Salam

Yang Penting Sampah tak Menumpuk di Pemukiman

Setelah beberapa kali berturut-turut meraih penghargaan Adipura, tahun ini Kota Banda Aceh gagal meraih

Yang Penting Sampah tak Menumpuk di Pemukiman
Puluhan truk pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Besar serta truk milik Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh, tertahan di pintu masuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) TePAT SaReA, Blangbintang, Aceh Besar. 

Setelah beberapa kali berturut-turut meraih penghargaan Adipura, tahun ini Kota Banda Aceh gagal meraih penghargaan atas penilaian kebersihan kota dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Warga kota tidak menyesalkan hal itu, toh raihan Adipura itu sudah tak lagi membanggakan seperti dua puluhan tahun lampau. Kini, yang paling diidamkan warga kota adalah sampah-sampah dari lingkungan mereka bisa terangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) setiap hari.

Untuk meraih Adipura, kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh, Drs T Samsuar MSi, ada sejumlah aspek yang menjadi penilaian. Di antaranya kebersihan dalam kota, pasar, taman, hutan kota, partisipasi masyarakat hingga pengelolaan sampah di TPA. “Salah satu aspek yang menjadi kekurangan Banda Aceh dalam penilaian tahun ini, yaitu pada pengelolaan sampah di TPA Terpadu Blangbintang,” ujar T Samsuar. Saat ini, hampir 85 persen sampah dari Banda Aceh dibuang ke Blangbintang, sehingga penilaian dipusatkan di TPA tersebut.

Kecuali karena “kasus” di TPA Blangbintang itu, sesungguhnya membersihkan dan mengindahkan kota ini memang bukan pekerjaan yang gampang. Selain terkait dengan “kemauan” Pemerintah Kota, masyarakat yang belum terbiasa dengan budaya hidup tertib dan bersih juga menjadi kendala besar.

Parkir sembarangan, buang sampah sembarangan, menutup parit sembarangan, memasang kanopi toko sembarangan, dan lain-lain adalah bagian dari tantangan besar yang harus dihadapai Pemerintah Kota dalam upaya membersihkan, mengindahkan, dan merapikan lingkungan perdagangan dan pemukiman di kota ini.

Demikian pula para petugas kebersihan yang dikontrak atau partimer banyak yang tak bekerja sebagaimana diinginkan. Misalnya, diberi gerobak bermesin untuk mengangkut sampah-sampah dari kawasan tertentu yang sulit dijangkau truk-truk sampah, tapi malah gerobak itu dipakai untuk mengumpulkan barang-barang bekas yang bisa dijual kembali. Jadi, banyak yang tidak dipakai untuk mengangkut sampah.

Sesekali, Pak Wali boleh juga menyidak bagaimana para pemangkas rumput dan tanaman di jalan-jalan bukan protokol. Si pemotong rumput itu merasa tugasnya cuma memotong, bahwa setelah dipotong rumput itu berserakan, ia tak mau tahu. Ini juga harus dipikirkan dan dikoordinasikan sehingga rumput yang dipotong dari tepi jalan ada petugas yang menyapu dan mengangkut sehingga tak berserakan di jalan atau malah memenuhi parit-parit. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved