Opini

Dinamika ‘Ureung Aceh’

KARAKTER gampong di Aceh terletak pada generasi pertamanya yang merupakan sebuah keluarga besar

Dinamika ‘Ureung Aceh’
SERAMBINEWS.COM/SENI HENDRI
Salah satu warung kopi di Idi Rayeuk, Aceh Timur, 

Sebaliknya, pertukaran di keudee memberikan kontribusi yang besar bagi berdirinya fondasi ekonomi rumah tangga yang kuat lagi halal. Fondasi ekonomi tersebut bagi ureung Aceh akan menghindarkan anggota keluarga dari kekufuran. Lalu, komitmen moral yang kuat, yang ditopang oleh otoritas moral teungku meunasah, maka masyarakat dapat mengontrol kebijaksanaan ataupun segala tindakan peutua gampong.

Akan tetapi fonemena saat ini, tampaknya menegaskan adanya jurang pemisah yang tajam antara meunasah, keudee, dan kanto. Di mana keterlibatan individu dalam ritual keagamaan di meunasah tak ada kaitannya dengan perilaku individu dalam berinteraksi di keudee, dan kanto, demikian pula sebaliknya. Apalagi dinamika ritual di meunasah semakin merosot, baik kualitatif (kesakralan ritual) maupun kuantitatif (frekuensi ritual).

Sementara keudee semakin berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan memperkuruh atmosfer kehidupan bahwa uang adalah sangat berarti. Akibatnya, muncul sebuah pameo dalam kehidupan ureung Aceh, hana peng hana inong (tidak ada uang tidak ada perempuan). Lalu kanto berubah menjadi kekuatan politik yang mampu mempengaruhi atmosfir kehidupan di gampong, baik karena peutua gampong telah menjadi perpanjangan tangan birokrasi maupun karena “mitos” bahwa hidup ini hanya berkelanjutan dan keturunan akan terpelihara bila ada kekuasaan di tangan. Singkatnya, interaksi sosial didominasi oleh hal-hal yang bersifat duniawi.

Ketiga dimensi kehidupan tersebut saling bergulat untuk menarik setiap individu ke arah kutubnya. Masing-masing individu pun dapat memilih: Apakah ia ingin memiliki kepribadian yang dibentuk oleh meunasah, sehingga ia menjadi religius; atau dibentuk oleh keudee, sehingga berorientasi ekonomis; ataupun oleh kanto, sehingga hidupnya selalu berorientasikan pada kekuasaan?

Karenanya individu dihadapkan dengan sejumlah pilihan jalan hidup yang seakan-akan pilihan itu tidak memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Namun ketika satu pilihan ditetapkan, ternyata muncul pilihan dilematis, sehingga individu itu memberlakukan standar etik ganda (dualitas). Pada satu waktu ia terlibat dalam ritual-ritual keagamaan di meunasah, bahkan menjadi aktornya (sebagai juru khutbah misalnya), dan pada waktu lainnya ia adalah seorang aktor di keudee atau di kanto yang terkadang tindak-tanduknya cenderung menyimpang dari apa yang dikhutbahkannya sendiri.

Permasalahannya adalah jika keudee bisa berkembang menjadi pasar dan peutua menjadi bagian dari jaringan birokrasi yang sangat politis, maka meunasah cenderung stagnan. Meunasah tak berkembang menjadi masjid, tapi juga belum sepenuhnya disfungsional seperti balee. Hal ini merupakan sebuah bentuk transformasi sosial yang mendasar yang berlangsung di gampong.

Di mana gampong telah berubah sehingga mempengaruhi solidaritas sosial masyarakatnya. Komitmen pada moral semakin lemah, digantikan komitmen pada kepentingan-kepentingan yang lebih duniawi. Semakin terciptanya jarak antardimensi kehidupan masyarakat; meunasah, keudee, dan kanto. Di satu pihak, komitmen moral yang ditempa di meunasah semakin mencair, dan di lain pihak komitmen ekonomis yang dibentuk oleh keudee, dan komitmen politis yang dipaksakan oleh kanto semakin kuat.

Akhirnya, lembaga gampong seperti meunasah sebagai sentral kehidupan sosial masyarakat telah tereduksi perannya. Akibatnya, komitmen moral mencair, sehingga masing-masing individu cenderung berjuang untuk mencari selamatnya sendiri-sendiri (droe ingat keudroe). Gampong telah menjadi ibarat keluarga yang retak dengan masyarakat yang terpecah, di mana sebelah kakinya berada di meunasah dan sebelah kaki lainnya berada di keudee atau kanto.

Di penghujung tulisan ini, ada satu pepatah; donya ka akhe, taduk bak meunasah han malem le, tahareukat i keude han kaya, tajak u kanto tan kuasa le (dunia hampir kiamat, duduk di meunasah tidak akan alim, meniaga di pasar tidak akan kaya, dan duduk di kantor tak ada kuasa lagi). Nyan ban hai rakan. Wallahu a‘lam.

* Dr. H. Munawar A. Djalil, M.A., PNS di lingkungan Pemerintah Aceh dan pemerhati masalah sosial kemasyarakatan, tinggal di Gampong Ateuk Jawo, Banda Aceh. Email: agampatra@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved