Pengacara Ajukan Penangguhan Penahanan

Pengacara dari RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, Aceh Barat, Agus Herliza SH yang mendampingi dua tenaga medis honorer

Pengacara Ajukan Penangguhan Penahanan
SERAMBI/RIZWAN
MASSA dari perawat, bidan, dan dokter di RSUD Cut Nyak Dhien, Meulaboh, Aceh Barat melancarkan demo antara lain meminta dua honorer yang ditahan polisi dibebaskan, Senin (21/1). 

* Tersangka Kasus Kematian Pasien Usai Disuntik

* LBH Minta Diusut Tuntas

MEULABOH - Pengacara dari RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, Aceh Barat, Agus Herliza SH yang mendampingi dua tenaga medis honorer yakni Erwanty (29) dan Desri Amelia (24), yang telah ditetapkan tersangka sebagai tersangka dalam kasus kematian pasien usai disuntik di rumah sakit tersebut mengaku, pihaknya telah mengajukan permohonan penangguhan penahanan terhadap dua kliennya itu pada Senin (21/1).

Namun, jelas Agus, hingga Rabu (23/1) sore, Polres Aceh Barat belum mengabulkan penangguhan penahanan kedua tersangka tersebut. “Permohonan sudah kita masukkan pada Senin lalu. Masih menunggu hingga Jumat (25/1) ini,” kata Agus.

Agus mengharapkan, permohonan penangguhan penahanan Erwandy dan Desri Amelia bisa diterima Polres Aceh Barat agar kedua tersangka dapat kembali bertemu dengan keluarganya. Sebab, keduanya sudah hampir sepekan, berpisah dengan keluarga masing-masing usai mendekam di tahanan Polres setempat. “Dalam surat pengajuan permohonan penangguhan penahanan terhadap keduanya ini, mereka dijamin oleh keluarga masing-masing,” tukasnya.

Di sisi lain, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh Pos Meulaboh memberikan apresiasi atas kinerja Polres Aceh Barat yang telah melakukan proses penegakan hukum terhadap kasus kematian pasien usai disuntik di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh. LBH mendesak, pihak berwajib mengusut tuntas kasus tersebut sehingga terkuak siapa saja yang bertanggung jawab dalam kemarian Alfa Reza (11).

“Kita minta pihak kepolisian agar terus melakukan pengembangan penyidikan untuk mengusut secara tuntas siapa saja pihak yang juga seharusnya ikut bertanggung jawab atas kasus yang menimpa Alfa Reza (11),” tukas Koordinator LBH Banda Aceh Pos Meulaboh, Fela Angreni SH dalam keterangan pers kepada wartawan, Rabu (23/1).

Fela menekankan, pengusutan tidak boleh terhenti pada dua honorer dari RSUD Cut Nyak Dhien yang kini menjadi tersangka. “Perkara ini pidana murni (delik biasa), bukan delik aduan, sehingga walaupun adanya perdamaian di antara kedua belah pihak, tidak dapat menghentikan proses hukum. Artinya, penegakan hukum tetap harus dilanjutkan,” tegasnya.

LBH menilai, penetapan dua honorer sebagai tersangka belum sepenuhnya mngungkap kasus tersebut. “Ada beberapa fakta yang belum terungkap yaitu siapa sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap pasien pada malam kejadian. Karena tidak mungkin petugas medis honorer punya tanggung jawab penuh terhadap penanganan pasien yang dirawat. Seharusnya, yang lebih bertanggung jawab pada saat itu adalah petugas medis yang terkait di rumah sakit itu. Dua tersangka yang telah ditetapkan hanyalah sebagai pegawai honorer yang sifat perbantuan,” jelasnya.

Fela menyatakan, manajemen RSUD Cut Nyak Dhien harus ikut bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit daerah itu. Ini sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 46 Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved