Kecam Campur Tangan AS dalam Krisis Politik Venezuela, China tetap Dukung Maduro

Pemeritah Amerika Serikat tidak mengakui Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai pemerintah yang sah.

Kecam Campur Tangan AS dalam Krisis Politik Venezuela, China tetap Dukung Maduro
AFP/Marcelo Garcia
Foto yang dirilis pada Jumat (14/9/2018) menunjukkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kanan) dan Presiden China Xi Jinping berjalan pada upacara penyambutan di Beijing, China. 

SERAMBINEWS.COM, BEIJING -- Pemerintah Amerika Serikat tidak mengakui Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai pemerintah yang sah.

Presiden AS Donald Trump bahkan memihak kepada pemimpin oposisi Maduro, Juan Guaido, sebagai presiden sementara Venezuela.

Selain AS, Brasil, Kolombia, Chile, Peru, dan Argentina juga memihak pada Guaido. Sementara Uni Eropa menyerukan pemilu bebas untuk memulihkan demokrasi.

Intervensi "Negeri Paman Sam" dan sejumlah negara Amerika Selatan terhadap perpolitikan di Venezuela memancing kecaman dari China.

Seperti diketahui, China merupakan kreditur utama bagi Venezuela. Maduro bahkan berkunjung ke negara itu pada September lalu.

Baca: Disebut Perampas Kekuasaan, Parlemen Venezuela Ajak Militer & Pejabat Sipil Lawan Presiden Maduro

Di sana, dia menyepakati perjanjian di bidang energi dan pertambangan emas, sekaligus mencari dukungan dari Beijing untuk membantu negaranya yang dilanda krisis.

"China secara konsisten menyerukan prinsip tidak mencampuri politik internal negara lain," ucap jutu bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying, seperti diwartakan AFP, Kamis (24/1/2019).

Baca: Venezuela akan Sumbang Rp151 Miliar untuk Korban Gempa Palu

"China menentang campur tangan dalam negeri Venezuela oleh pihak eksternal," imbuhnya.

Hua menyatakan, pemerintah China meminta semua pihak tetap rasional dan tenang untuk mencari resolusi politik untuk masalah Venezuela melalui pembicaraan damai.

"Kami mendukung upaya yang dilakukan oleh pemerintah Venezuela untuk mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, dan stabilitas negara itu," ucapnya.

Baca: Kehabisan Kertas, Surat Kabar Terkenal Venezuela Berhenti Cetak

Setelah Trump mengakui Guaido sebagai pemimpin sementara negara itu, Maduro memutus hubungan diplomatik dengan AS.

Dia juga memerintahkan diplomat AS untuk keluar dari Venezuela dalam waktu 72 jam. Sebagai informasi, Maduro terpilih kembali menjadi presiden Venezuela dalam pemilu Mei 2018.

Namun, pemilu tersebut diboikot oleh mayoritas oposisi dan dianggap penuh kecurangan oleh AS, Uni Eropa, dan Organisasi Negara Amerika (OAS).

Maduro baru dilantik melanjutkan jabatannya sebagai presiden pada 10 Januari 2019. (*)

Editor: Yusmadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved