BI: Aceh Perlu Susun Paket Wisata

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, Zainal Arifin Lubis menyampaikan, Aceh perlu menyusun paket-paket wisata

BI: Aceh Perlu Susun Paket Wisata
Zainal Arifin Lubis, Kepala BI Perwakilan Aceh

BANDA ACEH - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, Zainal Arifin Lubis menyampaikan, Aceh perlu menyusun paket-paket wisata yang memiliki rute unggulan dan dirasa sesuai untuk dikunjungi. Aceh juga memiliki potensi pengembangan wisata yang baik dengan keunggulan pada keindahan alam, serta nuansa religius sebagai dampak positif dari penerapan syariat Islam.

“Sebab itu fokus pengembangan dapat diarahkan pada sektor bahari, petualangan (adventure), dan wisata religi,” kata Zainal Arifin Lubis dalam diskusi bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Senin (14/1), di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Dia menambahkan, untuk mendorong peningkatan kunjungan pariwisata, perlu difokuskan pada sasaran tertentu, yaitu wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan domestik. Wisman dibagi dua menjadi wisman reguler dan nonreguler. Wisman regular rata-rata tinggal sekitar 165 hari dengan tingkat konsumsi yang relatif rendah. Sedangkan wisman nonregular memiliki durasi tinggal di bawah satu bulan, namun memiliki tingkat pembelanjaan yang cukup besar.

“Dengan demikian, Aceh perlu mempertajam berbagai program untuk meningkatkan kunjungan wisatawan nonregular, dengan pertimbangan mampu memberikan dampak ekonomi lebih besar. Maka diperlukan penyusunan strategi, dan program yang lebih baik untuk menggaet wisatawan non regular,” jelasnya.

Menurut Zainal Arifin Lubis, inovasi yang perlu dilakukan adalah dengan menyusun paket-paket wisata yang memiliki rute unggulan. Ditambahkan, ada beberapa kampung yang dapat dikembangkan bersinergi dengan berbagai dinas, kementerian dan BI. Diantaranya kampung bordir dan kampung tenun di Aceh Besar dan kampung pengolahan minyak nilam di Aceh Jaya.

Dia menyebutkan, beberapa negara yang perlu diperhatikan secara khusus dan cukup potensial adalah Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam. Ketiga negara itu memiliki faktor geografis yang dekat dengan Aceh, kesamaan budaya, serta kesamaan agama dengan Malaysia dan Brunei Darussalam.

“Selain itu, Turki dan Jepang juga dapat dipertimbangkan. Turki memiliki latar belakang historis yang cukup baik dengan Aceh. Sedangkan Jepang memiliki peluang untuk menarik investasi,” tambahnya.

Sementara Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Amiruddin menambahkan, pada tahun ini pihaknya akan menggelar sekitar 80 even dengan fokus di tiga kota utama, yaitu Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang.

Disbudpar, katanya, juga mengembangkan beberapa spot wisata seperti desa wisata Gampong Nusa, serta akan menjadikan kebun kurma di Lembah Barbate sebagai salah satu destinasi wisata. Termasuk juga pengembangan kawasan wisata di Pulau Banyak.

Pihaknya memproyeksikan jumlah wisman yang berkunjung ke Aceh pada 2019 sekitar 160.742 orang, meningkat dibandingkan capaian kunjungan tahun lalu sebanyak 86.672 orang. “Namun, salah satu tantangan pencapaian target wisatawan adalah kenaikan harga tiket pesawat. Termasuk juga pengenaan biaya bagasi pesawat yang mungkin berpotensi mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung,” demikian Amiruddin.(una/rel)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved