Kupi Beungoh

Prilaku Nyinyir di Media Sosial

Berbagai hujatan seperti berkata kasar, melecehkan, sampai hinaan terjadi pada kalangan yang acap kali disebut dengan haters, dimana haters ini.

Prilaku Nyinyir di Media Sosial
SERAMBINEWS.COM/IST
Nurasul Ikma, mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam FDK UIN Ar-Raniry. 

Oleh: Nurasul Ikma*)

PEMILIHAN Presiden 2019 sudah tidak lama lagi. Dalam menyambut pesta demokrasi ini banyak fenomena perang pendapat dengan unsur fitnah, hujatan, serta gambar meme yang menyiratkan makna sindiran hingga berprilaku nyinyir kepada kelompok atau individu tertentu.

Bagi warganet sebagai pengguna aktif media sosial, kata “nyinyir” sudah tidak asing lagi terdengar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “nyinyir” berarti mengulang-ngulang permintaan atau cerewet.

Namun, saat ini sebutan “nyinyir” sering diartikan pada pengguna internet yang sering mengedepankan pendapatnya yang berbeda, bahkan kata tersebut sering dikonotasikan negatif pada kalangan pengguna media sosial.

Baca: Kalimat dari Majikan Inilah yang Memicu TKI Terdakwa Mati di Malaysia Lakukan Pembunuhan

Baca: Pembunuh Berantai Ini Bisa Hidup Mewah dan Menghasilkan Uang dari Balik Jeruji Besi

Tak heran jika banyak ditemukan pada medsos masing-masing pemilik akun kalimat sindiran yang menjurus kepada propaganda, bahkan hujatan buruk yang terlontarkan hingga mengarah kepada fenomena bullying.

Berbagai hujatan seperti berkata kasar, melecehkan, sampai hinaan terjadi pada kalangan yang acap kali disebut dengan haters, dimana haters ini merupakan suatu kelompok atau kalangan yang membenci orang lain.

Ternyata hal ini merambah bukan hanya di dunia selebritis tapi juga dunia politik hingga pejabat-pejabat tertentu, sampai dengan terjadinya peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan menyinggung SARA dan telah menggiring pengguna sosial menjadi berkelompok-kelompok yang memiliki tujuan yang sama dan keserasian dengan jalan pikiran yang mereka yakini.

Dan kalimat “nyinyir” itulah banyak sekali ditemukan pada kalangan haters yang tidak menyukai peran lawan atau segala sesuatu yang ada pada orang atau kelompok yang dibencinya.

Dalam agama Islam diajarkan untuk saling menjaga ucapan dan tindakan antara individu dan antar suatu golongan. Mengenai fenomena ini, agama Islam tidak pernah membenarkan seseorang untuk saling menghujat bahkan menghina satu sama lain. Dan hal ini tercantum pada firman Allah dalam Alquran surah Al-Hujarat ayat 11 yang artinya

“Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah kamu saling memanggil dengan dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah iman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang zalim.”

Halaman
12
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved