Citizen Reporter

Belajar dari Peristiwa Pembantaian Nanjing

SETIAP tanggal 13 Desember Pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC) melakukan peringatan atas pembantaian

Belajar dari Peristiwa Pembantaian Nanjing
IST
MUHAMMAD SAHUDDIN

OLEH MUHAMMAD SAHUDDIN, M.Ed., Guru SMPLB Negeri Susoh, Aceh Barat Daya dan Mahasiswa Program Doktoral di Education Nanjing Normal University, melaporkan dari Nanjing, Tiongkok

SETIAP tanggal 13 Desember Pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC) melakukan peringatan atas pembantaian yang dilakukan oleh serdadu Jepang pada tahun 1937 di Nanjing. Kala itu Nanjing masih menjadi pusat ibu kota Cina (Tiongkok) sebelum pindah ke Beijing sekarang. Jepang masuk menginvansi Tiongkok secara penuh pada tahun 1937. Pasukan Jepang menaklukkan Nanjing pada 13 Desember tahun 1937. Dalam waktu 40 hari Jepang melakukan pembantaian terbesar di semenanjung daratan Tiongkok, tepatnya di Nanjing sehingga hampir 300.000 jiwa warga sipil dan tentara Tiongkok dibunuh dan lebih dari 20.000 wanita diperkosa. Fakta kelabu itu tertulis di Museum Nasional Nanjing hingga kini.

Dalam sejarah penaklukan Tiongkok, pembantain Nanjing merupakan pembantaian terparah yang pernah dilakukan serdadu Jepang terhadap rakyat Tiongkok.

Setelah Perang Dunia II para penjahat perang di Nanjing itu pun diadili oleh Pengadilan Militer Internasional Timur (Pengadilan Tokyo) dan Pengadilan Kejahatan Perang Nanjing. Majelis hakim menjatuhkan hukuman mati kepada Jenderal Matsui Iwane atas kejahatan perang membantai dalam jumlah kolosal warga sipil di Nanjing. Putusan tersebut salah satu bukti tak terbantahkan bahwa pembantaian yang sangat dahsyat terhadap rakyat Tiongkok oleh Jepang memang terjadi.

Pada Februari 2014, Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Cina, Badan Legislatif Cina, menetapkan tanggal 13 Desember sebagai “Hari Peringatan Nasional untuk Korban Pembantaian Nanjing” secara nasional. Langkah tersebut ditujukan untuk mengingat tragedi kemanusiaan dahsyat yang dipicu oleh perang terhadap masyarakat Tiongkok sekaligus untuk menyampaikan kepada masyarakat di seluruh dunia sikap tegas untuk melawan agresi demi menjaga martabat manusia dan perdamaian dunia.

Yang menarik dari peristiwa ini adalah setiap tanggal 13 Desember pukul 9 pagi semua alarm atau sirene di sudut kota berbunyi selama lima menit dan semua orang yang sedang beraktivitas, berjalan, bahkan berkendara harus berhenti sejenak untuk hening cipta terhadap korban pembantaian Nanjing.

Awalnya kami merasa terkejut ketika sirene berbunyi sangat keras, seolah suara sirene peringatan dini tsunami. Saat itu kami sedang belajar di dalam kelas lalu dosen meminta para mahasiswa untuk diam sejenak. Kami pun diam sejenak. Setelah sirene berhenti berbunyi banyak mahasiswa asing bertanya apa makna bunyi sirine barusan, lalu dosen menjelaskan maknanya kepada mahasiswa asing.

Sejauh yang saya cermati, terhadap pembantaian di Nanjing itu rakyat Tiongkok bisa memaafkannya, tapi bukan untuk dilupakan. Mereka tak pernah melupakan peristiwa tersebut dan selalu belajar dari peristiwa pembantaian Nanjing yang keji itu. Rakyat Tiongkok sejak usia dini selalu mengingatkan peristiwa ini kepada siswa-siswa di sekolah tentang betapa pentingnya iktibar yang diambil dari kondisi pada masa lalu itu.

Hari ini Tiongkok terus bangkit dari keterpurukan masa lalu. Mereka belajar dari sejarah masa lalu untuk masa depan yang lebih bagus. Jadi, tidak heran jika sekarang Tiongkok maju dengan pesat. Pertumbuhan ekonomi negaranya pun sangat cepat di berbagai bidang, baik ekonomi, pendidikan, teknologi, pertahanan, pertanian, dan budaya walaupun mereka baru mendirikan Republik Rakyat Cina pada tahun 1949, setelah resolusi hari nasional yang ditetapkan pada 1 Oktober sebagai Hari Nasional. Sedangkan Indonesia mardeka tahun 1945, tapi perkembangan Tiongkok lebih maju dibanding Indonesia. Tiongkok belajar dari sebuah keterpurukan di masa lalu dan mereka berhasil jadi negara maju. Sampai hari ini hampir semua negara membutuhkan Tiongkok dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi negaranya, tidak terkecuali Indonesia.

Peristiwa itu mengingatkan saya pada dua peristiwa besar di negeri saya yang jauh di sana, yakni Aceh, tempat terjadinya konflik bersenjata dan tsunami yang telah merenggut ratusan ribu nyawa para syuhada. Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik dari dua peristiwa pada masa lalu kita itu? Apakan hanya pertikaian karena uang, karena kekuasaan, atau karena mempertahankan marwah? Wallahu a’lam bishawab.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved