Opini

Caleg Zaman Milenial

CALON legislatif (Caleg) menjadi tren tersendiri di era globalisasi saat ini, tak terkecuali di Aceh

Caleg Zaman Milenial
PETUGAS menurunkan spanduk dan baliho yang lokasi pemasangannya melanggar aturan 

Ridwal Kamil yang akrab disapa Kang Emil aktif mengunggah kinerjanya di media sosial, sehingga banyak kaum muda yang tertarik dan memberikan dukungan kepadanya, termasuk ketika ia mencalonkan diri dan akhirnya terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2018-2023. Barngkali inilah satu penyebab; mengapa media sosial lebih populer sekarang dibandingkan dengan media lain. Di samping itu media sosial juga tidak membutuhak biaya alias gratis.

Media sosial memang sedang digandrungi anak-anak muda dan bahkan orang tua pun juga aktif di media sosial. Barangkali ada anggapan dari masyarakat kita bahwa meunyoe pre gambe mangat (kalau gratis gambir yang pahit pun enak). Inilah mengapa banyak masayarakat menggunakan media sosial sebagai ajang promosi gratis ini juga dapat menjadi acuan bagi para caleg yang ingin memenangkan hati generasi milenial.

Seperti kita ketahui, para kaum muda sekarang lebih memercayai internet dan media sosial dibandingkan hanya sekadar baliho dan poster-poster di persimpangan jalan. Bahkan, ada kalanya sebesar dan semegah apa pun baliho dan poster yang terpampang di jalanan tidak dihiraukan. Karena mereka menganggap, berita dan berbagai informasi di internet terkait caleg, lebih meyakinkan dibandingkan hanya promosi di baliho atau poster belaka.

Tidak hanya sampai di situ, di era globalisasi sekarang ini berbagai profil dan latar belakang calon legislatif dapat diakses melalui internet dan dapat dibaca lebih cepat, mudah, dan praktis, jika hanya dibandingkan dengan melihat poster-poster yang terpajang di jalan-jalan. Dengan berbagai kemudahan ini, pemilih pemula pun dapat lebih siap menentukan pilihan yang akan diberikannya.

Sejarah baru
Menurut hemat penulis, Pemilu 2019 merupakan sejarah baru bagi masyarakat Indonesia bukan hanya pelaksanaannya serentak antara pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg), tapi juga mencatat bahwa siapa yang dapat menguasai media sosial, maka akan memenangkan pesta demokrasi tersebut. Inilah satu alasan kuat mengapa kemudian pihak berwenang dan/atau pihak berwajib perlu membentuk Tim Pengawasan terhadap media sosial.

Hal tersebut dikarenakan dampak dari media sosial ini sangat besar bagi psikologis masyarakat bila tidak pintar dalam mengelola informasi. Seharusnya bagi user ataupun pengguna media sosial harus tabayun terhadap semua informasi dalam media sosial sebelum meyebarkannya. Sebagai contoh beberapa hari yang lalu beredar kabar bahwa jutaan kertas suara yang telah terceblos. Namum ternyata berita tersebut adalah hoax, akan tetapi telah menggemparkan seluruh Republik Indonesia.

Betapa tidak sampai komisioner turun gunung alias melakukan pengecekan ke tempat kejadian perkara untuk memastikan kebenarannya. Penyebaran berita bohong (hoax) memang harus ditindak tegas, dikarenakan dapat mencenderai kontestasi lima tahunan tersebut dan ditambah lagi pada pemilu mendatang, tercatat banyak sekali pemilih pemula atau kaum muda yang baru mencoblos untuk pertama kali.

Hal tersebut tentu sangat menguntungkan bagi para caleg yang ingin memikat hati generasi milenial, dengan cara mempromosikan dirinya di media sosial dan rajin memposting berbagai kegiatan yang dianggap menarik dan dapat dijadikan panutan atau teladan. Sebagian besar kaum muda akan lebih cepat percaya dengan apa yang dilihat dan diakses sendiri, dibandingkan hanya sekedar omongan belaka.

Dengan berbagai kecanggihan teknologi yang ada saat ini, sudah seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin oleh semua pihak, termasuk para caleg. Jika ingin memenangkan hati para kaum muda, maka dapat melakukan promosi “gratis” di akun media sosial masing-masing. Tak dapat dipungkiri bahwa kaum muda saat ini tidak bisa terlepas dari handphone dan segala kecanggihan teknologi yang ada di dalamnya. Semakin Anda menguasai dunia maya dan hati para generasi milenial, maka semakin besar pula peluang Anda untuk memenangkan kontestasi di8 Pemilu 2019 ini. Nah!

* Cut Siti Raihan, mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved