Citizen Reporter

Mahalnya Musim Dingin di Tiongkok

DUA tahun sudah saya menetap di Tiongkok. Kali ini merupakan kali kedua saya merasakan musim dingin di negara

Mahalnya Musim Dingin di Tiongkok
IST
MUHAMMAD SAHUDDIN

OLEH MUHAMMAD SAHUDDIN, M.Ed, Guru SMPLB N Susoh, Aceh Barat Daya dan Mahasiswa Program Doktoral Nanjing Normal University, melaporkan dari Nanjing, Tiongkok

DUA tahun sudah saya menetap di Tiongkok. Kali ini merupakan kali kedua saya merasakan musim dingin di negara yang memiliki empat musim ini. Selaku mahasiswa asing yang berasal dari negeri beriklim tropis tentu saya tidak punya bekal perlengkapan yang cukup untuk menghadapi musim dingin (winter) saat datang ke sini.

Nah, ketika menjelang winter di sini saya harus mempersiapkan kebutuhan sehari-hari khas musim dingin, seperti jaket, sepatu penahan dingin, sarung tangan, selimut tebal, juga pakaian lainnya yang harganya tentu saja lebih mahal ketimbang pakaian biasa.

Persiapan tersebut untuk membantu kita agar tetap nyaman dalam beraktivitas sehari-hari pada musim dingin. Terutama karena, pada musim dingin proses perkuliahan tetap saja berjalan seperti biasanya, begitu pula aktivitas perkantoran bagi pekerja.

Ketika saya tanya kepada beberapa warga di sini tidak sedikit yang menjawab bahwa mereka sebetulnya tidak menyukai musim dingin. Alasannya, kondisinya sangat dingin dan juga ke mana-mana harus munggunakan pakaian tebal.

Selain itu, tagihan listrik juga jadi mahal walaupun pada hakikatnya mereka harus menerima kondisi cuaca di negaranya yang ditakdirkan Tuhan memiliki empat musim. Namun, untuk membuat tagihan listrik tidak membengkak maka masyarakat rata-rata rela mengenakan pakaian berlapis-lapis untuk menahan dingin. Ini salah satu kiat untuk berhemat.

Saat winter tiba, hmpir tiap hari masyarakat di sini menggunakan penghangat ruangan (heater) untuk mengusir hawa dingin. Banyak juga rumah tangga yang menggunakan AC panas, kipas angin panas, mesin pemanas air, dan peralatan lainnya. Di Tiongkok rata-rata AC memiliki dua fungsi, yakni satu untuk hawa dingin, satu lagi untuk hawa panas. Jika digunakan setiap hari otomatis akan membuat tagihan listrik membengkak. Sebagai contoh, biasanya setiap bulan pembayaran tagihan listrik di kamar kos saya hanya 60 yuan atau sekitar Rp 130.000. Tapi pada musim dingin saya harus membayar tagihan listrik hampir 400 yuan per bulan bahkan lebih atau sekitar Rp 900.000 per bulan. Itu baru untuk penggunaan satu kamar dan hanya untuk listrik saja, belum termasuk rekening air bersih. Bayangkan berapa pengeluaran keluarga yang rumahnya berukuran sedang bahkan besar.

Untungnya musim dingin kali ini yang dimulai sejak Desember 2018 tidak seekstrem dibanding tahun 2017. Kala itu suhu udaranya bahkan minus -10 ºC sampai -15 ºC di wilayah Nanjing, sedangkan di wilayah Beijing hampir minus -20 ºC sampai -25 ºC. Tahun ini wilayah Nanjing memiliki suhu terendah berkisar minus -8 ºC.

Walaupun musim dingin terasa mahal, tapi terbayar semua ketika salju turun. Inilah saat-saat romantis dan syahdu, yakni saat semua masyarakat di sini tidak menyia-nyiakan momen indah turunnya salju. Mereka berbondong-bondong ke luar rumah walau cuaca sangat dingin untuk bermain salju, mulai dari main salju di alam terbuka sampai bermain sky di atas salju. Tidak terkecuali bagi orang-orang yang datang dari negara yang tidak mengenal musim dingin, mereka pun tidak menyia-nyiakan momentum khas winter ini walaupun dengan harus menahan dingin.

Sisi lain yang khas saat musim dingin di sini adalah ramainya pekerja yang menawarkan jasa online antar jemput. Soalnya, karena cuaca dingin, orang enggan ke luar rumah. Cara praktis berbelanja, terutama memesan makanan siap santap adalah melalui jasa gofood. Semua makanan yang kita order diantar sampai ke pintu rumah. Namun, harganya sedikit mahal karena mencakup jasa pengantaran.

Di Tiongkok yang kemajuan teknologinya sangat pesat, mereka banyak menciptakan pelayanan berbasis teknologi online (daring). Mulai dari swalayan tanpa pelayan yang harga barangnya dapat dipindai menggunakan teknologi handphone, yakni hanya dengan melakukan scan kode QR saja.

Untuk media transaksi pembayaran, masyarakat di sini rata-rata menggunakan Alipay dan Wechat dengan uang elektronik tanpa uang cash. Jadi, di Tiongkok aplikasi Wechat tidak hanyak sebagai media komunikasi, tetapi juga sebagai media transaksi bagi masyarakat yang sudah terintegrasi dengan baik untuk memudahkan orang yang berbelanja. Di Indonesia pun tak kalah, berbagai aplikasi e-money dan e-pay atau e-payment juga sudah semakin meluas penggunaannya. Zaman memang semakin canggih. Pemenuhan kebutuhan hidup semakin dimudahkan, semakin dimanjakan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved