Mahasiswa UGL Demo ke DPRK

Puluhan mahasiswa dari Universitas Gunung Leuser (UGL) Kutacane berdemo ke DPRK Agara

Mahasiswa UGL Demo ke DPRK
SERAMBI/ASNAWI LUWI
MAHASISWA dari Universitas Gunung Leuser (UGL) Kutacane berdemo ke DPRK Agara, Senin (14/1). Demonstran menuntut diaktifkan kembali perkuliahan. Mereka juga meminta Pemkab Agara untuk mengevaluasi kinerja yayasan yang dinilai tidak menjalankan tugasnya.

* Tuntut Evaluasi Yayasan dan Aktifkan Perkuliahan

KUTACANE - Puluhan mahasiswa dari Universitas Gunung Leuser (UGL) Kutacane berdemo ke DPRK Agara, Senin (14/1). Demonstran menuntut Pemkab Agara dan dewan mengevaluasi kinerja Yayasan UGL Kutacane sekaligus mengaktifkan perkuliahan di kampus tersebut.

“Kami mau tetap kuliah. Evaluasi kinerja kepengurusan Yayasan UGL Kutacane, “ kata seorang demonstran, Sufli Sawalis alias Fais, kepada Serambi. Hal yang sama disampaikan oleh Mansur Matulidi dan Almujawaddin.

Menurut dia, mereka sudah tiga minggu tidak aktif kuliah. Hal ini tentu saja merugikan mereka sebagai mahasiswa yang menimba ilmu di kampus tersebut. Demonstran mengusung berbagai poster seperti, “Stop Tipu dan Janji-janji di UGL Kutacane, Hadirkan Bupati Agara, Tutup Mata dan Penglihatan Kalian, Kalian Tutupi Akal Sehat Mahasiswa.”

Sementara itu, Sekretaris Umum Yayasan UGL Kutacane, Salman, mengatakan, mereka mendapat dana perimbangan desa tahun 2018 mencapai Rp 1,4 miliar. Jumlah mahasiswa 385 orang. Dari jumlah itu, 311 orang yang baru membayar uang kuliah, sedangkan 74 orang lagi yang dialokasikan dari dana desa belum membayar uang kuliah.

Menurut dia, dana yang dialokasikan mencapai Rp 4.650.000/per semester pe orang. Saat ini perkuliahan belum aktif. Sudah dua pekan proses belajar-mengajar terhenti. Dalam rapat dengan pimpinan DPRK, Sekda, mereka meminta kepada pihak dosen dan rektorat agar mengaktifkan kembali kampus. “Insya Allah dalam empat hari ini, kita minta agar 74 mahasiswa yang belum bayar kuliah agar disegerakan membayarkannya dari dana perimbangan desa. Tapi, pihak rektorat tidak bersedia dan mereka meminta tetap dibayarkan gaji dosen yang menunggak selama 14 bulan sejak 2017-2018,” kata dia. Gaji dosen yang belum dibayarkan 12 bulan masa kepengurusan yayasan yang lama dan dua bulan masa kepengurusan baru.

Sekda Agara Muhammad Ridwan mengaku kecewa dengan pihak rektorat. Alasannya, pihak rektorat tidak bersedia melakukan aktivitas perkuliahan seperti semula jika gaji dosen selama 14 bulan tidak dibayarkan.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pemerintah Desa (APDESI) Aceh Tenggara, Nawi SE, mengatakan, 385 desa di 16 kecamatan dialokasikan mengalokasikan dana Rp 9.400.000 per desa untuk biaya perkuliahan aparatur desa. Namun, yang telah direalisasikan sebesar Rp 4. 650.000 dari 385 desa untuk uang kuliah semester pertama. “Tapi, aktivitas kuliah tidak berjalan maksimal, maka kami akan membatalkan, karena adanya pengingkaran pihak yayasan UGL Kutacane dengan pemerintahan desa,” kata Nawi. Kasus ini akan dilaporkan kepada aparat penegak hukum seperti Polres maupun Kejari Agara.

Sebelumnya, seratusan mahasiswa Universitas Gunung Leuser (UGL) Kutacane berdemo ke Kantor Bupati Agara, Kamis (10/1). Demonstran menuntut dibayarkan gaji dosen yang tertunggak selama 14 bulan.

Demonstran mengusung berbagai poster dan longmarch dari Kampus UGL Kutacane yang jaraknya sekitar dua kilometer. Mereka berorasi bergiliran di Kantor Bupati Agara. Kedatangan demontran disambut oleh Sekda Agara, Muhammad Ridwan

Merasa tidak puas, merekapun melanjutkan aksi demonya ke gedung DPRK Agara. Namun, gedung mewah untuk wakil rakyat itu, sepi akibat minimnya legislatif yang berada di Kantor DPRK Agara.

Menanggapi kasus terhentinya perkuliahan di UGL, Bupati Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Aceh Tenggara, M Saleh mengatakan, harus ada kejelasan ke mana saja dana tersebut dialokasikan. Dikatakan, Polres Agara harus mengaudit dana di UGL Kutacane sejak 2017 hingga 2018. “Kita menduga ada yang tidak beres, sehingga gaji dosen selama 14 bulan tidak dibayarkan, sementara itu biaya kuliah telah dibayarkan. Ini aneh dan harus diaudit penggunaan dana di Yayasan UGL Kutacane tersebut,” kata M Saleh. M Saleh mengaku siap mendampingi para dosen untuk melaporkan kasus ini ke Polres Agara.(as)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved