Harga Telur Masih Tinggi

Harga telur ayam ras di tingkat pedagang di Pasar Aceh, Pasar Peunayong, dan Pasar Lambaro

Harga Telur Masih Tinggi
Sulaiman Abda, meninjau kawasan industri peternakan ayam petelur milik pemerintah Aceh, di Perbukitan Blangbintang, Aceh Besar. Serambi/Herianto 

* Aceh Butuh 1 Juta Butir Per Hari

BANDA ACEH - Harga telur ayam ras di tingkat pedagang di Pasar Aceh, Pasar Peunayong, dan Pasar Lambaro, masih tinggi. Meski harganya tinggi, namun permintaan telur di tingkat warga juga tidak mengalami penurunan. Setidaknya di Aceh dibutuhkan satu juta butir telur setiap harinya.

Haji Ramli, seorang pedagang grosir telur di Pasar Peunayong, Banda Aceh mengatakan, saat ini harga jual telur sudah mengalami penurunan dibanding pekan lalu. Tapi, harganya masih tergolong tinggi.

Dijelaskan, harga jual telur di tingkat distributor atau penyalurnya Rp 390.000 per ikat (300 butir) atau Rp 1.300/butir. Namun, kata Ramli, harga tersebut sudah lebih murah dibanding harga pekan kemarin yang mencapai Rp 405.000-Rp 410.000/ikat.

Terjadinya penurunan harga telur tersebut, menurut Ramli, karena pengiriman dari Pulau Jawa, pascalibur akhir tahun sudah mulai menurun. Sehingga di beberapa peternakan industri ayam petelur di Sumatera Utara sudah mulai menurunkan harga jual telur dalam partai besar.

“Kalau pekan lalu masih bertahan pada kisaran Rp 1.250/butir, sekarang sekitar Rp 1.200/butir, sehingga pedagang grosir menjual Rp 1.300/butir,” ujar Ramli.

Dia mengatakan, harga telur ayam ras di Aceh akan selalu tinggi, Sumut. Pasalnya, di Aceh belum tumbuh industri peternakan ayam petelur. Permintaan telur di Aceh diperkirakan mencapai 1 juta butir/hari.

Ramli menjelaskan, tingginya permintaan telur di Aceh karena memang kebutuhan telur di masyarakat cukup tinggi. Mulai dari rumah tangga, warung, hingga restoran dan industri pembuatan kue.

Menurut Ramli, berdasarkan informasi dari Dinas Peternakan Aceh, di wilayah Tanah Rencong baru ada dua industri pengembangan ayam petelur berskala besar, yaitu di Saree dan Blangbintang, Aceh Besar. Di Saree jumlah ayam petelur yang dikembangkan sebanyak 25.000 ekor, sedangkan di Blangbintang mencapai 75.000 ekor.

“Dari jumlah itu, baru 70-75 persen saja yang baru berproduksi. Itu artinya, industri ayam petelur di Aceh baru mampu memproduksi 70.000-75.000 butir per hari. Sementara kebutuhan untuk Aceh mencapai 1 juta butir/hari. Jadi wajar, begitu telur ayam di Medan banyak dikirim ke Pulau Jawa, harga telur di Aceh langsung bergerak naik,” pungkas Ramli.

Sementara itu, Pakar Ekonomi Unsyiah, Rustam Effendi mengatakan, telur memberikan sumbangan 3,2 persen terhadap kemiskinan di Aceh, dari 55 persen yang disumbangkan kelompok makanan untuk kemiskinan di daerah ini. Kemudian beras 24,51 persen, gula pasir 2,84 persen dan mi instan 2,13 persen dan rokok 10,06 persen.

Jadi, dari empat jenis komoditi makanan penyumbang kemiskinan tadi, yang perlu dikendalikan pertama harga beras, kedua telur ayam ras, ketiga gula pasir, keempat mi instan. Sedangkan rokok masing-masing individu yang mengendalikannya.

Kalau untuk beras, kata Rustam Effendi, Aceh surplus dan harganya tidak begitu bergejolak. Sementara gula pasir harus dipasok dari luar Aceh, begitu juga mi instan dan telur ayam. Dari keempat jenis makanan penyumbang kemiskinan itu, tiga jenis bisa dikendalikan di Aceh dengan memperbanyak produksinya. Beras sudah surplus, tinggal telur ayam dan gula pasir serta mi instan.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved