Opini

Jahiliah Era 4.0

KONON titik awal Revolusi Industri 1.0 (one poin zero) dimulai pada abad ke-18. Era 1.0 ditandai dengan ditemukan

Jahiliah Era 4.0
IST
Mahasiswa Aceh menggelar aksi "Gerakan Menutup Aurat" di jalan depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh 

Oleh Adnan

KONON titik awal Revolusi Industri 1.0 (one poin zero) dimulai pada abad ke-18. Era 1.0 ditandai dengan ditemukan sejumlah alat-alat mekanis sebagai perlengkapan kerja. Awalnya aktivitas kerja hanya tergantung pada energi manusia dan hewan. Tapi, masuknya era ini energi manusia dan hewan perlahan ditinggalkan dan bergeser dengan energi mesin. Lalu, pada abad ke-20 terjadi Revolusi Industri 2.0 (two poin zero) ditandai dengan munculnya produksi massal dalam dunia kerja.

Pada awal 1970 muncul Revolusi Industri 3.0 (three poin zero) ditandai dengan penggunaan elektronik dan dan teknologi guna otomatisasi produksi (Suwardi Lubis, 2019). Kini, masuk era Revolusi Industri 4.0 (four poin zero) ditandai dengan perkembangan dunia virtual berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data yang dikenal dengan istilah IoT (internet of things).

Perkembangan teknologi informasi telah berdampak pada perubahan (fluktuasi) sistem kehidupan manusia, baik aspek sosiologis, antropologis, psikologis, maupun agama. Secara sosiologis teknologi informasi telah merubah pola interaksi manusia dari tatap muka (face to face) menuju layar ke layar (screen to screen). Secara antropologis teknologi informasi telah menjadikan manusia laksana robot, di mana hidup hanya untuk kepentingan teknologi.

Secara psikologis teknologi informasi telah mewabah patologis sosial, semisal malas, ingin instan, minimnya intensitas pola interaksi secara tatap muka. Pun, secara agama teknologi informasi telah menambah medium baru dalam perkembangan dakwah. Tapi di sisi lain, aspek kejahiliahan manusia pun terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Sebab itu, jahiliah era 4.0 merupakan sebuah masa dimana perilaku manusia didukung oleh medium internet. Seseorang dengan mudah mengakses dan menemukan objek-objek kemaksiatan dan kerusakan (mafsadat) dalam internet. Internet yang seyogianya diperuntukkan untuk kegiatan positif, berubah menjadi negatif. Semisal, penipuan online, perjudian online, prostitusi online, dan berbagai objek destruktif dan amoral lainnya.

Padahal, harusnya perkembangan teknologi informasi dapat menjadi medium perbaikan dan pemajuan pengamalan keagamaan (spiritualitas, religiusitas) umat manusia. Sehingga dalam kondisi dan situasi apapun nilai-nilai Islam (islamic values) dapat diaplikasikan dalam kehidupan manusia. Karena, perkembangan teknologi informasi akan terasa “kering” dan hampa tanpa makna jika nihil dari nilai-nilai agama.

Bukan bodoh
Jahiliah merupakan satu terma yang digunakan pakar sejarah untuk menunjukkan kondisi sosio-kultural-politik bangsa Arab saat itu. Jahiliah sering diartikan dengan bodoh (jahala). Jadi jahiliyah merupakan sebuah masyarakat yang mewabah kebodohan. Maka masa ini dianggap sebagai masa kegelapan (dark age) bagi bangsa Arab saat itu.

Namun jika menilik sejumlah data historis secara holistik menunjukkan bahwa masyarakat jahiliah bukanlah orang-orang bodoh, buta huruf, dan ketinggalan zaman. Mereka adalah orang-orang pintar dan brilian, mampu membaca dan menulis, ahli syair, dan pakar bisnis. Mereka mampu membuat kantong-kantong perdagangan di Jazirah Arabiyah, semisal di Syam dan Taif. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang jahiliah bukanlah masyarakat ketinggalan zaman (kolot, kuno).

Bahkan, Alquran mengungkapkan bahwa masyarakat jahiliah merupakan masyarakat yang bertuhan (bukan ateis), mereka meyakini Allah Swt sebagai Tuhan. Sebagaimana firman Allah Swt, “Katakanlah: Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: Allah. Maka katakanlah: Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Yunus: 31).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved