Tafakur

Mengadili

Walaupun bukan orang (ahli) hukum, kita tidak boleh menutup mata dari upaya memantau dan mengeritisi penegakan

Mengadili

Oleh: Jarjani Usman

“Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah apabila seseorang terhormat di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya, (tetapi) jika seseorang yang lemah di antara mereka mencuri, mereka menegakkan hukum terhadapnya” (HR. Bukhari & Muslim).

Walaupun bukan orang (ahli) hukum, kita tidak boleh menutup mata dari upaya memantau dan mengeritisi penegakan hukum di negeri sendiri. Apalagi Islam sebagai agama kita sangat mementingkan proses penegakan hukum yang adil dalam masyarakat. Mengabaikan keadilan sama artinya mengabaikan bagian dari ajaran Islam. Lebih-lebih telah diingatkan agar tidak mengikuti perilaku buruk umat terdahulu dalam menegakkan hukum.

Perilaku buruk umat terdahulu adalah tebang pilih dalam menegakkan hukum. Ketika dijalankan, hukum bagaikan mata pisau yang tajam ke bawah (rakyat biasa), tetapi tumpul ke atas. Rakyat biasa dihukum, sedangkan terhadap orang-orang yang di kalangan pejabat, orang kaya, dan memiliki pengaruh, tidak. Perilaku tidak adil menghancurkan sendi-sendi kehidupan negeri.

Tentunya Islam tidak menginginkan kehancuran, yang diinginkan adalah perbaikan. Bahkan yang sudah rusak pun, perlu dibina dengan rasa optimis, meskipun harus berhadapan dengan berbagai tantangan dan tentangan keras. Menghadapi hal-hal demikian telah mewarnani perjuangan para nabi. Karena itu, mewarisi perjuangan Nabi di masa sekarang juga akan berhadapan dengan berbagai tantangan dan tentangan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved