Opini

Krisis Literasi dan ‘Tragedi Nol Buku’

INDONESIA mengalami krisis literasi. Data PISA (Program for International Student Assessment), Indonesia menduduki

Krisis Literasi dan ‘Tragedi Nol Buku’
KEPALA Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Dr Wildan MPd, menyerahkan sejumlah buku kepada penyair Rusia Victor Pogadaev, disaksikan penyair Malaysia, Zainon Ismail (kedua dari kiri). Kedua penyair itu tampil baca puisi di Panggung Literasi. 

Oleh Jon Darmawan

INDONESIA mengalami krisis literasi. Data PISA (Program for International Student Assessment), Indonesia menduduki peringkat 69 dari 76 negara pada 2015 berdasarkan skor membaca siswa. Statistik UNESCO pada 2012 menunjukkan bahwa indeks minat baca di Indonesia sekitar 0,001%. Artinya dalam setiap 1,000 orang, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Krisis literasi yang mendera Indonesia ini menyebabkan kualitas pendidikan belum menggembirakan.

Menurut UNESCO, literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, membuat, berkomunikasi, dan menghitung, menggunakan bahan cetak dan tertulis yang terkait dengan berbagai konteks. Literasi melibatkan kontinum pembelajaran yang memungkinkan individu mencapai tujuan mereka, untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi mereka, dan untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam komunitas mereka dan masyarakat luas.

Secara sederhana literasi dasar dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memahami serta menggunakan bentuk bahasa tertulis. Lebih sederhana lagi kita dapat mengartikan literasi dasar sebagai kemampuan membaca dan menulis. Khusus membaca memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan.

Roger Farr menegaskan bahwa membaca adalah jantungnya pendidikan. Tanpa membaca pendidikan akan ‘mati’.Membaca merupakan batu loncatan bagi keberhasilan di sekolah dan dalam kehidupan kelak dalam masyarakat. Tanpa kemampuan membaca yang layak, keberhasilan di sekolah lanjutan dan di perguruan tinggi adalah tidak mungkin. Pendapat Roger Farr tersebut semakin menjelaskan bahwa membaca sebagai bagian dari literasi merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan termasuk di sekolah. Oleh karena Gerakan Literasi Sekolah (GLS) harus dilaksanakan di setiap sekolah.

Sebelum bersentuhan dengan teknologi, siswa sebaiknya dikenalkan budaya membaca. Membaca pada dasarnya dapat membangun pengaruh positif. Pengaruh positif ini akan mampu membentuk karakter siswa. Membaca mampu melatih anak untuk berimajinasi. Hal ini akan mampu membuat siswa berpikir kreatif. Kemampuan siswa dalam berpikir kreatif sangat penting ditingkatkan sebagai satu kebutuhan kompetensi abad 21. Membaca juga mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, berpikir kolaboratif, dan komunikatif.

Tragedi nol buku
Apa dampak bagi suatu bangsa jika tidak memiliki budaya literasi? Pada 1997 Taufik Ismail melakukan penelitian ke SMA di 13 negara tentang kewajiban membaca buku, tersedianya buku wajib di perpustakaan sekolah, bimbingan menulis, dan pengajaran sastra di sekolah. Hasilnya Amerika Serikat menduduki peringkat pertama kewajiban membaca buku sastra bagi siswa SMA dengan 32 judul. Peringkat kedua Belanda dan Prancis dengan 30 buku.

Bagaimana dengan Indonesia? Sungguh sangat miris. Ternyata siswa SMA di Indonesia tidak memiliki kewajiban membaca buku sastra. Artinya, jumlah buku sastra yang wajib dibaca bagi siswa SMA Indonesia adalah nol buku. Peristiwa ini oleh Taufik Ismail dinamakan sebagai “tragedi nol buku”. Taufik Ismail menyimpulkan dalam risetnya bahwa siswa Indonesia tidak membaca dan tidak menulis, siswa Indonesia “rabun membaca” dan “pincang menulis”.

Tragedi nol buku tersebut harus diatasi secepat mungkin. Tragedi nol buku telah menyebabkan indeks literasi Indonesia berada dalam kondisi krisis. Pada 2000 prestasi literasi Indonesia berada pada peringkat 39 dari 41 negara menurut data PISA. Krisis literasi ini menyebabkan Indonesia menjadi pengirim buruh migran terbesar di dunia.

Buruh migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mencapai 6,5 juta jiwa atau lebih banyak dari jumlah penduduk Singapura yang hanya 5,3 juta jiwa. Indonesia mengirim TKI di 142 negara dunia sementara negara anggota PBB adalah 194 negara. Sekitar 70% TKI tersebut merupakan buruh perempuan dengan rata-rata lulusan SD, SMP, dan tertinggi adalah SMA atau sederajat. Bisa dibayangkan jenis pekerjaan yang mungkin diperoleh oleh TKI di negeri orang. Sungguh sangat miris akibat dari krisis literasi.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved