya, Jepang

JIKA tahun baru Islam di Aceh dimeriahkan dengan Pawai Muharam, di Jepang lain lagi ritualnya. Tahun baru layaknya hari raya bagi orang Jepang. Oleh karena itu, menghabiskan Desember di Jepang merupakan pilihan yang tepat karena kita akan merasakan suasana yang sangat berbeda.

Beberapa hari sebelum tahun baru, orang-orang di Jepang sudah libur. Di sini mereka membersihkan rumah serta menaruh tempelan-tempelan yang berlambang Inoshishi, ikan, kacang, dan lainnya. Masing-masing dari hiasan ini memiliki arti yang berbeda. Ada yang berarti semangat menjelang tahun baru, kerja keras, target, dan tujuan-tujuan.

Saat malam tahun baru tiba, biasanya orang Jepang menghabiskan waktunya dengan keluarga untuk menonton program-program di televisi. Makan malam pun biasanya berupa soba (mi khas Jepang). Ini pertanda bahwa siang akan segera berakhir. Memang pesta kembang api juga dilaksanakan, akan tetapi bagi orang Jepang, menghabiskan waktu dengan keluarga justru merupakan hal yang lebih istimewa.

Keesokan harinya, orang Jepang akan bangun lebih cepat dari biasanya untuk melihat matahari terbit sambil membuat harapan-harapan (resolusi) pada tahun mendatang. Setelah itu, sarapan akan diisi dengan makanan-makanan yang sudah dibeli atau dibuat khusus sebelumnya. Makanan ini cukup untuk satu hari makan sehingga tak ada aktivitas apa pun di dapur pada saat hari pertama tahun baru. Maknanya ialah Tuhan mereka sedang beristirahat, oleh karenanya mereka harus menghormati dengan tidak melakukan aktivitas.

Kemudian, mereka akan pergi ke kuil untuk beribadah. Orang Jepang pada umumnya hanya berdoa sekali dalam setahun, yaitu saat hari pertama tahun baru. Di sini orang berbondong-bondong datang ke kuil. Setelah beribadah mereka akan mengambil kertas takdir, pada kertas tersebut terdapat tingkatan-tingkatan keberuntungannya. Jika keberuntungannya tidak terlalu baik, mereka akan membeli yang baru dengan harapan dapat mengubah takdirnya.

Lalu, mereka akan membeli sebuah barang yang sudah didoakan sebelumnya. Barang ini akan disimpan selama setahun dan akan diganti lagi pada tahun selanjutnya.

Di kuil terdapat juga masakan-masakan tradisional khas Jepang seperti soba, mochi, dan sup kacang merah. Biasanya, menu makanan tersebut dimasak oleh orang-orang yang tinggal di sekitar desa tersebut. Sepulangnya dari kuil, orang tua di Jepang akan memberika beberapa pertanyaan kepada anaknya sebagai contoh apa target pada tahun ini sehingga mereka akan lebih bersemangat.

Setelah melakukan beberapa perbincangan, anak-anak akan diberi otoshidama atau tempelan hari raya (salam tempel ). Ini dimaksudkan untuk menunjang semangat anak pada tahun baru ini.

Kemudian, hari pertama akan diisi dengan kunjungan ke rumah nenek, kakek, atau kerabat terdekat karena orang Jepang terbilang sangat fokus pada bekerja sehingga hari tersebut akan dihabiskan dengan bersilahturahmi. Hal ini sangat menggambarkan kebersamaan di antara keluarga tersebut. Apalagi keluarga angkat saya masih memiliki kakek dan nenek serta beberapa anggota keluarga yang lain maka kebersamaan itu sangat terasa saat tahun baru.

Lalu, pada hari kedua tahun baru mereka biasanya akan berkunjung ke makam anggota keluarganya yang sudah meninggal. Mereka pergi bersama-sama lalu menghabiskan hari kedua bersama lagi dengan pergi ke mal untuk membeli kantung keberuntungan atau fukubukuro lalu masak makanan khas Jepang saat tahun baru seperti sukiyaki dan menonton bareng program-program di televisi.

Bagi saya ini merupakan pengalaman yang terbilang sangat baru dan unik karena rasanya seperti menghabiskan Hari Raya Idul Fitri di Aceh yang juga banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan kebersamaan yang sangat erat oleh orang-orang di sekitar.

Tidak hanya itu, biasanya orang Aceh akan makan masakan-masakan tertentu dan sudah menyiapkan hari raya dari jauh-jauh hari.

Kesimpulan yang dapat saat saya ambil disini adalah menerima perbedaan yang ada di sekitar kita itu sangatlah indah, terkadang perbedaan itu ialah sebenarnya persamaan yang tidak kita sadari. Perbedaan- perbedaan yang ada di sekitar kitalah yang membuat kebersamaan terasa lebih indah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved