Ternak Bebas Berkeliaran di Perkantoran

Hewan ternak terutama sapi, kambing dan sejenisnya berkeliaran dimana-mana termasuk pekarangan kantor

Ternak Bebas Berkeliaran di Perkantoran
SERAMBINEWS.COM/ABDULLAH GANI
SPANDUK himbauan dilarang melepaskan ternak di tempat-tempat umum Pidie Jaya yang dikeluarkan hampir semua gampong hanya tak lebih dari formalitas belaka. Buktinya, sapi dan kambing tetap saja bebas merumput setiap hari di mana-mana. Spanduk salah satu gampong di kecamatan Meurahdua. 

MEUREUDU - Hewan ternak terutama sapi, kambing dan sejenisnya berkeliaran dimana-mana termasuk pekarangan kantor pemerintah, jalan raya serta pasar kecamatan di Pidie Jaya masih menjadi pemandangan biasa setiap hari. Berbagai upaya telah dilakukan baik tingkat kabupaten (himbauan pemkab) bahkan hingga gampong sekali pun, namun persoalan yang satu ini tetap saja tidak diindahkan.

Padahal, dampak dari berkeliarannya hewan berkaki empat itu sangat fatal terutama jika terjadi musibah bagi pengguna jalan raya. Dalam dua tahun terakhir, melalui anggaran dana desa (ADG) di hampir semua gampong di Pijay memasang spanduk menghimbau masyarakat supaya tidak melepaskan ternak berkeliaran di desa yang bersangkutan. Terobosan melalui ini pun hanya dianggap angin lalu. Buktinya, spanduk tetap terpajang, namun ternak tetap seperti biasa bebas merumput dimana-mana.

Bahkan ada gampong yang tak cukup hanya selembar memasang spanduk, namun sapi malah dibawah spanduk tersebut merumput. “Lihat itu, sepertinya sapi itu tahu. Ia sengaja memperolok-olok merumput dibawah spanduk larangan,” kata seorang warga Meurahdua sambil berlalu. Keberadaan hewan tersebut memang sudah luar biasa dan pemiliknya terkesan sepertinya tidak peduli sama sekali. Fenomena semacam itu sudah berkalang tahun dan entah kapan akan berakhir, sambung warga lainnya.

Kendati pemkab sudah diingatkan beratus-ratus kali, namun hanya dianggap angin lalu. Amatan Serambi, selain di komplek kantor pemerintahan seperti Cot Trieng, Kota Meureudu ibukota kabupaten dan sekitarnya, sapi, kambing serta biri-biri juga mangkal di ruas-ruas jalan desa, jalan kabupaten bahkan jalan nasional Banda Aceh-Medan di sejumlah titik. Beberapa ruas jalan gampong di Pijay dipenuhi kotoran ternak. Sapi tidur-tiduran di badan jalan dan tak menghiraukan orang yang lalu lalang.

Begitu halnya di beberapa ibukota kecamatan termasuk Kota Meureudu, Ibukota Pidie Jaya. Terkadang segerombolan kambing “meudu dom” alais bermalam disana termasuk depan pertokoan. Paginya, pedagang harus kerja ekstra terlebih dahulu membersihkan kotoran ternak sebelum membuka toko untuk berjualan. Luar biasa memang, tapi begitulah kenyataan di Pidie Jaya tahun ketahun. Sejumlah pedagang sangat mengeluhkan persoalan yang satu ini dan menilai pemkab pun tidak tegas sama sekali.

Beberapa warga menilai, spanduk himbauan tidak melepaskan ternak yang dipajang di lokas-lokasi strategis tak lebih hanya sebagai formalitas saja serta menghabiskan dana gampong semata yang hasilnya nihil.”Itu kan juga salah satu cara menghabiskan uang ADG,” ketus seorang warga. Kendati tak seberapa nilai/harga sehelai spanduk, tapi itu sudah berlangsung dua tahun. Namun tak ada juga perubahan. Malah, sapi merumput persis samping spanduk yang dipasang. Seperti terlihat di salah satu gampong di Meurahdua, Pijay dua hari lalu. Sejumlah gampong lainnya juga nyaris sama.(ag)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved