Salam

Janji Politik Sudah tidak Dipercaya

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengultimatum para kadernya yang maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) di Aceh

Janji Politik Sudah  tidak Dipercaya
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpidato di hadapan masyarakat Pusong Lama, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Jumat (25/1/2019). 

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengultimatum para kadernya yang maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) di Aceh agar tidak mengumbar banyak janji kepada masyarakat. Dia meminta kadernya lebih realistis, menyerap aspirasi, mendengarkan keluhan, dan merasakan apa yang dirasakan masyarakat di Aceh. “Tidak boleh banyak teori, jangan terlalu banyak berjanji, makin banyak berjanji makin sulit untuk ditepati, betul?” kata Presiden Republik Ke-6 Republik Indonesia itu.

SBY pada intinya mendukung penuh semua caleg yang bersungguh-sungguh maju ke parlemen dan berjuang untuk kepentingan rakyat di Aceh. Dia berharap, semua caleg jika nanti diberi mandat oleh rakyat agar bekerja maksimal untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat Aceh.

Para celeg diminta SBY untuk turun ke lapangan, mendengar langsung keluhan rakyat, merasakan apa yang dirasa dan yang dihadapi rakyat. Dia ingatkan agar hal yang demikian tidak hanya dilakukan menjelang pemilu, tapi selamanya diminta respek terhadap berbagai keluhan masyarakat.

Ya, di negara mana pun, politik dan janji adalah dua hal yang seolah tak bisa dipisahkan. Barjanji masih dianggap sebagai strategi paling efektif merangkul simpati masyarakat, terutama di ajang pemilu. Ada pengamat yang mengatakan, “Dalam perspektif demokrasi, politik tanpa janji tak patut disebut sebagai politik. Karena politik memang tidak pernah bebas dan ‘steril’ dari janji.”

Namun, bagi masyarakat, terutama menjelang pemilu seperti sekarang ini, janji-janji para caleg dan tim sukses para calon presiden sudah dianggap sebagai “bualan politik” sehingga banyak yang tak mau mempercayainya. Apalagi, belakangan ini banyak janji yang tak berkualitas, tidak logis, dan tidak demokratis.

Jadi benar seperti kata Pak SBY bahwa sekarang tak perlu lagi berjanji-janji, sebab selain tidak dipercaya lagi oleh masyarakat, janji-janji yang nantinya tak ditepati itu malah menjadi catatan “dosa” bagi mereka yang berjanji.

Memang, ada yang mengatakan, janji secara hirarkis sebetulnya memiliki derajat yang lebih rendah daripada kontrak politik. Namun setidak-tidaknya janji dapat dibaca dan dimaknai sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kontrak politik atau kontrak moral politik itu sendiri, sehingga sang penjanji akan merasa bersalah sendiri jika janjinya tak direalisasikannya, tanpa harus ditagih lebih dulu oleh pihak yang dijanjikan.

Justru itulah, supaya kita tidak terkibuli oleh janji manis para politisi, maka menyangkut Pemilu 2019, kita sebagai rakyat pemilih nantinya harus meningkatkan pengawasan terhadap kekuasaan eksekutif dan legislatif, karena kekuasaan itu cenderung menyeleweng, kan?

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved