Opini

Rindu Pemimpin Subuh Berjamaah

MASYARAKAT yang menonton debat capres-cawapres, ikut caleg, timses, atau calon pemilih, mari kita buka satu sesi

Rindu Pemimpin Subuh Berjamaah
IST
JAMAAH Safari Subuh di Masjid Jami' Baitul A'la Pasi Janeng, Woyla Timur 

Oleh Muhammad Yakub Yahya

MASYARAKAT yang menonton debat capres-cawapres, ikut caleg, timses, atau calon pemilih, mari kita buka satu sesi, sisi yang tak ikut dibawa ke forum debat. April nanti, penonton yang hadir secara sukarela atau dikasih “ongkos”, mungkin kenal dengan kandidat yang jarang, malas, rajin, atau gemar shalat berjamaah.

Penonton, pembaca media massa, dan pemirsa televisi atau radio yang terhormat --jangan ke mana-mana dulu-- ada empat tipe pemimpim muslim, juga rakyat yang ber-KTP Islam, menurut saya, jika dibingkaikan dengan shalat, dengan shalat berjamaah, dengan Isya dan Subuh berjamaah.

Pertama, saudara (kita) yang jarang shalat, jika shalat pun, ada nuansa politis dan keu hana meu’oh, sarat sandiwara, dan dicap menipu Tuhan. Andai sekarang, atau sudah lama, berkembang “aliran baru: yang mengabarkan pola mendirikan shalat, “meriuhkan” masjid, dan “merepotkan” pengurus mushalla: bahwa ada hari-hari tertentu saja untuk masuk ke dalam masjid dan shalat dua rakaat... Bukan mimpi dan khayal, jika pada suatu hari, di satu gampong, di atas gerbang dan pintu masjid, bakal ada pesan: mosque for rent (masjid disewakan). Sebab kita gunakan rumah Allah kapan suka saja.

Kedua, saudara (kita) yang rajin shalat, tapi sering mufrad (sendirian). Tabiat tetangga kita yang ‘asosial’ begini, mengaku ahlus sunnah tapi shalat tidak kayak sunnah, mengaku ahlus sunnah tapi belum berjamaah, malas bermasyarakat, itu perlu diubah. Galakkan sunnah shalat, “Di awal masa, di mana azan didengungkan, dan berjamaah,” itu isyarat Nabi saw.

Ketiga, saudara (kita) yang kurang ‘selera’ dengan berjamaah, kalau sempat dia datang walau masbuq (lambat tinggal rakaat). Tatkala tak sempat kejar, biasa-biasa saja, tidak menyesal, dan tidak rugi. Ini perlu diingatkan, jangan hanya rupiah yang dikejar sekecil-kecilnya, tapi juga pahala.

Keempat, saudara (kita) yang rajin berjamaah, kecuali sesekali luput karena musafir, banjir, dan diopname. Adakala golongan yang “taat” ini, ikhlas hanya sebagai makmum, tapi jika dipersilahkan dan dijdwalkan maju ke depan, juga siap menjadi imam. Bacaannya pun lumayan bervariasi, tak cuma akhir juz 30. Potret imam yang mencerahkan makmum (Alquran itu besar), sosok pemimpin yang membuka cakrawala (ilmu Allah itu luas). Barisan inilah, makmum dan imam, yang meramaikan saf shalat Isya dan Subuh --shalat yang ditekankan Nabi untuk kita dirikan, menghindari diri dari tipe munafik. Jadi, bukan kalangan yang membiarkan tiang masjid, lebih banyak daripada jumlah jamaah.

Pembaca yang belum atau sudah punya hak pilih yang mulia, tentu sudah paham, kandidat mana yang masuk kategori keempat, ketiga, kedua, dan pertama. Silakan pilih sesuai nurani, tapi hindari mencoblos yang banyak ciri munafiknya. Hubungan munafik, masjid, dan shalat: “Bagaikan ikan dalam air (orang mukmin dalam masjid); dan laksana burung dalam sangkar (si munafik masuk masjid),” begitu tamsil Nabi saw. Malangnya kita, agenda dan kondisi masjid kita kurang menggairahkan warga; lebih bergairah di kantor, dalam ruang tamu, café di depan jalan rumah kita.

Potret pemimpin
Potret pemimpin, itulah “tampang” rakyat; potret imam, begitulah raut makmum kita. Dulu, Imam al-Ghazali menyindir, bahwa potret rakyat dipantulkan oleh sosok pemimpinnya. Bagaimana tipe rakyat, lihatlah dari bagaimana tipe pimpinannya. Jika selama ini rakyat belum bisa baca Alquran, berarti selama ini pimpinannya pun lebih kurang demikian, ngaji lagee kameng jak lam batee. Pembaca dan pemilih, jangan lupa pada nilai tes baca Kitab Suci bulan lalu yang diklaim para juru “mampu” dengan poin yang alakadar itu.

Kehancuran umat diawali dengan kian “jahil” kandidat kita pada Kitab Suci dan hukum Allah; yang malas memakmurkan rumah Allah; yang ulama dirangkul dan “ditendang”; yang ulama pun “senang” demikian. Al-Ghazali menyambung bahwa, rusak negara karena rusak pemimpin, rusak pemimpin karena rusak ulama. Jika telah rusak, di sini, lantas siapa yang mampu menjamin, Masjid Raya Baiturrahman, masjid agung, masjid besar, masjid jami’, atau ribuan masjid lain di Aceh, akan tetap megah dengan kubah dan menara yang menancap ke awan, seperti hari ini?

Tidak ada yang sanggup menjamin kelanggengan Islam di sini, melainkan lewat panjatan doa dari kita: saban waktu, tulus, bersama-sama, dan terus menerus. Diiringi dengan usaha kita secara kompak untuk mewariskan kepada anak, cucu, dan cicit akan konsep dan praktek Islam yang murni: bukan tahayul, bid‘ah, dan khurafat; bukan cerita dongeng dan kisah israiliyat; tapi dari Alquran dan as-Sunnah Nabi.

Kita tambah lagi dengan teladan yang islami: raja kepada rakyat, gubernur kepada staf, imam kepada jamaah, keuchik kepada warga, bos kepada karyawan, guru kepada murid, ustaz kepada santri, ayah kepada anak, dan seterusnya. Islam di Spanyol telah pamit antara lain lantaran serangan pihak luar dan dakwah yang mandek, apatis, generasi muda dibiarkan. Masjid kehilangan visi dan agenda, selain bagaikan panti jompo: orang tua saja yang terbatuk-batuk khuh khuh khuh, sambil wirid di dalamnya.

Akhirnya, kandidat kita, rata-rata itu berlakap haji. Jika kita tambah ribuan jamaah haji tahun ini dengan sebelumnya, plus yang baru pulang umrah, maka sudah satu jutaan haji dan hajjah (hujjaj). Andai kita yang bergelar haji saja, belum termasuk kita yang belum haji, mau rutin ke masjid dan mushalla, tak hanya Magrib, sungguh sesaklah saf-saf berdebu yang semakin sepi itu. Allahu akbar.

Sampai di sini, saya tidak kampanye, tapi mau umumkan: dicari kandidat yang rajin rukuk dan sujud di kala fajar, berjamaah, atau lebih sering shalat bersama daripada sendirian. Andai sudah taki ada pemimpin di Aceh, juga di level pusat, yang rajin bolak-balik ke masjid, maka tidak aneh kalau sebagian warga “mengentutkan” kebijakan dan aturan selama ini: teladan gersang. Jika tidak ada lagi calon yang berdingin-dingin ke masjid saban Subuh, menelusuri embun di jalan remang, jangan salahkan umat, rakyat, kalau sebagian kaum muslimin lebih memilih “diam” di rumah pada Rabu, 17 April nanti. Nah!

* Muhammad Yakub Yahya, Dewan Imam Masjid Al-Mukarramah Punge Jurong Meuraxa Banda Aceh dan Dewan Pengurus TPQ Plus Baiturrahman. Email: myakubyahya2018@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved