Opini

Menanti Debat Capres

BERAGAM isu terkait debat calon presiden dan calon wakil presiden (Capres/Cawapres) mencuat ke publik

Menanti Debat Capres
kolase Twitter/Tribunnews
Jokowi, Gus Nadir, Prabowo 

Oleh Amiruddin

BERAGAM isu terkait debat calon presiden dan calon wakil presiden (Capres/Cawapres) mencuat ke publik. Di antaranya, seruan penggunaan bahasa Inggris ketika debat berlangsung. Keinginan ini merupakan tawaran Tim Sukses (Timses) Prabowo-Sandi.

Tawaran tersebut ternyata mendapat tanggapan unik dari Timses Jokowi-Ma’ruf. Seperti ungkapan Wasekjen PPP, Indra Hakim Hasibuan. Ia menantang agar Debat Capres menggunakan lisan bahasa Arab. Juga ajakan membaca Alquran sebelum sesi debat.

Dua statemen di atas dapat dipahami bahwa mereka ingin menjatuhkan pasangan lawan politik lewat debat bergengsi ini. Karena ada pasangan dan personal yang tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab, juga tidak sempurna berbicara dengan bahasa Inggris.

Masyarakat mengakui kemampuan berbahasa Inggris Prabowo dan Sandiaga Salahudin Uno. Pasangan ini memamg kerap berkomunikasi dengan bahasa internasional. Sebaliknya, selama ini rakyat Indonesia disajikan informasi tentang ketidakmampuan Jokowi berbahasa Inggris.

Akhirnya masyarakat kian ragu apakah presiden ketujuh Indonesia itu kompeten berbicara bahasa Inggris. Terlebih sejak menjadi presiden, jarang sekali rakyat Indonesia mendengar dan menyaksikan Jokowi berbicara dalam bahasa Inggris. Khususnya ketika Jokowi tampil pada even internasional. Walaupun realitanya Jokowi mahir merangkai kata dalam bahasa Inggris.

Ternyata, kubu Jokowi menantang debat dengan menggunakan bahasa Arab. Karena mereka yakin pasangan nomor urut 02 (Prabowo-Sandi) tidak mampu berbahasa Arab. Tentu akan menambah poin bagi nomor urut 01. Sebab ada KH Ma’ruf Amin yang sudah terbiasa dengan lisan Arab. Karenanya, kemampuan bahasa Arab Ma’ruf Amin sangat membantu Jokowi dalam menyampaikan visi misinya. Inilah yang ingin dicapai dari argumen masing-masing Timses. Yang berujung pada menjatuhkan dan mempermalukan lawan debat.

Politik damai
Kisruh debat capres/cawapres dengan bahasa Arab dan Inggris telah merusak harmonisasi politik damai. Semestinya tidak digaungkan hal sensitif seperti ini. Kita Indonesia, negara yang pendidikannya tergolong masih rendah. Apalagi kemampuan bahasa Inggris, terkadang bahasa Indonesia saja masih ada yang belum mengerti kosakatanya.

Seandainya diindahkan instruksi menggunakan bahasa asing, bagaimana rakyat bisa memahami bahasa Inggris dan Arab yang digunakan dalam sesi debat? Padahal satu fungsi debat menyampaikan visi misi kepada rakyat Indonesia. Dengan visi misi tersebut, membuat pasangan layak untuk dipilih. Mulai elemen masyarakat intelektual, hingga para petani sekalipun.

Suatu hal yang keliru jika beranggapan bahwa hanya kemampuan tutur kata bahasa Inggris dan Arab sebagai barometer kehebatan seseorang. Padahal, orang hebat adalah orang yang mampu membuat orang lain hebat karena kehebatannya. Bukan orang yang mampu membuat orang lain “bodoh” atau “bingung” karena kehebatannya. Seperti merasa hebat sebab fasih berbahasa Inggris, sedangkan mayoritas pendengar tidak mengerti.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved