Opini

Caleg Zaman Milenial

CALON legislatif (Caleg) menjadi tren tersendiri di era globalisasi saat ini, tak terkecuali di Aceh

Caleg Zaman Milenial
PETUGAS menurunkan spanduk dan baliho yang lokasi pemasangannya melanggar aturan 

Oleh Cut Siti Raihan

CALON legislatif (Caleg) menjadi tren tersendiri di era globalisasi saat ini, tak terkecuali di Aceh. Bagaimana tidak, perwakilan partai politik (parpol) beramai-ramai mencalonkan dirinya dan berusaha merebut simpati rakyat agar memilihnya dengan berbagai cara.

Berbagai macam baliho dan poster sudah jauh-jauh hari dipajang di berbagai tempat, sasaran utamanya adalah jalan raya bahkan hingga ke rumah-rumah penduduk sampai ke persimpangan jalan. Sebenarnya, cara yang dilakukan ini sedikit ketinggalan zaman, mengingat saat ini adalah era teknologi dan kecanggihan berbicara atau dikenal dengan istilah zaman milenial.

Istilah zaman milenial sering juga disebut sebagai generasi Y, yang memang sudah sangat akrab terdengar di telinga kita pada dewasa ini, istilah ini pertama kali dicetuskan oleh dua pakar sejarah dan juga penulis Amerika Serikat, William Strauss dan Neill Howe dalam beberapa bukunya. Secara harfiah, memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi ini, namun pada awalnya penggolongan generasi ini terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1990 hingga awal 2000.

Jika kita berbicara tentang zaman milenial, maka sudah terlintas di pikiran bahwa zaman ini adalah zaman serba teknologi, bahkan generasi milenial saat ini lebih memilih ponsel ketimbang membaca buku, menonton televisi, mendengarkan radio, dan kegiatan lainnya. Di era milenial, internet sangat berperan besar dalam segala aktivitas kehidupan. Generasi milenial lebih tertarik mengakses dan mencari informasi melalui Google, lebih tertarik untuk berinteraksi melalui media sosial, lebih tertarik untuk berbelanja secara online dan berbagai kecanggihan lainnya.

Zaman milenial memang identik dengan istilah dunia maya, karena kita melakukan segala sesuatu dengan cara yang tidak langsung atau hanya ditekan, digesek, atau diketik saja, tanpa harus terlibat langsung secara nyata. Cara ini cukup efektif sebagai ajang promosi “gratis” dengan sasaran para generasi milenial atau kaum muda. Dulu para caleg lebih banyak menggunakan becak (alat tranportasi umum tiga roda) sebagai media promosi untuk meningkatkan elektabilitas para calon legislatif maupun parpol.

Kalah populer
Pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 lalu, mungkin masih kental dalam ingatan kita dimana banyak poster ataupun gambar para caleg ditempel di becak-becak. Namum sangat jauh berbeda dengan Pemilu 2019 ini. Betapa tidak, becak tidak lagi favorit sebagai media promosi para caleg. Dulu, di setiap becak kerap ditempeli poster ataupun waktu mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggunakan becak. Inilah kemajuan teknologi, di mana media sosial (seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain) menjadi sihir untuk mempromosikan diri, selain gratis dan juga ampuh untuk mencari simpati publik.

Walaupun tidak cukup hanya melalui dunia maya saja, diperlukan juga promosi nyata baik itu melalui pemasangan baliho, poster, kampanye, dan lain-lain. Karena tidak kurang juga pemilih adalah masyarakat awam yang asing terhadap teknologi ataupun dunia maya. Setidaknya media sosial cukup ampuh untuk mempromosikan diri dan menyosialisasikan program-program yang ingin dilakukannya kepada publik dibandingkan dengan media lain, termasuk yang dulunya menjadi primadona para caleg, yaitu becak.

Hal tersebut dikarenakan dewasa ini, dengan segala kecanggihan teknologi yang ada juga menjadi keuntungan khusus bagi caleg yang ingin mempromosikan dirinya secara “gratis” melalui media sosial. Bahkan, banyak contoh pejabat negara yang memenangkan pemilihan suara karena dirinya aktif di akun media sosial miliknya.

Satu contohnya adalah mantan Wali Kota Bandung, Bapak Ridwan Kamil. Beliau termasuk seorang pejabat negara yang berhasil memenangkan hati rakyat dengan aktif menggunakan media sosial sebagai upaya untuk merangkul dan mendapat dukungan massa. Satu kekuatan Ridwan Kamil yang saat ini menjadi Gubernu Jawa Barat adalah kemampuannya saat menjaring para generasi milenial dan diuntungkan dengan pemilih dari generasi milenial.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved