Memilih Wakil Rakyat

BERLAMBANG warna-warni dengan foto dan bertuliskan pesan adalah pemandangan di pinggir jalan, yang sekarang

Memilih Wakil Rakyat
Unsur Muspida Kabupaten Aceh Timur, pengurus partai politik nasional dan lokal, para caleg, ketika berikrar pemilu damai diaula Mapolres Aceh Timur. SERAMBI/NASRUDDIN

Oleh Zarkasyi Yusuf

BERLAMBANG warna-warni dengan foto dan bertuliskan pesan adalah pemandangan di pinggir jalan, yang sekarang ini banyak kita jumpai, itu adalah spanduk para calon anggota legislatif (caleg). Slogan yang tertulis pada spanduk ada yang menarik, menggelitik, bahkan ada yang membual.

Slogan itu ada adu visi mereka dalam mempengaruhi orang lain untuk memilih. Dalam ilmu komunikasi, kemampuan mempengaruhi orang lain menjadi satu syarat agar sebuah pesan tersampaikan. Seiring perkembangan zaman, maka komunikasi pun masuk dalam dunia politik, sehingga dikenal istilah komunikasi politik.

Komunikasi politik sangat jauh berbeda maknanya dengan “politik komunikasi”, komunikasi politik didefinisikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan pengaruh, kekuasaan, kewenangan, nilai, ideologi, kebijakan umum, distribusi kekuasaan menjadi pesan yang disampaikan secara sirkular dari pengirim (komunikator politik) kepada penerima (komunikan), audiens atau khayalak politik. Sedangkan “politik komunikasi” maksudnya adalah mengkaji komunikasi dari aspek poliyiknya.

Artikulasi dan agregasi kepentingan merupakan satu fungsi langsung dari komunikasi politik. Apalagi didukung dengan pemamfaatan media yang bagus dan mampu membentuk pola hubungan baru yang dapat menampung seluruh kepentingan, sehingga pesan-pesan politik tersampaikan dan mampu mempengaruhi.

Berbicara kepentingan, bisa saja mengabaikan nilai kejujuran, karena satu sifat buruk dalam politik adalah mengabaikan kejujuran untuk menyukseskan kepentingan, sifat ini selalu hadir dalam “laga-laga” politik, baik pada level gampong sampai pada level nasional. Kejujuran diabaikan adalah tanda awal dari kehancuran sebuah sistem; jika ia hadir dalam politik maka hancurlah politik, jika hadir dalam dunia birokrasi maka hancurlah birokrasi.

Pesan-pesan yang disampaikan oleh para caleg melalui spanduk mereka, kita namakan saja kontestasi visi. Sebab, jika diperiksa lebih detail, memang pesan-pesan itu adalah visi mereka ketika terpilih nantinya menjadi anggota legislatif. Jika dilihat ragam pesan tersebut, wajar jika kita namakan kontestasi, para caleg adu ketangkasan dalam “merekayasa kata” agar menjadi sebuah pesan yang mampu mempengaruhi orang lain.

Kontestasi visi caleg dalam pesan-pesan tertulis dalam spanduk tidak serta merta mencerminkan kepribadian seseorang, karena tulisan itu terkadang lahir dari rekayasa untuk menarik simpati meraih dukungan, terkadang juga dilahirkan dari ide orang lain yang, atau hanya mencontek dari orang lain. Kontestasi visi melalui pesan tidak pula dapat menunjukkan siapa yang jujur dan tulus, sebab tulisan itu terkadang bertolak belakang

Visi para bacaleg yang terangkum dalam pesan singkat yang ditulis pada spanduk atau jenis lainnya cukup visioner dan sebuah cita-cita mulia jika mereka nanti terpilih menjadi anggota legislatif yang bertugas menjadi wakil rakyat. Pesan-pesan tersebut ada yang murni lahir dari sebuah keinginan untuk menjadi wakil rakyat, ada pula yang menggelitik, bahkan ada yang membual.

Tapi, biarlah para pemilih yang akan menilainya sendiri, satu harapan yang pasti bahwa yang terpilih nantinya adalah mereka yang benar-benar tulus memperjuangkan nasib rakyat, mau memperjuangkan kemakmuran bagi rakyat walaupun mereka belum “makmur”, rela memperjuangkan kesejahteraan rakyat, walaupun mereka belum “sejahtera”.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved