Citizen Reporter

Menjelajahi Uighur, Kota 1 Zona Waktu

BARU-baru ini media sosial heboh oleh isu camp reedukasi bagi suku Uighur, tepatnya di Provinsi Xinjiang

Menjelajahi Uighur, Kota 1 Zona Waktu
IST
NAUFAL AHSANUL MUHAMMAD

OLEH NAUFAL AHSANUL MUHAMMAD, Mahasiswa International Economy and Trade, Hebei Economics and Business University, melaporkan dari Xinjiang, Tiongkok

BARU-baru ini media sosial heboh oleh isu camp reedukasi bagi suku Uighur, tepatnya di Provinsi Xinjiang,Tiongkok, atau dengan nama lain Turkestan Timur. Tidak sedikit yang menanyakan kepada saya tentang bagaimana keadaan sebenarnya yang terjadi di sana.

Dalam perjalanan dari Beijing menuju Teheran baru-baru ini, pesawat yang saya tumpangi transit selama 24 jam di Kota Urumqi, Xinjiang. Bagi saya daerah ini adalah salah satu daerah yang ingin saya kunjungi. Terutama karena rasa penasaran saya terhadap suku Uighur juga Provinsi Xinjiang sebagai provinsi mayoritas muslim di Tiongkok.

Tiba pada malam hari pukul 10, saya melihat beberapa perbedaan yang terdapat pada Bandara Urumqi dibandingkan dengan bandara lain yang ada di Tiongkok. Mulai dari papan pengumuman yang ditambahkan bahasa Uighur dengan aksara Arab, hingga suara pengumuman yang menggunakan bahasa Uighur.

Dari bandara saya langsung menuju hotel yang telah dipersiapkan oleh maskapai. Setibanya di hotel saya melihat kartu makan pagi yang diberikan, tertulis bahwasanya jam makan pagi mulai pukul 08.30. Ketika saya cek melalui handphone waktu subuh di Urumqi ternyata pukul 07.30. Hal ini dikarenakan Tiongkok hanya memiliki satu zona waktu, sehingga jam kerja di Urumqi pun dimulai pukul 10 pagi.

Pagi hari saya memberanikan diri untuk mengunjungi pusat Kota Urumqi. Berbeda dengan provinsi lain, pengawasan di Xinjiang sangatlah ketat. Sepanjang jalan beberapa kali saya lihat tank barracuda serta polisi yang bertebaran di mana-mana.

Untuk memasuki tempat wisata saja, misalnya, saya harus melewati pengecekan identitas, metal detector, dan pengambilan gambar. Begitu juga dengan masjid, saya mencoba untuk masuk ke dalam dua masjid namun tidak berhasil, dengan alasan masjid sedang direnovasi dan satunya lagi bukan sedang waktu shalat.

Setelah berjam-jam di pusat kota sudah saatnya saya kembali untuk melanjutkan penerbangan. Sebelum kembali saya mencoba makan di sebuah restoran dan ternyata mereka menyediakan opor ayam. Hal ini lumayan mengurangi rasa rindu saya terhadap makanan Indonesia.

Restoran halal bukanlah hal yang langka di sini. Bagi Anda yang ingin mengunjungi Urumqi, kondisinya terkini aman.

Selama satu tahun lebih saya berada di Tiongkok, perlakuan pemerintah terhadap muslim sangatlah bagus. Suku Uighur bukan satu-satunya suku muslim yang ada di Tiongkok, tapi ada juga suku Hui. Hui lebih bebas menjalankan aktivitas keagamaannya dibanding suku Uighur. Ya, begitulah faktanya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved