Opini

Rakyat Menjerit Siapa Peduli?

FENOMENA yang menjadi diskursus di tengah warga belakangan ini antara lain adalah pemberlakuan harga tiket pesawat

Rakyat Menjerit Siapa Peduli?
THINKSTOCK, Google Maps, pngimage.net
Ilustrasi tiket penerbangan 

Oleh Sri Rahmi

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika di dunia, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak. Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat.”

FENOMENA yang menjadi diskursus di tengah warga belakangan ini antara lain adalah pemberlakuan harga tiket pesawat di atas ambang batas membuat warga menjerit. Meskipun ada opsi penerbangan lewat jalur luar negara, warga tidak ingin nasionalisme mereka tergerus oleh kebijakan. Diskursus itu masif di media sosial dan saya pikir awalnya berita hoax, namun setelah membaca Serambi Indonesia edisi Jumat (11 Januari 2019) lalu dalam liputan ekslusifnya, dengan tajuk “Tiket Mahal, Warga Terbang Via KL” membuat banyak masyarakat merespons dengan cara yang beragam.

Untuk sementara, fenomena transit di KL (Kuala Lumpur, Malaysia) ini mampu mengalahkan berita kisi-kisi untuk debat Capres/Cawapres, atau masalah salam jari yang sedang heboh. Di kantor, rumah, warung kopi dan hampir semua media online pembahasan tentang passport dan perjalanan dari dan menuju Aceh dibincangkan. Atau jangan-jangan ini juga bagian dari pengalihan isu terhadap masalah-masalah lain yang tidak kalah besarnya di Republik ini. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di negeri ini? Mengapa keadaan ini bisa terjadi? Siapa yang bertanggung jawab menyelesaikan ini semua?

Sejatinya pemerintah memahami dan cepat tanggap dalam memaknai pesan hadis di atas, tentu saja sikap responsif itu membuat rakyatnya tidak akan merasa kesulitan dalam menjalani hidup. Karena pemerintah akan menjalani prinsip memudahkan rakyat agar urusannya juga dipermudah oleh Allah. Kita memiliki pakar ekonomi dan keuangan yang banyak sekali di Indonesia. Di mana mereka saat ini? Kenapa Indonesia tidak pernah mau belajar kepada negara lain, terutama negara tetangga masalah kesejahteraan rakyat?

Sebagai masyarakat awam, wajar saja akhirnya ada yang berpikir jangan-jangan pesawat rute domestik menggunakan “minyak wangi”, sehingga harga sangat melambung. Belum lagi jika mendengar penjelasan Menteri Perhubungan beberapa waktu lalu yang sama sekali tidak menyahuti keluhan masyarakat. Ia justru mengatakan harga pesawat masih wajar dan berada di bawah harga batas atas. Jika demikian halnya, turunkan saja harga batas atasnya agar harga terjangkau oleh rakyat.

Jika alasan lainnya untuk menutupi kerugian maskapai, apakah itu jadi tanggung jawab rakyat? Apa saat maskapai memperoleh keuntungan, rakyat ada dilibatkan untuk menikmatinya? Bagaimana sebuah daerah bisa maju jika akses masuk dan keluar dari daerah itu tidak tersedia trasportasi yang memadai, baik dari jumlah dan harganya? Cara berpikir seperti apa sebenarnya yang sedang diajarkan pemerintah kepada rakyatnya?

Tamu di negara sendiri
Realitas sosialisasi-ekonomi itu bukan sekadar substansi di tataran diskusi publik, namun terbukti adanya. Saya yang akan menghadiri sebuah kegiatan pada 7 Februari mendatang misalnya, coba membandingkan harga penerbangan domestik dan internasional melalui Traveloka. Untuk penerbangan Banda Aceh-Surabaya, harga tiket sekali terbang berkisar Rp 2.498.000 sampai Rp 4.034.700. Sedangkan jika menggunakan jalur internasional, harga sekali terbang Banda Aceh - Kuala Lumpur - Surabaya hanya berkisar Rp 888.000. Keanehan yang sangat nyata. Berkunjung ke daerah dalam wilayah Indonesia, tapi harus menyeberang ke negara lain.

Penggunaan paspor sebagai identitas diri menandakan bahwa seseorang merupakan tamu di negara tersebut. Jika menggunakan paspor ke Surabaya, maka sebenarnya kita menjadi tamu di negara sendiri. Jika ini dibiarkan terus, maka akan ada banyak hal yang terjadi di luar prediksi pemerintah, terutama masalah rasa nasionalisme yang lambat laun akan tergerus.

Akan datang masa di mana rakyat hilang kepercayaan kepada pemerintah, rakyat lebih mencintai negara lain dan rakyat kehilangan kenyamanan di negaranya sendiri. Belum lagi jika saat transit harus berurusan dengan pihak kepolisian negara tetangga, yang ujung-ujungnya juga menjadi beban bagi pemerintah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved