Jantho Miliki Taman Safari

Kabupaten Aceh Besar memang kaya akan objek wisata, baik di laut maupun alam (gunung)

Jantho Miliki Taman Safari
SERAMBI/M ANSHAR
BURUNG Unta (Common Ostrich) koleksi Taman Gurun Putih Lestari (GPL) di Jantho, Aceh Besar, Sabtu (19/1). Burung terbesar di dunia asal Afrika dengan tinggi 210 cm dan berbobot hingga 156 kilogram ini dipersiapkan untuk pembukaan taman safari dalam waktu dekat. 

* Koleksi Ratusan Satwa

JANTHO - Kabupaten Aceh Besar memang kaya akan objek wisata, baik di laut maupun alam (gunung). Kini ada juga objek wisata baru yang berada di jalan utama Jantho-Lamno, tepatnya di Gampong Cucum, Jantho. Yaitu Taman Safari Gunung Putih Lestari (GPL).

Taman safari pertama yang ada di Aceh ini milik pribadi Tgk Abdul Hafidh Al Fairusy Al Baghdadi atau akrab disapa Cut Fit Tanoh Abee, anak kandung almarhum Abu Tanoh Abee, selaku pemilik Yayasan GPL. Ia juga keturunan terakhir pembawa ajaran Islam pertama ke Indonesia, khususnya di Aceh dan keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW.

Di taman safari ini, Cut Fit mengoleksi ratusan spesies burung dan mamalia. Bisa dikatakan, taman margasatwa ini sudah bertaraf internasional dan menjadi ikon Aceh. Selain mengoleksi satwa yang berasal dari dalam negeri, Cut Fit juga mendatangkan hewan dari luar negeri, bahkan sebagiannya sudah jinak.

Di antaranya burung besar yang tidak bisa terbang seperti burung unta (Timur Tengah), burung rhea (Amerika Selatan), burung emu (Australia), dan kasuari (Papua). Ada juga burung merak, rusa, kambing batu, domba merino, dan satwa lainya.

Saat ini Cut Fit juga sedang mendatangkan hewan-hewan yang hidup di Benua Amerika dan Afrika. Seperti unta, alpaka yaitu binatang menyusui yang berasal dari Amerika Selatan, dan llama yang juga asli Amerika Selatan.

Kebun binatang yang memiliki luas 60 hektare itu juga dikemas dengan balutan taman bunga yang indah. Di sana juga ada cafe dan pondok-pondok kecil sebagai tempat istirahat. Di lokasi itu juga akan dibangun kolam pemandian (waterboom).

Menurut Cut Fit, kebun binatang miliknya itu berbeda dengan kebun binatang pada umumnya. Taman safari ini berkonsep syariat Islam dan menjadi tujuan wisata keluarga, sekaligus tempat riset bagi mahasiswa atau peneliti. “Karena berkonsep syariat Islam, pengunjung yang datang tidak boleh nonmuhrim. Bagi yang nonmuslim juga harus mematuhi adat lokal,” katanya kepada Serambi, saat melihat langsung kebun safari itu, Kamis (17/1).

Cut Fit menambahkan, kebun binatang itu direncanakan akan dibuka secara resmi pada bulan Rajab 1440 Hijriah atau sekitar bulan Maret 2019. “Saat ini sedang melakukan proses finishing,” ujarnya didampingi Manajer dan Pengawas Kebun Binatang GPL, Munawar.

Cut Fit juga menyampaikan, kebun binatangnya itu dibangun sejak 2013 silam. Hingga sekarang, Cut Fit telah menggelontorkan dana pribadi sebesar Rp 28 miliar yang diperoleh dari hasil peternakan lembu dan kerbau serta sedekah dari menolong orang yang membutuhkan pertolongannya.

Kebun binatang itu dibangun tidak terlepas dari rasa sayang dan cinta Cut Fit kepada satwa. Itu juga menjadi cita-citanya sejak kecil. Sebelum membangun taman safari itu, ia telah memiliki kebun binatang mini di rumahnya. Tujuan dari membangun kebun binatang untuk melestarikan dan menyelamatkan satwa langka dari kepunahan.

Sejak dibangun hingga kini, kata Cut Fit, keberadaan kebun binatangnya minim perhatian pemerintah baik Pemerintah Aceh maupun Pemkab Aceh Besar. Di sisi lain, Cut Fit juga berharap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bisa memfasilitasi pihaknya dalam mendatangkan binatang dari luar Aceh untuk dilestarikan di kebun binatangnya.

“Saya berharap BKSDA bisa membantu memfasilitasi dalam penerbitan izin saat kami mendatangkan binatang dari luar Aceh untuk di konservasi (dilindungi dan dilestarikan) di kebun binatang saya,” kata pria yang gemar bersosial dan saat ini merawat 150 anak-anak dalam rehabilitasi narkoba di rumahnya.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved