Wali Kota Wacanakan Hari Adat  

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, berencana untuk mencanangkan ‘Hari Adat’ di Banda Aceh

Wali Kota Wacanakan Hari Adat   
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR
Majelis Adat Aceh (MAA) menggelar musyawarah mufakat di Hotel Grand Nanggroe 

BANDA ACEH - Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, berencana untuk mencanangkan ‘Hari Adat’ di Banda Aceh. Nantinya di hari tersebut, seluruh pegawai instansi pemerintahan di Banda Aceh wajib mengenakan pakaian adat dan berbahasa Aceh. Sementara di tiap sekolah akan digelar aneka permainan tradisional yang saat ini sudah jarang dijumpai.

Wacana itu dikemukakan Wali Kota dalam silaturahmi ke Kantor Majelis Adat Aceh (MAA) Banda Aceh yang berada di Neusu Aceh, Jumat (18/1). Aminullah disambut Ketua MAA Banda Aceh, Bachtari Arahas beserta para anggota majelis. Pada kesempatan itu, Wali Kota menegaskan komitmennya untuk memperkuat lembaga istimewa tersebut, salah satunya dengan mencanangkan hari adat.

“Ini merupakan salah satu upaya edukasi yang kita lakukan agar adat istiadat Aceh, warisan endatu kita hidup kembali dan membumi di tengah-tengah masyarakat. Di samping itu, sosialisasi kepada generasi muda juga harus terus dilakukan,” ujarnya.

Menurut Aminullah, adat istiadat Aceh mulai pudar tergerus zaman, untuk itu MAA harus lebih berperan menjadi garda terdepan yang terus melestarikan budaya itu.

Selain itu, Wali Kota berkomitmen untuk mengupayakan sebuah gedung kantor untuk MAA Kota Banda Aceh. Walaupun kantor sementara saat ini terbilang sempit, Aminullah mengajak para pegawai MAA untuk tetap semangat bekerja. “Kita akan upayakan kantor baru yang representatif. Saya datang ke mari untuk mengetahui persis situasi MAA,” jelasnya.

Sementara Ketua MAA Banda Aceh, Bachtari Arahas menjelaskan bahwa dalam tahun ini pihaknya akan kembali menggelar lomba zikir dan dalail khairat. “Lomba zikir akan dipusatkan di Lampaseh Aceh, sementara dalail khairat di Gampong Emperom. Ini merupakan agenda rutin untuk memeriahkan HUT Banda Aceh,” ujar dia.

Bachtari Arahas menambahkan, pihaknya juga akan mengintensifkan sosialisasi tiga pilar adat Aceh terutama adat kemaslahatan umat. Dia mencontohkan lahan atau tanah yang dibiarkan telantar oleh pemiliknya, yang bisa menjadi semak belukar. “Itu sebenarnya ada sanksi adatnya. Setiap pemilik wajib mengurus tanahnya agar jangan sampai mengganggu masyarakat,” pungkasnya.(rel/fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved