Salam

Tembak di Tempat, Tindakan yang Tepat

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh menyatakan akan mengambil tindakan tegas tanpa kompromi

Tembak di Tempat, Tindakan yang Tepat
SERAMBI/BUDI FATRIA
PEMIMPIN Perusahaan Serambi Indonesia, Mohd Din bersama Redaktur Pelaksana, Yarmen Dinamika menerima kunjungan silaturahmi Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol Drs Faisal Abdul Naser MH dan rombongan di Kantor Serambi Indonesia, Meunasah Manyang Pagar Air, Ingin Jaya, Aceh Besar, Senin (14/1). 

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh menyatakan akan mengambil tindakan tegas tanpa kompromi terhadap para bandar narkotika dan obat-obatan berhaya (narkoba) yang ada di daerah ini. Salah satu tindakan tegas adalah “tembak di tempat” jika bandar --yang tertangkap tangan dan memiliki barang bukti-- berupaya lari atau malah melawan petugas.

Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Drs Faisal Abdul Naser MH ketika bersilaturrahmi ke kantor harian ini mengungkapkan rasa prihatinnnya terhadap peredaran narkoba di Aceh. Lebih prhatin lagi, akibat kelemahan atau longggarnya hukuman terhadap pelaku narkoba ini menimbulkan keinginan orang lain untuk terlibat juga dalam bisnis haram yang menggiurkan tersebut.

“Kondisi seperti itu, sangat dominan terjadi di Bireuen, karena dari beberapa orang yang ditangkap BNN sebagian berasal dari daerah tersebut. Anehnya, setelah divonis bersalah dan baru beberapa tahun menjalani hukuman sudah ada yang bisa sering-sering pulang kampung,” katanya.

Selain itu, selama ini banyak warga Aceh yang ditangkap di luar daerah, misalnya di Jambi, Batam, dan Lampung, kembali dipulangkan ke Aceh untuk menjalani sisa hukumannya. Dekat dengan keluarnya. “Kondisi ini tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku bahkan calon pelaku,” kata Faisal.

Data BNNP menyebutkan, sebagian tahanan narkoba yang ada di Aceh merupakan hasil penangkapan di luar Aceh. Selain itu, 2/3 dari napi narkoba di Tanjung Gusta, Medan, adalah orang Aceh. Ini mengindikasikan sangat banyak warga kita yang terlibat narkoba,” kata Faisal sembari menyebutkan bahwa saat ini sekitar 4.500 napi dan tahanan di Aceh itu terlibat kasus narkoba.

Kenyataan lain yang sangat memprihatinkan adalah peredaran narkoba sudah memasuki pelosok pedesaan. Bahkan 1 dari 100 pelajar di Aceh terlibat sabu-sabu. Para bandar sabu ini kini semakin “nyaman” berbenteng masyarakat. Sebab, para toke narkoba yang bergelimang uang mulai meminjamkan uangnya kepada khalayak untuk menghindari penumpukan uang di rekening agar tidak mencurigakan. Cara ini mereka tempuh sebagai strategi pencucian uang (money laundering).

Berfakta demikian, maka kita sangat sependapat dengan BNNP bahwa perlu tindakan tegas, berat, dan menjerakan terhadap para jaringan pengedar narkoba. Ya, tegas saat penangkapan dan penyidikan, menjatuhkan hukuman berat saat pengadilan, serta memberi efek yang menjerakan saat menjalani hukuman. Jadi, jangan sampai menangkapnya susah payah, tapi dijatuhkan hukuman ringan di pengadilan, tingkat banding, atau di tingkat Mahkamah Agung. Atau juga, vonis tetapnya berat, tapi saat menjalani hukuman malah bisa bersenang-senang sambil dagang narkoba lagi dalam penjara atau di luar penjara. Inilah yang harus ditertibkan lagi sebagai salah satu menekan kecepatan sebaran narkoba dalam masyarakat daerah ini. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved