Tiga Rumah Warga Terancam Ambruk

Sebanyak tiga rumah warga terancam ambruk menyusul longsor yang terjadi di Jembatan Bale Panah, lintas nasional

Tiga Rumah Warga Terancam Ambruk
SERAMBI/FERIZAL HASAN
LONGSOR yang terjadi di Jembatan Bale Panah, lintas nasional Bireuen-Takengon, Km 9, Kecamatan Juli, Bireuen, kini makin meluas. Selain telah menyebabkan satu rumah ambruk, tiga rumah lainnya di kawasan itu juga terancam ambruk. 

* Longsor Jembatan Balee Panah

BIREUEN - Sebanyak tiga rumah warga terancam ambruk menyusul longsor yang terjadi di Jembatan Bale Panah, lintas nasional Bireuen-Takengon Km 9, Kecamatan Juli, Bireuen.

Informasi yang dihimpun Serambi di lokasi kejadian, Sabtu (12/1), satu rumah yang telah runtuh akibat longsor yaitu milik Mustafa. Sedangkan tiga rumah lainnya milik Abu Bakar (Nek Abu), Samsul Bahri, dan Ridwan.

Dikatakan warga setempat, jika longsor itu tidak segera ditangani, saat turun hujan ketiga rumah itu juga dikhawatirkan roboh ke sungai. “Kalau longsor ini tidak segera ditangani, rumah kami dikhawatirkan akan ambruk,” lapor Nek Abu saat ditemui Serambi di rumahnya kemarin.

Nek Abu menyebutkan, saat longsor pada Desember lalu, Pemkab Bireuen atau dinas terkait telah meninjau dan mendatanya. Tapi mereka hanya meninjau dan mendata saja rumah yang terkena longsor. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda ditangani. Bahkan, kini selain tempat tinggal Mustafa yang telah roboh, rumah Nek Abu dan sekitarnya juga terancam. Karena, sepanjang deretan rumah tersebut, dibelakangnya hanya dibatasi tebing Krueng Peusangan.

“Sedikit hujan saja, rumah kami langsung runtuh. Dua hari lalu seorang remaja sempat terjatuh saat berdiri dekat longsor, saat melihat tanah longsor, dia pun terjatuh. Syukurlah, remaja asal Desa Juli Teupin Mane itu tidak apa-apa,” sebut Nek Abu yang ditemani istri, dan anaknya.

Nek Abu saat ini menetap bersama istri dan seorang anaknya. Jarak rumah Nek Abu dengan longsor hanya berpaut sekitar tiga meter. “Setiap malam kami tidak tenang tidur di rumah. Saat ada suara gaduh, saya bersama istri ke luar rumah untuk melihat situasi di luar. Kami sangat was-was dari longsor,” ujar Nek Abu.

Nek Abu dan keluarganya berharap tidak pindah rumah karena tidak ada tempat lain. “Kami berharap segera dibangun tanggul atau bronjong serta saluran air untuk mencegah meluasnya longsor,” harapnya.

Sementara itu, Mustafa dan keluarganya yang rumahnya telah ambruk akibat longsor di jembatan Bale Panah, lintas Bireuen-Takengon Km 9, Desember lalu, hingga kini masih mengungsi ke rumah tetangganya yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya.

Sedangkan rumah Mustafa masih dibiarkan rusak. Belum ada perhatian dari Pemkab. Padahal, beberapa hari lalu, rumah tersebut telah didata oleh pemerintah setempat. “Kami masih mengungsi ke rumah tetangga. Kami belum ada perhatian apa-apa, karena mereka hanya mendata saja,” keluh Mustafa.

Saat longsor pada Desember lalu, dinas terkait hanya meninjau dan mendatanya, tapi hingga kini belum ada solusi untuk ditanganinya. Bahkan kini tiga rumah warga sebelah selatan rumah Mustafa juga terancam runtuh, karena sepanjang deretan rumah tersebut, berbatasan dengan tebing Krueng Peusangan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Bireuen-Takengon, Hengki Hernawan kepada Serambi mengatakan, pihaknya mengaku telah menghubungi kontraktor untuk menangani longsor dengan tanggap darurat. “Saya sudah menghubungi kontraktor, longsor di Jembatan Bale Panah itu segera ditangani,” janji Hengki.(c38)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved