Mahasiswa Demo Rumah Sakit

Puluhan mahasiswa keperawatan di Aceh Barat melancarkan aksi demo ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien

Mahasiswa Demo Rumah Sakit
SERAMBINEWS.COM/RIZWAN
Puluhan mahasiswa tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI) Aceh melancarkan demo di Kantor Bupati Aceh Barat, Kamis (24/1/2019). 

* Diminta Tanggung Jawab Kasus Kematian Pasien Usai Disuntik

MEULABOH - Puluhan mahasiswa keperawatan di Aceh Barat melancarkan aksi demo ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien (CND) Meulaboh dan kantor bupati setempat, Kamis (24/1). Aksi itu untuk menuntut pihak rumah sakit bertanggung jawab terhadap nasib dua tenaga honorer di RS itu yang kini menjadi tersangka dan ditahan dalam kasus kematian pasien usai disuntik.

Aksi demo ke RSUD Cut Nyak Dhien dilancarkan massa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Ilmu Keperawatan (ILMIKI) Aceh dengan membawa pengeras suara serta sejumlah poster. Demo ke RSUD, Kamis kemarin, merupakan yang kedua kalinya setelah aksi serupa dilakukan oleh honorer RSUD setempat pada Senin (21/1) lalu, dengan tuntutan meminta pelepasan dua tenaga medis honorer yang kini menjadi tersangka yakni, Erwanty (24) dan Desri Amelia (24).

Demo ke RSUD yang turut dihadiri orangtua dari kedua tenaga honorer itu diterima Kabid Keperawatan, Cut Hasan bersama sejumlah pejabat di rumah sakit setempat. Aksi unjuk rasa tersebut disaksikan raturan warga yang sedang berobat dan keluarga pasien di rumah sakit daerah itu. Secara bergantian, peserta aksi meneriakkan yel-yel rumah sakit harus bertanggung jawab terhadap dua tenaga medis honorer yang kini harus berurusan dengan hukum. “Rumah sakit tidak boleh lepas tangan dengan kasus yang menimpa kedua honorer yang kini ditahan polisi,” teriak Rona Julianda, Staf Sosial Masyarakat ILMIKI Aceh.

Rona Julianda dan Fadwan mengungkapkan, poin lain tuntutan mereka adalah meminta direktur RSUD Cut Nyak Dhien jangan ada upaya untuk menghambat penyidikan kasus itu. Pendemo juga menuntut, manajemen rumah sakit harus dibenahi, jangan mengucilkan tenaga kesehatan, dan harus mensejahterakan tenaga honorer, serta pemerintah wajib menempatkan tenaga kerja yang sesuai kompetensinya.

Menangapi peserta aksi, Kabid Keperawatan RSUD Cut Nyak Dhien, Cut Hasan mengungkapkan, respons terhadap apa yang menimpa kedua honorer itu, pihak rumah sakit sudah menyiapkan kuasa hukum serta pendampingan hukum. Terhadap sejumlah tuntutan lain, ucapnya, manajemen RSUD-CND akan menjadikannya sebagai masukan serta untuk pembenahan rumah sakit pemerintah tersebut. “Harapan kita, permohonan penangguhan yang sudah diajukan segera dikabulkan,” harapnya.

Setelah mengelar aksi yang berujung penandatanganan sebuah surat pernyataan oleh Kabid Keperawatan RSUD Cut Nyak Dhien, peserta aksi melanjutkan demonya ke Kantor Bupati Aceh Barat. Massa yang berseragam putih-putih itu berjalan kaki ke kantor bupati sambil meneriakkan yel-yel. Massa mendesak bupati harus peduli dan membenahi manajemen rumah sakit daerah.

Dua peserta aksi secara bergantian berorasi meminta Bupati Ramli MS harus membenahi rumah sakit. Massa juga meminta Bupati mensejahterakan tenaga kesehatan, dan harus terjun langsung mengatasi sejumlah persoalan yang terjadi di rumah sakit plat merah itu. “Bupati harus angkat bicara dan sampaikan langkah-langkah terhadap dua honorer RSUD yang kini harus mendekam di penjara,” tukas Rona dalam orasinya.

Setelah berorasi sekitar 1 jam, perwakilan massa diterima Asisten III Setdakab, Edi Juanda karena Bupati Ramli MS ada kegiatan di Dinas Lingkungan Hidup, dan Wakil Bupati menghadiri paripurna di DPRK. Pada kesempatan itu, Edi Juanda berjanji, tuntutan pendemo itu akan disampaikan kepada Bupati Ramli MS. Setelah itu, massa membubarkan diri dengan tertib.

Seperti diberitakan sebelumnya, Polres Aceh Barat pada Kamis (17/1) sore, resmi menahan dua tenaga honorer yang bertugas di RSUD Cut Nyak Dhien, Meulaboh dalam kasus meninggalnya pasien Alfa Reza (11), seusai disuntik. Kedua honorer yakni Erwanty (29) dan Desri Amelia (24), yang merupakan perawat piket pada malam peristiwa itu, ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka.

Sementara itu, Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa SIK, melalui Kasat Reskrim Iptu M Isral SIK mengakui, bahwa ada permohonan penangguhan penahanan terhadap kedua tersangka kasus kematian pasien usai disuntik di RS Cut Nyak Dhien yang diajukan pengacara. “Terhadap permohonan itu, tentu akan dipertimbangan. Itu hak tersangka. Kami masih menunggu pimpinan pulang ke Aceh Barat karena dinas di Banda Aceh untuk memastikan soal penangguhan itu,” kata Kasat Reskrim.

Menurutnya, kasus ini masih dalam pengusutan polisi dan sejauh ini masih dua orang dari honorer yang sudah menjadi tersangka. Terhadap apakah masih ada tersangka lain dalam kasus itu, ulas M Isral, hal tersebut masih dalam pemeriksaan penyidik. Sedangkan kedua tersangka hingga kini masih ditahan di Mapolres Aceh Barat.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved