Opini

Kampus dan Budaya Literasi

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi dimaknai dengan kemampuan menulis dan membaca

Kampus dan Budaya Literasi
SERAMBINEWS.COM/IST
Fahrur Razi dan Rani Salsabila Efendi sebagai Raja dan Ratu Baca Aceh Tahun 2018. 

Oleh Samsul Rizal

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi dimaknai dengan kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu, serta kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Sementara itu, secara harfiah, kata literasi dipahami sebagai penggunaan huruf untuk merepresentasikan bunyi atau kata. Jadi, secara umum, literasi terhubung dengan sistem transfer pengetahuan dan pemahaman melalui penggunaan tulisan. Ada juga yang menyimpulkan bahwa literasi adalah keberaksaraan, bisa membaca, bisa menulis, dan bisa berbicara di depan publik.

Apa pun deskripsi yang disematkan untuk kata “literasi”, yang pasti bahwa sebagian besar dari proses pendidikan, baik di level dasar menengah hingga ke perguruan tinggi, sangat bergantung pada kesadaran literasi. Perguruan tinggi dan juga semua instutusi pendidikan formal lainnya, merupakan kawah candradimuka untuk masalah literasi ini. Meskipun untuk sebagian peserta didik, termasuk mahasiswa, kata “literasi” masih terkesan kurang familiar, namun tanpa disadari selama menempuh pendidikan, mereka bergelut secara intens dengan berbagai informasi dalam bentuk buku serta sumber literasi lainnya.

Mahasiswa mungkin merupakan objek yang terpapar dengan budaya literasi secara relatif lebih signifikan. Keterpaparan ini terjadi karena diakui atau tidak, ada sedikit pemaksaan bagi para mahasiswa untuk menggeluti berbagai sumber literasi pada setiap mata kuliah yang mereka ikuti. Intensitas ini bahkan akan meningkat secara signifikan menjelang akhir-akhir masa studi, karena pada saat itu para mahasiswa diwajibkan untuk menyusun tugas akhir secara mandiri.

Ketika kedatangan Era Revolusi Industri 4.0 mulai disadari, idealnya kegiatan membaca, menulis, dan berbicara di depan publik akan lebih mendominasi. Ketersediaan Big Data pada era ini, harusnya tidak memberikan waktu luang bagi para mahasiswa untuk kegiatan apa pun yang terbebas dari literasi. Era revolusi industri 4.0 ini menyediakan sumber literasi yang sangat luas, sangat, banyak, dan sangat beragam. Oleh karena itu, mereka yang memiliki budaya literasi tingkat tinggi akan sangat termanjakan oleh kondisi pada saat ini.

Bukan barang baru
Budaya literasi harusnya bukan barang baru untuk insan kampus. Kegiatan membaca, menulis, dan mempresentasikan sesuatu adalah kegiatan sehari-hari di perguruan tinggi. Bahkan berbagai media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan berbagai media online lainnya, telah menjelma menjadi salah satu kebutuhan utama para mahasiswa, atau bahkan juga dosen mereka. Meskipun media sosial ini terkesan hanya menyalurkan hobbi saja, namun tanpa disadari, sesungguhnya mereka juga bergelut dengan kegiatan literasi.

Sayangnya, media sosial dan semacamnya ini relatif kurang terpercaya sebagai sumber literasi. Faktor uji kelayakan informasinya pun tidak selalu terproses dengan benar. Namun begitu, media sosial telah terlanjur menjadi salah satu sumber literasi utama masyarakat, tak terkecuali insan kampus. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh beberapa kalangan untuk menyebar informasi-informasi berisi kebohongan. Penyebaran berita bohong ini, bukan tanpa tujuan. Paling tidak, beberapa kalangan berencana membuat kebingungan dalam masyarakat melalui ketidakvalidan informasi yang tersedia. Secara tidak langsung, hal ini kemungkinan memberikan pengaruh negatif terhadap budaya literasi.

Secara umum, meskipun budaya literasi di kampus sudah cukup tinggi, namun jika diklasifikasikan secara lebih detail, maka sebagian besar mahasiswa dan juga insan kampus lainnya masih lebih sering terhubung dengan media online dan media sosial, ketimbang buku-buku referensi dan jurnal.

Orang Indonesia memang kurang terbiasa menghabiskan waktunya dengan buku atau referensi-referensi ilmiah. Menurut data dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku sebanyak tiga hingga empat kali dalam seminggu, dengan durasi waktu membaca per hari antara 30-60 menit. Jumlah buku yang berhasil ditamatkan dalam setahun hanya lima hingga sembilan buku.

Menurut survei yang dilakukan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), dan dirangkum dalam laporan Most Literred Nation in the World 2016, minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Peringkat 59 diisi oleh Thailand, dan peringkat 61 diisi oleh Botswana. Sementara itu, Findlandia menduduki peringkat pertama dengan tingkat literasi yang sangat tinggi.

Habituasi membaca
Ada banyak pembelajaran yang bisa dicatat dari negara Finlandia, sehingga negara ini menjadi yang teratas dalam hal literasi. Salah satu yang sangat dominan adalah proses pembiasaan (habituasi) membaca kepada para siswa sekolah dasar. Para siswa sekolah dasar ini tidak dituntut untuk langsung membaca buku-buku pelajaran yang notabene mungkin terlalu serius untuk mereka, namun dibiasakan dengan buku-buku cerita yang sesuai dengan usia mereka.

Proses ini bukan saja membantu para siswa sejak kecil untuk berbudaya literasi tinggi, akan tetapi juga membentuk pola pikir mereka sesuai dengan usia. Jika kebiasaan sejak kecil ini terus terjaga dengan sumber literasi yang selalu sesuai dengan usia, maka sama sekali tidak sulit untuk mereka meyesuaikan diri dengan kebutuhan literasi di saat mereka berada di perguruan tinggi, ataupun bahkan ketika mereka sudah bekerja.

Sebagai institusi perguruan tinggi, kampus harus memiliki komitmen yang kuat untuk memperkuat budaya literasi civitas akademikanya. Oleh karena itu, penguatan unit perpustakaan serta ketersediaan akses sumber literasi ilmiah menjadi sebuah keniscayaan. Universitas Syiah Kuala sejak lama telah berkomitmen untuk memperkuat unit perpustakaannya. Hal ini terbukti dengan munculnya UPT Perpustakaan Universitas Syiah Kuala sebagai salah satu yang terbaik serta menjadi rujukan perpustakaan perguruan tinggi lainnya di Indonesia. Pelayanan literasi UPT Perpustakaan Universitas Syiah Kuala bahkan telah diapresiasi dengan nilai akreditasi tertinggi serta beberapa sertifikasi.

Bagaimanapun, fasilitas perpustakaan serta akses luas terhadap sumber literasi, bukanlah jaminan bahwa budaya literasi akan tinggi di suatu kampus. Motivasi dan kesadaran civitas akademika akan literasi jauh lebih berpengaruh untuk menguatkan budaya literasi. Dan budaya literasi ini akan abadi jika semua kita menyadari bahwa kebutuhan literasi ini tak akan pernah berhenti, dan mereka yang berbudaya literasi tinggi tetap unggul di manapun mereka berada.

* Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: samsul_r@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved