Harga Tiket Tinggi, Pariwisata Mati

Pengamat ekonomi Unsyiah, Rustam Efendi meminta pemerintah secepatnya mengendalikan harga tiket pesawat

Harga Tiket Tinggi, Pariwisata Mati
SERAMBI/M ANSHAR
WARGA antre mengurus paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Banda Aceh, Senin (14/1). 

BANDA ACEH - Pengamat ekonomi Unsyiah, Rustam Efendi meminta pemerintah secepatnya mengendalikan harga tiket pesawat yang gila-gilaan kepada harga yang wajar agar tidak berimbas bahkan mematikan sektor usaha lainnya, termasuk industri pariwisata.

“Ya, tiket pesawat yang mahal bisa mematikan usaha yang telah berkembang di masyarakat termasuk industri pariwisata dengan berbagai sektor ikutannya,” kata Rustam menjawab Serambi, Senin (14/1) menanggapi sorotan masyarakat terhadap tingginya harga tiket pesawat rute domestik sejak beberapa waktu terakhir.

Dikatakan Rustam, dengan mahalnya harga tiket pesawat dari dan ke Aceh membuat minat kunjungan wisatawan baik nasional maupun luar negeri menjadi berkurang. “Bayangkan saja, untuk sekali penerbangan dari Jakarta ke Aceh, dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia, misalnya harus merogoh kocek sampai Rp 3 juta. Ini tentu membuat orang berpikir ulang untuk melakukan perjalanan,” ujar Rustam.

Secara keseluruhan, lanjut Rustam, dampak mahalnya harga tiket pesawat melesukan bahkan membunuh berbagai usaha yang memberikan kontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi. “Jika itu terganggu tentu saja akan menambah jumlah pengangguran dan kemiskinan,” tandasnya.

Rustam juga mengamati fenomena di kalangan masyarakat Aceh sejak beberapa waktu terakhir yaitu menyiasati mahalnya harga tiket pesawat rute domestik dengan cara menempuh rute Banda Aceh-Jakarta via Kuala Lumpur. Dengan cara itu, harga tiket bisa dihemat hingga Rp 2 juta.

“Meskipun bagi sebagian masyarakat itu dianggap sebagai solusi, namun tidak bisa dibiarkan karena masyarakat akan membelanjakan uangnya di Kuala Lumpur selama transit. Dalam setahun bisa mencapai puluhan miliar. Ini artinya semakin banyak uang dari Aceh mengalir ke luar negeri,” kata Rustam.

Menurut Rustam, yang jadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana maskapai asing seperti AirAsia bisa menjual tiket lebih murah dari maskapai nasional. Padahal jalur yang ditempuh lebih panjang.

“Saya pikir harus ada solusi secepatnya. Kalaupun sudah ada kesepakatan untuk menurunkan harga tiket pesawat oleh maskapai yang berhimpun di dalam wadah INACA, itu harus benar-benar pada harga yang wajar,” kata Rustam Efendi.

Seperti diberitakan, kenaikan harga tiket penerbangan domestik dalam beberapa hari terakhir membuat warga yang bertolak dari Banda Aceh lebih memilih transit di Kuala Lumpur (KL) jika ingin ke Jakarta. “Jalur panjang” ini mereka tempuh karena harga tiketnya jauh lebih murah daripada penerbangan domestik (misalnya Banda Aceh-Jakarta atau Banda Aceh-Padang). Dampak dari kondisi ini, masyarakat Aceh ramai-ramai mengurus paspor meski mereka akan melakukan perjalanan dengan tujuan akhir adalah di dalam negeri, seperti Pulau Jawa.

Dalam perkembangan terbaru, maskapai penerbangan yang tergabung dalam Indonesia National Air Carrier Association (INACA) menurunkan harga jual tiket pesawat rute domestik yang sejak beberapa waktu terakhir sangat dikeluhkan oleh masyarakat.

Sekretaris Jenderal INACA, Tengku Burhanudin mengatakan, Garuda Indonesia memangkas tarif tiket dari Aceh ke Jakarta hampir separuhnya dari Rp 3,2 juta menjadi Rp 1,6 juta.

“Contoh Banda Aceh-Jakarta misalnya yang tadinya Rp 3,2 juta itu Garuda kelihatannya akan membuat Rp 1,6 juta,” jelasnya di Kawasan SCBD, Jakarta, Minggu (13/1).

Maskapai lain, Batik Air juga ikut menurunkan harga tiket penerbangan rute Banda Aceh-Jakarta hampir setengah harga. Batik Air juga memangkas tarif Jakarta-Bali menjadi Rp 1,9 juta. Mulanya, tarif di jalur itu sebesar Rp 2,9 juta. (her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved