Jangan Korbankan Perawat Honorer

Penetapan dua perawat honorer di RSUD Meulaboh sebagai tersangka kasus kematian pasien usai disuntik

Jangan Korbankan Perawat Honorer
IST

* Kasus Kematian Pasien Usai Disuntik di RSUD Meulaboh

MEULABOH - Penetapan dua perawat honorer di RSUD Meulaboh sebagai tersangka kasus kematian pasien usai disuntik ditanggapi beragam oleh sejumlah kalangan. Meski tetap menghormati proses hukum yang sedang dijalankan oleh Polres Aceh Barat namun prosesnya diharapkan tidak berhenti pada kedua perawat honorer yang hanya menerima upah Rp 1 juta sebulan itu.

Harapan agar tidak hanya perawat honorer yang jadi tersangka kasus kematian pasien di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh disuarakan oleh Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI) Aceh, Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Barat, dan Ketua DPRK Aceh Barat Ramli SE.

“Mereka hanya honorer. Kenapa mereka saja yang jadi tersangka,” kata Rona Julianda, Staf Sosial Masyarakat ILMIKI Aceh dalam keterangannya kepada wartawan di Meulaboh, Minggu (20/1).

Menurutnya, ILMIKI Aceh turun ke Aceh Barat terkait adanya informasi perawat yang kini dijadikan tersangka dan akan mengawal proses hukum tenaga kesehatan tersebut.

Menurut Rona, setelah bertemu dengan keluarga perawat honorer yang kini jadi tersangka, muncul kesan mereka hanya jadi tumbal kasus yang merenggut nyawa pasien Alfa Reza (11), asal Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat. Alfa Reza dilaporkan meninggal pukul 00.30 WIB, Sabtu 20 Oktober 2018 sertelah beberapa kali disuntik. Ayahanda Alfa Reza sempat mengamuk mengetahui anaknya yang sudah sempat membaik akhirnya meninggal.

Sekitar satu jam sebelumnya, Jumat 19 Oktober 2018, seorang pasien lainnya asal Aceh Jaya, Ajrul Amilin (15), juga mengembuskan napas terakhir setelah disuntik. Namun, jenazah Ajrul langsung dibawa pulang oleh orangtuanya.

Dikatakan Rona, berdasarkan kronologi dan fakta-fakta yang terungkap, seharusnya banyak pihak yang bertanggung jawab pada kasus itu. Karena dalam peristiwa itu, kata Rona, yang bertugas menangani pasien ada dokter, kepala ruangan, pejabat berwenang, bahkan manajemen RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh. “Keluarga dari kedua tersangka kini hanya bisa menangis. Mereka keluarga miskin. Harusnya rumah sakit tidak boleh lepas tangan seolah-olah hanya kedua honorer itu saja yang terlibat,” tandas Rona.

Siap jadi saksi
Ketua DPRK Aceh Barat, Ramli SE menyatakan dalam kasus ini yang ikut bertanggungjawab adalah manajemen rumah sakit. Bahkan, kata Ramli, tim DPRK sudah pernah turun ke RSUD Cut Nyak Dhien dan juga memanggil pihak manajemen rumah sakit pada wal kasus itu mencuat.

“Ketika tim DPRK turun ke RSUD Cut Nyak Dhien pada malam itu, yang bertugas di ruang itu semuanya tenaga honorer, tak ada satu pun PNS di ruang itu,” kata Ramli menjawab Serambi, Minggu kemarin.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved