Opini

Menakar Janji Caleg

CALON legislatif (Caleg) yang berjanji pada calon pemilih bukanlah hal yang perlu dipersoalkan, justru dalam demokrasi

Menakar Janji Caleg
SERAMBINEWS.COM/RISKI BINTANG
Deklarasi Pemilu damai dilaksanakan Kecamatan Teunom, Aceh Jaya yang dihadiri oleh Muspika setempat, Ketua KIP Aceh Jaya, Ketua PPK Teunom dan Pasie Raya, dan Caleg dari Dapil Aceh Jaya 2. 

Oleh Marah Halim

CALON legislatif (Caleg) yang berjanji pada calon pemilih bukanlah hal yang perlu dipersoalkan, justru dalam demokrasi kuantitatif yang berbasis one man one vote para caleg harus berjanji kepada calon pemilihnya. Ibarat pemuda yang memperebutkan cinta seorang gadis, tentu sebisa mungkin dibujuk-rayunya dengan janji; janji kebahagiaan lahir berupa terpenuhinya sandang, papan, dan pangan; dan kebahagiaan batin berupa kesiapan si abang menjadi pelindung, pendamping, serta pembimbing yang setia. Untuk meneguhkan janjinya tak jarang si abang bersumpah segala.

Tak perlu juga alergi dengan janji, karena hanya “gadis” lugu nan udik yang bisa dikecapi dengan janji-janji yang indah nan mudah. Gadis (pemilih) yang berpengalaman dan berpengetahuan cukup tentu tidak akan begitu saja tertarik; alih-alih dia akan menyusun sejumlah kriteria untuk menyeleksi pilihan hatinya. Kini, daftar pemilih kita didominasi generasi milenial yang rasional, generasi yang patut diberi kepercayaan akan memilih dengan akal sehatnya.

Calon pemilih yang mandiri dan berwawasan tidak akan bertanya “apa”, tetapi ia akan bertanya “bagaimana”. Pertanyaan kualitas “apa” hanya akan memancing abang caleg untuk cang panah, cakologi, dan cet langet.

Janji cara
Janji dalam kampanye adalah keniscayaan, maka yang perlu dipahami calon pemilih adalah karakteristik, bentuk serta jenis janji seperti apa yang keluar dari seorang caleg. Ini penting agar calon pemilih juga tidak terlalu berharap atau mengharapkan hal-hal yang tidak mungkin diwujudkan oleh seorang anggota legislatif. Terlepas dari beberapa pengecualian dalam perpolitikan di Aceh khususnya, seperti adanya plotting dana aspirasi, secara umum dapat dikatakan bahwa yang dapat dijanjikan atau yang seharusnya dijanjikan oleh caleg kepada calon pemilih adalah cara membawa aspirasi masyarakat, bukan memenuhi aspirasi itu sendiri.

Aspirasi masyarakat, terutama keterpenuhan kebutuhan dalam pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, infrastruktur, serta ketertiban; maka yang bisa dilakukan oleh seorang anggota legislatif adalah mendorong atau mengingatkan eksekutif agar melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut. Jika pelayanan kesehatan di puskesmas tidak memuaskan karena keterbatasan tenaga kesehatan yang bertugas, maka yang dapat dilakukan oleh seorang anggota legislatif adalah menyuarakan agar eksekutif segera menyelesaikan persoalan tersebut, legislatif akan mengawal serta mengawasi tindak lanjut yang dilakukan oleh eksekutif.

Agar apa yang diserunya disahuti dan mendapat reaksi segera, anggota legislatif perlu menggalang dukungan politik dari semua stakeholders, baik internal legislatif maupun eksternal berbagai komponen masyarakat sipil yang berkepentingan dengan masalah kesehatan. Dalam konteks ini, kekuatan seorang legislatif betul-betul pada kemampuan berkomunikasi, yaitu cara mempengaruhi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) untuk turut serta memikirkan jalan keluar atau setidaknya memberi dukungan moril agar masalah tersebut segera terpecahkan.

Secara peran, kedudukan, kewenangan dan fungsi, lembaga legislatif berbeda dengan eksekutif; eksekutif “memberi ikan”, tetapi legislatif hanya “memberi kail atau jala” untuk menangkap ikan. Karena itu perasaan harus disetel betul ketika mendengar janji caleg. Banyak calon pemilih yang berasumsi bahwa anggota legislatif bisa mewujudkan langsung apa yang menjadi aspirasi mereka, kesalahan asumsi ini berujung pada kesalahpahaman pada semua yang dilakukan anggota legislatif.

Calon pemilih harus tahu bahwa tugas lembaga ini bukanlah eksekutor langsung bagi penyelenggaraan suatu urusan, tetapi lebih sebagai mediator dan penyambung lidah rakyat. Calon pemilih jugaharus tahu bahwa fungsi lembaga ini adalah fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan; dan harus tahu bahwa dalam fungsi-fungsi itu kewenangan mereka sangat glondongan dan global. Namun demikian; lembaga dan anggota legislatif legitimasi yang kuat dari publik untuk menjadi mata, mulut, telinga, tangan, dan kaki publik untuk difungsikan membela kepentingan publik.

Dalam bekerja pun lembaga legislatif bersifat kolektif dan kolegial, artinya mereka bekerja bukan seperti Superman yang beraksi serba sendiri, mereka para aleg tetaplah “Suparman” yang bekerja membutuhkan dukungan orang lain. Bahkan keberhasilan dan kegagalan seorang caleg ditentukan oleh kemampuannya menggalang dukungan orang lain, jadi semua terkait dengan cara; cara berkomunikasi, cara memfasilitasi, cara memediasi, cara mengkoordinasi, dan sebagainya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved