Opini

Menakar Sosok Ideal Sekda Aceh

MASYARAKAT Aceh saat ini sedang mengharapkan adanya perubahan sebagai satu unsur penting berkaitan dengan peran

Menakar Sosok Ideal Sekda Aceh
DOK. SERAMBINEWS.COM
Tiga calon sekda Aceh, (dari kiri) Taqwallah, M Jafar, dan Kamaruddin Andalah. 

Oleh Taufiq Abdul Rahim

MASYARAKAT Aceh saat ini sedang mengharapkan adanya perubahan sebagai satu unsur penting berkaitan dengan peran pemerintah yang mampu dan ikut mendorong aktivitas masyarakat dan pembangunan. Satu hal yang saat ini menarik disimak dan diperhatikan adalah menyangkut sosok Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh yang baru, yang saat ini sedang dalam proses.

Tiga nama telah diserahkan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah kepada Presiden RI, yaitu Kamaruddin Andalah S.Sos M.Si, Dr Jafar SH M.Hum, dan dr Taqwallah M.Kes. Ini sejalan dengan Perpres No.58 Tahun 2009 sebagai sosok yang telah menguat dan hasil seleksi Badan Pertimbangan Jabatan dan Pangkat (Baperjakat).

Dalam penentuan pamong pemerintah yang akan membantu mempercepat pembangunan di Aceh, sesungguhnya jika mengacu dengan Pergub No.17 Tahun 2016, maka tugas seorang sekda adalah membantu gubernur dengan menjalankan dua fungsi, yaitu penyusunan kebijakan dan pengoordinasian administratif tugas-tugas perangkat Aceh dalam bidang pemerintahan. Ini semestinya yang harus berjalan dengan baik dalam rangka menciptakan kondisi kehidupan Aceh dengan prinsip good and cleance governance.

Bercorak simbolis
Oleh karena itu, jelas bahwa peran-peran sekda Aceh selama ini sangat bercorak simbolis-administratif-arsiparis: Menjadi inspektur upacara, berpidato, membuka rapat, menandatangani surat/dokumen, mewakili gubernur, menerima tamu daerah, menyurati dan memberi instruksi kepada para kepala SKPA. Jadi sangat normatif, berjarak, dan melangit, dominan peran-peran di atas meja, tidak operasional sampai menyentuh semua lapisan dan lini kerja-kerja birokrasi.

Kemudian berkaitan dengan fungsi memberi arahan, mengelola dan mengendalikan sebagai pimpinan tertinggi birokrasi, dalam memastikan terwujudnya reformasi birokrasi, efektif dan efesien, ini dipertanyakan dan masih tidak maksimal. Contoh dalam posisinya sebagai Ketua Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA). Sudah menjadi rahasia umum bahwa perencanaan pembangunan Aceh selama ini sangat lemah. Indikasinya, banyak kucuran anggaran pembangunan yang tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat Aceh.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, penduduk Aceh tetap saja miskin (15,68%) dan pengangguran (6,36%), sehingga Aceh tetap saja tertinggal dibanding daerah lain dari segi pembangunan dan produktivitas ekonominya. Kemudian juga dalam posisinya sebagai pembina tertinggi birokrasi, itu juga tidak jelas jika masih memainkan peran-peran secara konvensional dan jauh dari apa yang disebut reformasi birokrasi.

Sebenarnya, banyak sekali problem berlaku dalam lingkup birokrasi Pemerintah Aceh yang diketahui publik, mulai dari sekadar menjadi penampung tenaga kerja kontrak yang kemudian menjadi masalah dan menimbulkan polemik dalam lingkungan kerja pemerintah, juga proses mutasi yang “berselemak” korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), hingga kasus-kasus dugaan korupsi yang selama ini menjadi sorotan kuat ke Aceh.

Selama ini, selalu kepala SKPA yang menjadi sasaran kritik publik, sementara kita lupa bertanya, di mana posisi sekda dalam ragam persoalan ini; apa kontribusi dan fungsinya? Apa yang dilakukan oleh sekda Aceh selama ini dalam posisinya sebagai pembina tertinggi birokrasi dan selaku atasan kepala SKPA?

Dengan melihat kondisi pembangunan Aceh yang masih jauh dari harapan dan tertinggal dari daerah lain. Maka bukan saatnya lagi kontribusi sekda Aceh berkutat sebatas hanya pada peran-peran konvensional seperti selama ini. Sekda Aceh kali ini harus betul-betul antitesa dari para Sekda Aceh sebelumnya yang hanya melaksanakan tugas dan fungsi sebagai pembantu Gubernur Aceh, tanpa berani berbuat dan bertidak sesuai dengan amanah UU serta melakukan perubahan kinerja dalam konteks kehidupan birokrasi yang lebih baik.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved