Opini

Anak Kita ‘Stunting’?

HARI Gizi Nasional yang diperingati pada setiap 25 Januari, peringatan ke-59 pada 2019 ini mengambil tema “Membangun Gizi

Anak Kita ‘Stunting’?
TRIBUNNEWS.COM
stunting 

Oleh Aslinar

HARI Gizi Nasional yang diperingati pada setiap 25 Januari, peringatan ke-59 pada 2019 ini mengambil tema “Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi”. Gizi masih menjadi masalah bagi anak di Indonesia termasuk juga di Aceh. Saat ini sekitar 8 juta anak mengalami kondisi pertumbuhan yang tidak maksimal. Data masalah gizi balita yang secara umum menunjukkan terdapat peningkatan angka stunting.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat bila angkanya melebihi 20%. Berdasarkan data dari Kemenkes RI, yaitu Pemantauan Status Gizi, angka stunting pada 2015 yaitu 29%, 2016 yaitu 27,5%, dan 2017 sebanyak 29,6%.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) bahwa angka stunting pada anak balita, yaitu 30,8% dan pada baduta 29,9%, menunjukkan penurunan dibandingkan Riskesdas 2013 dengan angka stunting 37,2%.

Adapun proporsi status gizi sangat pendek dan pendek berdasarkan provinsi paling tinggi, yaitu di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencapai 42,6% dan terendah di DKI Jakarta sebesar 17,7%. Provinsi Aceh, angka stunting balita yaitu 37,3% dan pada baduta 37,9%. Meskipun tren stunting mengalami penurunan, hal ini masih berada di bawah rekomendasi WHO. Persentase stunting di Indonesia secara keseluruhan masih tergolong tinggi dan harus mendapat perhatian khusus.

Stunting merupakan suatu kondisi dimana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang lain pada umumnya (yang seusia). Penyebab stunting adalah kurangnya asupan gizi yang diterima oleh janin/bayi. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan nantinya akan tampak saat usia anak dua tahun. Stunting saat ini menjadi masalah serius di Indonesia.

Fase pertumbuhan
Nah, bagaimana seharusnya fase pertumbuhan dan akselerasi yang harus dilewati oleh seorang anak? Jadi masa pascanatal (setelah kelahiran) yang dimulai dari masa bayi (fase deselerasi), bayi itu mengalami pertumbuhan di mana kecepatannya yaitu 20-25 cm/tahun. Di mana didapatkan bahwa tinggi badan (TB) usia satu tahun = 1,5 x panjang badan (PB) lahir. Kecepatan pertumbuhan di tahun kedua adalah 10-13 cm/tahun.

Kemudian hingga usia tiga tahun disebut dengan lanjutan fase deselerasi, TB usia empat tahun sama dengan 2x PB saat lahir, sedangkan TB menjelang pubertas adalah 80-85% TB masa dewasa. Pada saat pubertas terjadi akselerasi pertumbuhan (growth spurt), terjadi akeselerasi pertumbuhan maksimal. Pada laki laki 11-12 cm/tahun dan perempuan 8-9 cm/tahun.

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek).

Stunting dapat kita ketahui saat seorang balita sudah ditimbang berat badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada di bawah normal. Jadi secara fisik balita akan lebih pendek dibandingkan balita seumurnya. Ukuran PB/TB tersebut kita tentukan dengan menggunakan kurva Z score WHO. Dikatakan pendek (stunted) bila PB/TB berada di bawah <-2 Z score, dan bila berada di bawaah <-3 Z score dikatakan sangat pendek (severely stunted).

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved